Harga Cabai Naik, Belum Beri Keuntungan Petani Lamsel
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Lampung Selatan (Lamsel) sudah terjadi sejak awal Juli 2019.
Harga cabai di pasaran yang pada bulan Juni hanya berkisar Rp35.000 per kilogram, naik menjadi Rp70.000 bahkan di sejumlah pasar lain mencapai Rp80.000.
Suminah, salah satu pedagang sayuran di pasar tradisional Pasuruan menyebut harga cabai masih bertahan tinggi.
Ia bahkan menyebut, sesuai dengan tren tahun sebelumnya, kenaikan komoditas pertanian akan terus naik jelang Idul Adha. Hari raya Idul Adha tahun sebelumnya sejumlah bumbu dapur, sayuran naik terutama cabai.
Permintaan yang tinggi sebelum bulan besar yang dipakai untuk hajatan bagi etnis tertentu mendongkrak permintaan. Harga komoditas pada level pedagang bahkan naik imbas tingginya permintaan.
Suminah menyebut selain faktor permintaan tinggi, kondisi cuaca membuat pasokan berkurang. Jenis sayuran diakuinya mengalami kenaikan berkisar Rp3.000 hingga maksimal Rp5.000.
Jenis sayuran tersebut d iantaranya terong, sawi, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis dan sayuran lain. Sementara cabai rawit naik dua kali lipat dibanding kondisi normal hingga Rp30.000 per kilogram bahkan lebih.
“Kondisi kenaikan harga sayuran, bumbu dapur jenis cabai merata karena saya berjualan di tiga pasar tradisional berbeda kecamatan. Semuanya naik terutama cabai merah, rawit,” ungkap Suminah saat ditemui Cendana News, Minggu (21/7/2019).
Kenaikan harga disebutnya berasal dari distributor yang memasok komoditas untuk dijual pengecer. Saat harga di level pedagang naik, ia memastikan harga di pengecer akan tinggi. Sebab faktor distribusi menjadi penyebab kenaikan harga komoditas.
Meski kondisi cuaca bagus untuk kelancaran distribusi, namun akan dimasukkan dalam operasional. Meski dijual dengan harga tinggi keuntungan yang diperoleh pengecer diakuinya masih tipis.

Hani, salah satu ibu rumah tangga menyebut kenaikan harga cabai merah sangat dirasakan. Sebab kenaikan harga komoditas bumbu, sayuran berbarengan dengan tahun ajaran baru sekolah.
Kebutuhan yang cukup banyak membuat ia harus pintar mengelola keuangan. Saat membeli bumbu jenis cabai merah dengan harga per kilogram Rp80.000 ia hanya membeli seperempat.
“Beli secukupnya saja sesuai dengan kebutuhan. Nanti beli jumlah banyak jelang Idul Adha, karena harga mahal dan kebutuhan banyak,” papar Hani.
Kenaikan harga cabai di pasaran membuat petani bergairah terutama saat kemarau. Meski demikian Tukijo, petani cabai jenis keriting merah mengaku, harga di level petani masih tetap.

Ia menyebut, saat ini harga cabai saat panen masih bertahan pada angka Rp30.000 per kilogram. Harga tersebut tidak sebanding dengan harga di pasaran yang diakuinya tinggi.
“Karena pengepul yang mengambil hasil panen saya bisanya menaikkan harga beli maksimal Rp45.000, tidak lebih,” papar Tukijo.
Tukijo menyebut meski belum mendapat keuntungan maksimal, ia masih menanam cabai. Pasokan air lancar membuat ia bisa menanam cabai tanpa kesulitan air.
Biaya operasional yang tinggi menurutnya membuat cabai idealnya mencapai harga Rp40.000. Karena ia harus mengeluarkan biaya untuk pupuk, obat dan biaya buruh tanam serta petik.
Harga cabai yang tinggi di pasaran diakuinya masih menguntungkan pengepul dan penjual, namun belum bagi petani seperti dirinya. Masa tanam bertahap diakuinya diprediksi bisa dipanen jelang Idul Adha.
Selain dijual ke pasar, permintaan cabai diakuinya banyak diminta oleh restoran dan sejumlah usaha kuliner. Hasil panen pada lahan setengah hektar mencapai 4 ton diakuinya membuat ia masih tetap bertahan sebagai petani cabai.
Keuntungan sedikit namun berkelanjutan membuat ia setia menanam bumbu pedas itu.