Penampungan Sampah Sementara Jadi Area Pengumpul Barang Bekas
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Berbagai jenis sampah dibuang ke lokasi pembuangan sementara di wilayah Kecamatan Bumi Waras, Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung. Sejak pagi hingga petang berbagai sampah organik dan nonorganik diangkut memakai gerobak. Sampah akan dikumpulkan terlebih dahulu untuk dipilah.
Solikin, salah satu petugas kebersihan menyebutkan, penampungan sementara sampah jadi area pengumpulan barang bekas. Sejumlah pemulung mengandalkan gerobak sebagai penampungan.
“Berbagai jenis sampah yang masih memiliki nilai jual berupa koran bekas, kotak kardus, gelas plastik, ember, mainan plastik hingga besi serta berbagai barang yang telah dibuang warga bisa didaur ulang oleh pabrik, lumayan untuk tambahan penghasilan,” terang Solikin saat ditemui Cendana News, Rabu (23/6/2022).
Solikin menyebut sebagian sampah yang merupakan limbah logam kerap dibuang warga. Berbagai jenis barang bekas bernilai jual bisa dijual ke pengepul mulai harga Rp600 hingga Rp36.000. Termurah jenis kertas Rp600 dan termahal tembaga Rp36.000 per kilogram.

Sudarto, salah satu pengepul sampah menyebutkan, ia kerap mencari barang bekas di sepanjang jalan wilayah Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung. Memanfaatkan gerobak ia bahkan mencari sejumlah barang bekas yang masih bisa dijual.
“Saya memilah sampah yang masih bisa didaur ulang dengan harga bervariasi, jika tidak bernilai jual ditinggalkan,”ulasnya.
Titik pencarian barang bekas ada pada kawasan vegetasi mangrove, api api muara sungai Way Balau. Berbagai sampah dominan berasal dari bagian hulu dan terbawa ke muara. Saat gelombang pasang jenis sampah kemasan botol plastik terbawa ke rerimbunan hutan bakau. Ia bisa mendapatkan ember bekas, tutup botol hingga pipa pvc.
Sudarto mengaku kegiatan mencari barang bekas sekaligus kesempatan membersihkan lingkungan. Ia mengaku sebagian warga kerap memberikan barang bekas jenis kardus dan plastik secara cuma cuma. Membersihkan sampah pada sejumlah rumah dilakukan warga berkat bantuannya.
“Sebagai tanda terima kasih sekaligus membersihkan barang tidak terpakai yang masih bisa dijual, saya mendapat uang,” ulasnya.
Ia mengakui volume sampah di sepanjang aliran sungai Way Balau meningkat saat musim penghujan. Meski sejumlah titik telah diberi tanda peringatan larangan membuang sampah, warga masih menjadikan sungai, vegetasi mangrove untuk melempar sampah.
Wardiman, warga Teluk Betung memilih hanya mencari selang plastik bekas. Limbah tersebut kerap dicarinya pada kawasan pantai, pusat pendaratan ikan hingga area tambak. Limbah selang plastik bisa menjadi sumber penghasilan dengan nilai jual hingga Rp4.000 per kilogram.