Dampak Tol Sumatera, Omzet Pedagang Kecil Anjlok Selama Arus Mudik
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Ratusan pemilik usaha penjualan makanan, minuman ringan oleh oleh khas Lampung mengalami penurunan omzet saat arus mudik. Sebelumnya, angkutan lebaran selalu dimanfaatkan masyarakat untuk mengais rezeki tahunan.
Hendrina, salah satu pemilik warung yang selalu memanfaatkan momen angkutan lebaran menyebutkan, anjloknya omzet penjualan oleh oleh, makanan ringan dampak beroperasinya Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Sejak fungsional tol Sumatera dua tahun lalu bersamaan lebaran Idul Fitri penurunan omzet sudah terjadi.
“Pada angkutan lebaran tiga tahun sebelumnya pada periode mudik dan balik, bisa mendapatkan hasil Rp10 juta. Hasil tersebut dari penjualan makanan ringan, minuman dan oleh oleh bagi pemudik,” sebutnya, Selasa (11/6/2019).
Omzet yang besar diakuinya berasal dari penjualan sejumlah barang dalam jumlah banyak. Pasalnya ribuan pemudik lebaran masih menggunakan akses utama Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).
“Sangat terasa dari kuantitas barang dagangan yang saya jual bisa mencapai ribuan kemasan tetapi mulai berkurang akibat pembeli sepi, tidak melintas di Jalinsum membuat kami kehilangan pelanggan,” ungkap Hendrina.
Selama angkutan lebaran tiga tahun sebelumnya, sekitar 20 ball kerupuk kemplang berisi 100 bungkus perball bahkan bisa dijual habis. Meski harga perbungkus hanya Rp7.000 hingga Rp10.000 namun keuntungan yang diperoleh masih menjanjikan. Semenjak tol operasi, stok sekitar 15 ball pun hanya terjual sekitar beberapa.
“Saat macet parah di Jalinsum pada arus balik, penjualan cukup banyak pada minuman ringan, namun tetap tidak menyamai saat arus lebaran tahun sebelumnya,” cetus Hendrina.

Hal yang sama diakui Desi Aritonang, pemilik warung yang menjual makanan dan minuman ringan. Ia bahkan mengakui tahun ini sengaja mengurangi stok barang yang dijual. Sebanyak 20 ball kerupuk kemplang yang kini dijual seharga Rp12.000 hingga Rp15.000 hanya terjual sekitar 10 ball.
“Dampak tol dan pemberlakuan tiket elektronik menjadi sumber penghasilan baru meski penjualan oleh oleh anjlok”beber Desi Aritonang.
Desi Aritonang menyebut imbas tol Sumatera juga dialami pemilik warung kuliner. Kendaraan yang mulai sepi melintas di Jalinsum berkurang. Sejumlah warung bahkan memilih strategi konsep serba sepuluh ribu agar daya beli masyarakat bisa dijangkau.
“Sebab tanpa menurunkan harga, makanan yang dijual tidak terjangkau masyarakat, terlebih pengendara mobil memilih melintas di jalan tol, sehingga konsumen didominasi pengendara roda dua,” tambahnya.