Kunjungi The Palace Museum: Menbud Jalin Kerja Sama Strategis
Beijing, 12 Juli 2025 — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, tengah
melangsungkan kunjungan budaya ke Republik Rakyat Tiongkok.
Dalam rangkaian kunjungan, Menbud berkesempatan untuk melakukan dialog bersama Director of The Palace Museum, Wang Xudong, dan melihat The Palace Museum yang berada di kawasan Forbidden City, Beijing.
Rangkaian kunjungan ini menjadi bagian dari agenda diplomasi kebudayaan untuk
membahas kerja sama strategis di bidang permuseuman yang telah terjalin antara The Palace Museum dan museum-museum di Indonesia. Salah satu hubungan yang telah terjalin adalah kerja sama dengan Museum Nasional Indonesia.
Dalam kunjungannya, Menteri Kebudayaan menekankan pentingnya belajar dari praktik
pengelolaan museum-museum besar dunia.
“Kami menekankan pentingnya kolaborasi jangka panjang dalam pelestarian warisan budaya, pengelolaan museum, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” ungkap Menbud.
Menanggapi hal tersebut, Director of The Palace Museum, Wang Xudong, juga mendorong
adanya pertukaran tenaga ahli, akademisi, dan peneliti di bidang permuseuman antara
Indonesia dan Tiongkok.
Dirinya juga mengundang Indonesia untuk mengirim profesional di bidang museum untuk melakukan residensi di The Palace Museum.
Menbud juga menyoroti bagaimana The Palace Museum menjadi contoh upaya pelestarian
warisan sejarah secara berkelanjutan melalui perawatan bangunan, pengelolaan koleksi,
hingga penyajian narasi sejarah kepada publik.
“Kami mengunjungi The Palace Museum yang berada di Forbidden City, yang merupakan
museum dan pusat pameran sangat besar. Forbidden City ini terdiri dari 72 hektar dan
digunakan pada masa pemerintahan Kaisar Ming. Pada masa itu, sejumlah kaisar
membangun kompleks besar mulai dari tempat tinggal, barak tentara, hingga berbagai
gerbang seperti North Gate dan South Gate,” ujar Menteri Kebudayaan.
The Palace Museum adalah salah satu museum istana terbesar dan paling bersejarah di
dunia. Museum ini menempati kawasan Forbidden City di Beijing, yang dahulu merupakan
kompleks istana kaisar Tiongkok selama hampir 500 tahun, sejak Dinasti Ming (1368–1644) hingga Dinasti Qing (1644–1912). Pembangunannya dimulai pada 1406 dan selesai pada 1420, terdiri dari sekitar 980 bangunan di area seluas 72 hektar.
Forbidden City dirancang sebagai pusat kekuasaan politik dan simbol kosmos Tiongkok,
dengan denah simetris, balai upacara megah, taman, paviliun, gerbang-gerbang ikonik seperti Meridian Gate (South Gate), Gate of Divine Might (North Gate), dan aula penting seperti Hall of Supreme Harmony.
The Palace Museum resmi berdiri pada tahun 1925 setelah kekaisaran berakhir untuk
melestarikan dan memamerkan artefak seni, dokumen, dan benda upacara kekaisaran.
Koleksi museum berjumlah lebih dari 1,86 juta objek, termasuk lukisan klasik, kaligrafi,
keramik, patung perunggu, giok, tekstil, dan arsip kekaisaran.
Museum ini menjadi salah satu destinasi budaya paling populer di dunia dengan jumlah
pengunjung lebih dari 17 juta orang per tahun.
Mayoritas bahan bangunan di dalam kompleks ini terbuat dari kayu, sehingga konservasi dan
renovasi telah dilakukan berulang kali untuk memastikan kelestarian kompleks bersejarah ini, termasuk restorasi besar setelah kebakaran pada masa Dinasti Qing.
“Kita melihat bagaimana Forbidden City menjadi contoh nyata praktik preservasi dan
konservasi yang berjalan terus-menerus. Mereka melakukan perawatan dan renovasi berkali-kali untuk mempertahankan nilai sejarahnya, sembari tetap menghadirkan pengalaman edukatif bagi pengunjung,” pungkas Menteri Kebudayaan.
Tahun ini, The Palace Museum merayakan 100 tahun berdirinya sebagai museum istana,
dengan berbagai pameran tematik, program edukasi, dan perayaan budaya berskala
internasional untuk menegaskan peran pentingnya sebagai penjaga warisan sejarah
Tiongkok.
Kunjungan budaya ini menjadi momen refleksi penting untuk terus meningkatkan museum di Indonesia sebagai ruang edukasi, narasi, dan etalase utama sebuah bangsa.
Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk menjadikan museum sebagai pusat pengetahuan sejarah dan budaya yang dapat dinikmati lintas generasi. ***