Petani Jagung Pasrah Produksi Anjlok Imbas Kemarau dan Ulat Grayak

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Penurunan produksi tanaman jagung dialami ratusan petani di sejumlah wilayah Lampung Selatan. Hal tersebut dikarenakan saat penanaman memasuki musim tanam rendengan terimbas kekurangan air saat kemarau dan terserang hama menyebabkan tanaman kerdil, buah berkurang.

“Pada kondisi normal bisa mendapatkan hasil sekitar 6 ton jagung dengan bibit sekitar 15 kilogram. Namun saat terimbas kemarauhanya berkisar sekitar 5,6 ton,” sebut Rohman, salah satu petani jagung di Desa Pasuruan saat ditemui Cendana News, Senin (17/6/2019).

Rohman menyebut berencana menjual jagung miliknya dengan sistem karungan. Satu karung jagung kering pada musim panen tahun ini dijual dengan harga sekitar Rp70.000. Sementara harga jagung dengan sistem pipilan berkisar Rp3.700 per kilogram. Harga jagung yang dibeli oleh pengepul menurutnya berpotensi anjlok karena kualitas biji yang kurang sempurna imbas dari kekurangan pasokan air.

“Proses penanaman jagung kerap saya lakukan bertahap pada lahan yang berbeda dengan selisih satu bulan, tanaman pada tahap awal terimbas kemarau sementara yang saya tanam berikutnya justru terimbas hama ulat grayak,” ungkap Rohman.

Ulat grayak kerap menyerang daun tanaman muda ditandai dengan lubang lubang pada daun. Serangan berimbas kesuburan tanaman akan hilang bahkan sebagian tanaman hanya menyisakan batang.

“Langkah penanganan dengan penyemprotan bahan kimia telah dilakukan, namun karena serangan cukup luas, cara tersebut kurang efektif,” tambahnya.

Rohman, pemilik kebun jagung di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan yang siap dipanen mengalami penurunan produksi akibat musim kemarau. Foto: Henk Widi

Kemarau dan hama ulat grayak pada lahan tanaman jagung petani di Lamsel menjadi perhatian Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Lamsel.

Widodo, humas KTNA Lamsel menyebut mendapat laporan dari sejumlah petani di Lamsel. Ia bahkan telah melakukan pemantauan ke sejumlah lahan untuk mendapat informasi lanjutan sekaligus melakukan pendataan terkini.

Koordinasi dengan petugas penyuluh pertanian,KTNA tingkat kecamatan dan instansi terkait juga telah dilakukan untuk memetakan wilayah terimbas hama. Data sementara, dari sekitar beberapa kecamatan di Ketapang, Penengahan dan Bakauheni, luasan lahan terimbas ulat grayak mencapai 70 hingga 100 hektare.

Hama ulat grayak diakui Widodo dipastikan menurunkan produksi akibat kuantitas tanaman akan berkurang. Kualitas buah yang dihasilkan diakuinya juga akan menurun seiring dengan kurangnya kesuburan daun. Meminimalisir kerugian, pemberian pupuk NPK, Urea dan Phonska dilakukan oleh petani.

“Selain itu pupuk perangsang pertumbuhan daun juga diberikan agar bisa mengganti daun berlubang akibat ulat grayak,” tutupnya.

Lihat juga...