Kelangkaan Air, Tantangan Utama Pengembangan Desa Mandiri Lestari Samiran

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Meski menjadi unit usaha Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera, dengan kontribusi pemasukan terbesar saat ini, namun keberadaan objek wisata baru Taman Bunga Merapi Garden di Desa Mandiri Lestari Samiran, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, ternyata memiliki sejumlah tantangan yang tidak mudah.

Persoalan ketersediaan sumber air bersih, menjadi tantangan utama bagi pihak pengelola dalam mengembangkan unit usaha di bidang pariwisata di desa binaan Yayasan Damandiri ini. Termasuk juga unit usaha lain, baik itu Warung Cafe Damandiri maupun Kampung Homestay Damandiri.

Mengandalkan dari sumber mata air saat musim penghujan, serta pasokan dengan cara membeli saat musim kemarau, merupakan kenyataan yang harus dihadapi Koperasi Sahabat Damandiri Sejahtera Samiran. Dengan harga sekitar Rp350ribu per tangki, pihak pengelola pun harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk operasional usaha.

“Saat musim kemarau seperti sekarang ini, kita harus beli dari daerah Boyolali. Karena sumber air disini mengering dan tidak mencukupi untuk kebutuhan Taman Bunga. Seminggu sekali kita beli sebanyak 15 ribu liter dengan pengeluaran mencapai Rp750 ribu,” kata Manager Usaha Taman Bunga Merapi Garden Taufik Syahumar.

Jumlah itu dikatakan sudah jauh berkurang dibandingkan saat awal pembentukan Taman Bunga Merapi Garden beberapa waktu lalu. Dimana proses pembentukan Taman Bunga Merapi Garden dilakukan saat musim kemarau. Padahal tanaman bunga membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar setiap harinya.

“Saat awal dulu kita harus mengeluarkan biaya Rp350 ribu setiap hari untuk menyiram tanaman. Itu harus dilakukan selama kurang lebih 2 bulan lamanya. Mencukupi kebutuhan air saja kita harus mengeluarkan biaya hingga Rp18 juta. Itu belum termasuk pengeluaran lainnya,” katanya.

Manager Usaha Taman Bunga Merapi Garden Taufik Syahumar. Foto: Jatmika H Kusmargana

Persoalan ketersediaan air bersih saat musim kemarau juga dirasakan warga pengelola homestay di Kampung Homestay Damandiri. Salah satunya Alip, warga Samiran. Lelaki satu ini mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan setiap musim kemarau tiba.

“Persoalan kita disini tidak ada air saat kamarau. Karena sumber mata air yang ada yakni Tuk Babon, harus digunakan untuk mensuplai kebutuhan warga di dua kecamatan. Baik di Kecamatan Selo maupun Cepogo. Sehingga tidak mencukupi. Otomatis warga harus membeli dari Boyolali. Harga nya juga relatif mahal. Sekitar Rp250-300 ribu,” ungkapnya.

Sejumlah warga pun berharap ada solusi permanen dari pihak terkait khususnya pemerintah dalam mengatasi persoalan-persoalan kelangkaan air saat musim kemarau seperti sekarang ini. Hal itu diharapkan akan mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh warga desa, yang mulai bergeliat dengan adanya sejumlah program dari Yayasan Damandiri.

Lihat juga...