Maksi, Guru dari NTT yang Menjadi Pemakalah Bahasa Nasional
Editor: Mahadeva
LARANTUKA – Terpilih menjadi pemakalah nasional merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang guru di Nusa Tenggara Timur.
Hal tersebut yang dirasakan, Maksimus Masan Kian, seorang guru di SMPN1 Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Saya senang terpilih menjadi pemakalah pada kegiatan seminar dan lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik,” sebut Maksi saat ditemui Cendana News, Kamis (8/8/2018).
Dalam kegiatan yang dilaksanakan 5 sampai 8 Agustus 2019 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tersebut, Maksi menjadi satu-satunya wakil dari NTT. “Saya tidak menduga, karya tulis saya yang sangat sederhana itu, bisa terpilih dan menjadi satu dari tiga puluh pemakalah se-Indonesia yang terpilih. Tulisan yang saya kirim berjudul, Pengaruh Otonomi Daerah dan Otoritas Kepala Daerah Terhadap Bahasa Negara,” tambahnya.
Karya tulis yang dihasilkan Maksi, terinspirasi dari kritik atau protes perayaan Valentine Tenate, Kepala Kantor Bahasa NTT, terhadap Peraturan Gubernur (Pergub) NTT, tentang penggunaan bahasa Inggris setiap hari Rabu. “Proses penulisan karya ini, terbilang tidak efektif karena selain padatnya agenda kegiatan, dead line waktu pengiriman karya juga sangat singkat. Tulisan tersebut, baru saya rampungkan pada Minggu (14/7/2019) saat berada di bandara dalam penerbangan menuju Larantuka,” ujarnya.
Batas akhir pengiriman karya tulis adalah 15 Juli 2019. Namun dengan penuh keyakinan, bisa terpilih menjadi pemakalah, naskah yang disusun akhirnya dikirim. Baginya, kesempatan tersebut menjadi sebuah apresiasi yang diberikan oleh Lembaga Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra.
“Saya hanyalah seorang guru kampung yang terus untuk belajar dan mencari pengalaman. Bahwa, potensi dari daerah juga patut untuk diperhitungkan di kancah nasional,” ungkapnya.
Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang kabupaten Flores Timur tersebut mengatakan, 30 pemakalah yang diundang didominasi dari lembaga balai bahasa dan dosen universitas ternama di tanah air. Peserta kegiatannya 200 orang se-Indonesia, yang terpilih melalui seleksi tulisan esai tentang kebahasaan.
Peserta berasal dari kantor bahasa, universitas, badan pengembangan bahasa dan perbukuan, mahkamah agung, badan litbang diklat hukum, pengadilan agama, penerbit, komunitas literasi dan kalangan guru SMP dan SMA. Kegiatan Seminar dan Lokakarya tersebut, digelar untuk mewujudkan Bahasa Indonesia sebaga bahasa negara. Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang No.24/2009, tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.
Selain itu, pegiat literasi di Flores tersebut mengatakan, semiloka tersebut sebagai upaya untuk menertibkan dan mewujudkan semangat kebahasaan. Kegiatan dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra.
“Kegiatan ini juga membahas kondisi terkini terkait penggunaan bahasa di ruang publik, serta menjadikan TMII sebagai percontohan praktik baik pengutamaan bahasa negara dalam skala nasional dan internasional,” jelasnya.
(Baca: https://www.cendananews.com/2019/08/tmii-menjadi-kawasan-percontohan-pengutamaan-bahasa-negara.html).
Pembahasan itu untuk mengangkat permasalahan lanskap linguistik, penguatan pengawasan, dan penegakan hukum. Adapun pemateri utama yang hadir diantaranya, Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Inspektor Jenderal Kemendikbud dan Ombudsman RI.
Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, SH kepada Cendana News mengatakan, pemerintah memang sudah mendukung kegiatan Maksi dan kawan-kawannya melalui Agupena. “Pemerintah juga memberi ruang dan dukungan moril maupun materiil. Dan tentu ke depannya, ruang dan dukungan itu semakin meningkat,” sebutnya.
Pemerintah daerah disebutnya, sangat bangga dengan prestasi tersebut. Kehadirannya di tingkat nasional tidak hanya membawa nama Agupena, tapi juga ada nama besar Flores Timur dan NTT. “Inilah Literasi sesungguhnya. Maksimus tengah melakukan apa yang saya sebut Development Literacy atau Literasi Pembangunan. Maksi sedang membangun Flores Timur dengan karya nyatanya,membawa nama Flores Timur,” tuturnya.
Agus menyebut, apa yang kegiatan dari Maksi sebagai contagion revival of generation. Artinya, dengan tampilan Maksi di kancah nasional, tidak saja membangun Flores Timur tapi sekaligus penularan virus kebangkitan generasi Flores Timur. Maksi disebut Agus, sudah menjadi tiga agen yakni, agent of trust, agent of development dan agent of servis.