Bupati Banyumas Siapkan Alat Pembakaran Sampah Anorganik 0 Residu
Editor: Koko Triarko
PURWOKERTO – Masalah sampah yang tak kunjung tuntas, disikapi Bupati Banyumas, Achmad Husein, dengan membuat sistem pembakaran sampah anorganik yang sederhana, murah dan menghasilkan residu 0 persen. Metode pembakaran yang menggunakan drum bekas ini sudah dipraktikkan hampir dua bulan di halaman belakang rumah dinasnya.
“Alat ini saya adopsi dari penemuan Ketua Laboratorium Polymer ITB, Dr. Zainal Abidin dan Prof. Dr. Harun, dosen Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Hanya saya tambahi beberapa dan ada juga yang disederhanakan, supaya jatuhnya bisa berbiaya murah,” tutur Bupati, yang juga alumni ITB ini, Rabu (24/7/2019).
Ia menjelaskan, cara kerja pembakaran cukup sederhana, yaitu diawali dengan bagian bawah drum dipanaskan dengan bahan kayu bakar, kemudian sampah anorganik dimasukkan ke dalam drum.
Setelah suhu naik hingga di atas 400 derajat celcius, aliran panas dimasukkan kembali dengan pipa berukuran lebih besar ke bagian bawah, dan dilakukan pembakaran kedua. Hasilnya, dari cerobong kecil akan keluar asap berwarna putih dan tidak ada lagi residu.
“Sistem pembakaran ini harus memenuhi syarat, yaitu thermal, turbulence dan time atau 3T, menghindari dioxin. Thermal harus di atas 700 celcius, turbulence harus dibakar dua kali dalam sistem dua chamber , dan time yaitu minimal masa asap dibakar dalam chamber 2 detik. Dan, juga harus dilengkapi wet scruber atau penghilang polusi udara dengan air yang disemprotkan,” terang Husein.
Alat tersebut untuk membakar plastik residu, namun syaratnya bukan plastik PVC. Sebab, PVC bisa hasilkan dioxin/furan yang dilarang oleh internasional.
Setelah melalui inovasi dan penyederhanaan, biaya pembuatan alat tersebut hanya masuk pada kisaran Rp2 juta. Harga tersebut cukup terjangkau, dan ia berrencana akan meminta bantuan CSR beberapa perusahaan, supaya desa atau kelompok masyarakat bisa memiliki alat pembakaran sampah anorganik tersebut.
“Saya belum berani untuk memperbanyak, karena belum ada uji emisi terhadap alat ini. Jika sudah ada uji emisi dan dinyatakan lolos, baru kita pikirkan ke depan pemanfaatannya seperti apa. Tetapi jika dilihat secara kasat mata, asap yang keluar berwarna putih,” jelasnya.
Lebih lanjut Bupati menjelaskan, konsep penanganan sampah di Banyumas sudah disiapkan dengan berbagai cara. Antara lain untuk penanganan sampah organik, akan disiapkan untuk dilakukan di rumah tangga dengan sistem probiotik dan komposter.