Lukisan “Surau Tuo” karya Dr. Ahmad Akmal, Ikon Museum Seni di Sumatra Barat

PADANG – Lukisan ekspresionisme kaligrafi berjudul Surau Tuo karya Dr. Ahmad Akmal, mantan rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh yang kini kembali mengajar di Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, dipastikan akan segera menjadi ikon visual pendirian museum seni di Sumatra Barat.

Lukisan fenomenal dan berkarakter sangat unik berteknik cat akrilik di atas kanvas dengan model huruf tipografi Arab bertuliskan Allah tersebut memang pernah dipamerkan di Batam pada 2024. Cikal bakal karya itu sendiri lahir dari buah karya disertasi.

Menurut Dr. Ahmad Akmal, dalam relasi disiplin ilmu desain komunikasi visual, surau tua dalam kultur Minangkabau mempunyai banyak pesan sebagai perpanjangan tanda dan makna.

Dr. Ahmad Akmal. Foto: Dokumentasi Pribadi

 

“Kita tahu surau atau yang lebih luas lagi masjid dalam kehidupan masyarakat Islam adalah salah satu tempat ritual untuk berhubungan dengan sang pencipta alam semesta atau Allah. Begitu juga dalam masyarakat Islam Minangkabau sama,” papar Dr. Ahmad Akmal, Senin (23/6/2025).

Lebih jauh dijelaskan Dr. Ahmad Akmal, surau tua dalam tradisi Minangkabau mewakili bentuk gambaran alam, bangunan, dan warna.

“Gambaran alam terdiri dari jagad raya atau bumi dan langit. Untuk pesan dunia bawah dan atas, bangunan surau atau masjid sebagai tempat untuk beribadah umat Islam, bangunannya terdiri dari lantai, tiang dan atap. Atapnya merupakan tumpang tiga. Membawa pesan tiga hal yang penting untuk menuju kebaikan dunia atas perilaku manusia seperti yang diwakili sosok ninik mamak (orang tua), cadik pandai (cendekiawan), dan alim (ulama). Dalam budaya Minangkabau disebut tigo tungku sajarangan, tigo tali sapilin,” ujar Dr. Ahmad Akmal.

Menurut Dr. Ahmad Akmal pula, tentu saja dipilihnya karya lukisan Surau Tuo tersebut karena memang juga kuat unsur visual pewarnaannya.

Sebagaimana kelas sosial dalam masyarakat, seperti misalnya warna kuning untuk alam masyarakat Tanah Datar sebagai pesan kebesaran adat atau kerajaan.

Sedangkan warna merah sebagai ikon dari masyarakat Agam untuk memberikan karakter pesan sebagai orang pemberani atau penjaga keamanan.

Sementara itu warna hitam hadir sebagai pembeda karakter untuk masyarakat Lima Puluh Kota.

Tiga warna dalam kultur Minangkabau tersebut juga sebagai ekspresi pesan adanya kabar baik dan kabar duka.

Diharapkan dengan dipilihnya lukisan Surau Tuo dapat menyampaikan maksud edukatif tersebut.

Bahwa sebagai manusia kita harus selalu ingat kepada Tuhan apalagi memang akar budaya Minangkabau tumbuh dalam budaya yang kuat unsur religiusitasnya. ***

Lihat juga...