Sagonan, Permainan Petak Umpet Anak-Anak Sidoasih
Editor: Mahadeva
LAMPUNG – Setiap daerah di Indonesia memiliki permainan tradisional anak-anak, yang hingga kini masih dipertahankan.
Salah satu permainan yang masih lestari di pedesaan di Lampung Selatan salah satunya adalah sagonan. Meski namanya seperti makanan, permainan tersebut dimainkan memanfaatkan sandal atau alas kaki.
Ajeng, salah satu anak Desa Sidoasih, Kecamatan Ketapang, menyebut, permainan itu dimainkan anak-anak di desanya sejak lama. Sagonan pada awalnya dimainkan dengan balok kayu, bata atau benda sejenisnya yang disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai kue sagon.
Seiring perkembangan zaman, sagonan dimainkan dengan alat pengganti berupa sandal. Selain lebih seru, sagonan dengan sandal lebih praktis dan tidak membahayakan. Permainan sagonan menurut Ajeng, sejatinya adalah permainan petak umpet atau biasa disebut sekongan, atau delikan dalam bahasa Jawa.
“Karena kadang tidak boleh memakai batu bata untuk bermain oleh orangtua, atau tidak ada bola, maka alat yang dipakai sandal jepit atau selop, yang penting tetap bisa bermain sagonan,” ungkap siswa kelas VII salah satu SMP Negeri di Kecamatan Ketapang tersebut kepada Cendana News, Minggu (14/7/2019).

Permainan tradisional yang dimanfaatkan untuk mengisi libur sekolah atau waktu luang, dilakukan dengan menumpuk sandal seperti kue sagon di atas piring. Peserta kemudian melakukan suit atau gambreng, untuk menentukan urutan pelempar.
Melempar sandal terjauh sekira empat hingga lima meter dari titik sagon yang sudah dilingkari. Salah satu pelempar harus bisa merobohkan tumpukan sandal atau sagon. Saat pelempar pertama tidak berhasil menjatuhkan sendal, pelempar kedua melanjutkan.
Bagi pelempar di depannya yang menunggu giliran tapi tumpukan sagon roboh maka dihukum menunggu sagon. “Pelempar berikutnya harus menjaga sagon setelah bisa dijatuhkan lalu ditumpuk sementara kawan lain bersembunyi,” papar Ajeng.
Babak permainan petak umpet dimulai saat anak yang bertugas berjaga mulai berhitung, dan teman-temannya bersembunyi. Doni, salah satu anak yang kali ini mendapat giliran jaga sagon, langsung berlari mencari tempat persembunyian kawan-kawannya.
Terkadang teman yang bersembunyi tidak bisa ditemukan, tetapi berhasil merobohkan sagon yang dijaga. Hal itu membuat Doni harus kembali berjaga. Permainan petak umpet sagonan berakhir, saat semua kawan yang bersembunyi ditemukan.
Bagi Doni, Ajeng, Evi, Nana dan kawan-kawannya, permainan sagonan memiliki keseruan tersendiri. Meski saat ini banyak permainan digital, bagi anak-anak tersebut bersosialisasi melalui permainan sagonan tetap menjadi pilihan.