Merangkai Sampah Plastik, Membingkai Rupiah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANYUMAS – Pagi masih menyisakan dingin, saat Lir Prawono (19), sudah sibuk memilah sampah plastik. Ia mencari botol-botol minuman kemasan dan kemudian mulai memotong labelnya satu per satu. Setelah terkumpul cukup banyak, label tersebut dicuci dan dikeringkan.

Matanya tampak berbinar saat menemukan berbagai macam label botol minuman kemasan dengan tulisan warna-warni. Ia pun bergegas merapikan sampah plastik yang bertebaran milik ayahnya, setelah mendapatkan puluhan lembar label minuman kemasan.

“Sampah-sampah ini punya ayah saya, yang pekerjaannya memang tukang rongsok,” tutur Lir Prawono mengawali percakapan, Jumat (2/8/2019).

Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan membawa lembaran kertas gambar yang sudah dibuat sketsa lukisan dengan pensil. Dengan tekun, ia mulai memotong label botol minuman.

Beberapa kali ia sempat terdiam, memandangi sketsa lukisan, kemudian beralih memandangi tumpukan label botol minuman. Seolah sedang berpikir keras untuk menyatukan keduanya.

Lir Prawono baru menyelesaikan pendidikan di SMA PGRI Gumelar tahun 2018. Hobi menggambarnya yang sudah tumbuh sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) berlanjut hingga dewasa.

Biasanya ia hanya menggambar biasa di atas kertas. Namun, sudah sekitar dua minggu ini, ia mendapatkan ide untuk membuat lukisan dari barang-barang bekas.

“Ide untuk melukis dengan barang bekas ini muncul waktu saya sedang main di sungai, saya melihat tumpukan sampah botol-botol plastik di sepanjang aliran sungai dan itu sangat mengganggu pemandangan. Dengan niat awal ingin mengurangi sampah plastik, akhirnya saya tuangkan dalam lukisan,” kata anak bungsu dari pasangan Giarto (45) dan Warsem (44), warga RT 06 RW 09, Desa Gumelar, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas.

Dibutuhkan kejelian dalam merangkai potongan sampah lebel minuman kemasan ini, terutama untuk memunculkan karakter objek lukisan. Baik berupa wajah orang, maupun lukisan vespa, binatang dan lainnya.

“Proses yang lama adalah menentukan karakter lukisan yang mau ditonjolkan, kemudian disinkronkan dengan warna yang mewakili karakter tersebut. Jika sudah dapat, maka tinggal merangkai saja dengan menempel potongan label botol satu per satu,” kata Lir.

Baru dua minggu anak muda ini menekuni lukisan dari sampah plastik, namun pundi-pundi rupiah sudah di depan mata. Setelah iseng posting di media sosial, pesanan lukisan mulai berdatangan.

Pesanan pertama datang dari Guno Purtopo, pengusaha rumah makan sekaligus galeri lukisan di Purwokerto.

Hasil lukisan dari sampah plastik kini dipajang di Galeri Omah Maen milik Guno Purtopo yang berada di jalur wisata Baturaden, Jumat (2/8/2019). Foto: Hermiana E. Effendi

Guno mengaku sangat tertarik begitu melihat lukisan dari sampah plastik tersebut. Tak hanya memesan lukisan, ia pun langsung menawarkan untuk memajang lukisan karya Lir Prawono di Galeri Seni Omah Maen miliknya yang berlokasi di jalur menuju objek wisata Baturaden.

“Pertama ini karya anak Banyumas, sehingga menjadi kewajiban bagi kita untuk ikut membukakan jalan baginya. Kedua, bahan baku lukisan memanfaatkan sampah plastik dan ini sangat sejalan dengan misi Pemkab Banyumas yang sedang giat melakukan pengolahan sampah anorganik maupun organik,” jelas Guno.

Untuk pesanan perdana, Guno memesan lukisan wajah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Lukisan tersebut dikerjakan Lir Prawono dalam dua hari dan hasilnya sangat memuaskan.

Guno langsung mengunggah foto lukisan tersebut di media sosial dengan mengetag akun Ganjar Pranowo. Tak butuh waktu lama, gubernur yang terkenal tinggi kepekaan sosialnya ini langsung menghubungi Guno dan meminta untuk dipertemukan dengan Lir Prawono.

Lukisan dari sampah plastik label botol kemasan ini, ternyata disukai oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Jumat (2/8/2019). Foto: Hermiana E. Effendi

“Pak Ganjar sudah menghubungi, beliau minta untuk ketemu Lir Prawono nanti saat ada kesempatan ke Banyumas, semoga ini menjadi salah satu jalan untuk anak ini, supaya hasil karyanya dikenal lebih luas lagi,” harap Guno.

Untuk lukisan wajah gubernur Jateng ini, dengan ukuran 11 R dan lengkap pigura kayu, Lir Prawono memasang tarif Rp 250.000. Harga lukisan bervariasi, mulai dari Rp 250.000 hingga Rp 400.000, tergantung pada tingkat kesulitan dalam melukis.

Anak desa yang mengaku enggan kuliah karena tidak mau merepotkan orang tuanya yang hanya sebagai tukang rongsok ini, kini lebih percaya diri dalam melukis, setelah hasil lukisannya ternyata disukai oleh orang nomor satu di Jateng.

Ia pun bertekad untuk menekuni profesinya dengan serius. Siapa sangka sampah-sampah plastik yang teronggok di sungai, ternyata menjadi gerbang masa depan bagi Lir Prawono.

 

Lihat juga...