Brotowali Masih Digunakan Sebagai Obat Herbal Alternatif

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Melestarikan kekayaan warisan tradisi dalam penggunaan obat herbal dari alam masih dilakukan warga Lampung Selatan (Lamsel). Salah satunya brotowali yang digunakan untuk penambah nafsu makan bagi anak anak, penyembuh luka, diabetes, demam, rematik dan penyakit lain.

Sutinah (70) warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut masih menanam brotowali di pekarangannya. Tanaman dengan nama ilmiah Tinospora crispa L miers tersebut tumbuh merambat pada tanaman lain. Batang sebesar kelingking berbintil rapat tersebut mudah dibudidayakan dengan sistem stek. Memiliki daun yang berbentuk jantung dengan warna hijau cerah, batang yang diletakkan di tanah bahkan bisa tumbuh secara alami menjadi tanaman baru.

“Pemberian obat bagi anak anak kerap sulit maka cara terbaik dengan sistem dicekoki dengan sedikit paksaan agar ramuan bisa diminum. Kalau diminum dengan gelas aromanya langu dan terasa pahit di lidah,” terang Sutinah saat ditemui Cendana News, Jumat (3/5/2019).

Cekok disebut Sutinah merupakan cara pemberian obat tradisional bagi anak yang enggan atau susah minum obat. Pembuatan obat herbal dengan batang brotowali dilakukan dengan memarut batang brotowali. Ramuan parutan batang brotowali diberi tambahan madu. Parutan batang brotowali tersebut selanjutnya dibungkus dengan kain jarit. Bungkusan berisi parutan brotowali selanjutnya dimasukkan dalam mulut anak anak sembari diperas hingga berair. Pemberian madu atau gula aren dilakukan untuk menghilangkan rasa pahit.

Bagi orang dewasa penggunaan ramuan brotowali dilakukan dengan proses merebus daun dan batang. Air rebusan yang sudah matang bisa diminum saat pagi dan sore ditambah dengan madu. Penggunaan dengan dosis tepat dua gelas per hari bisa menambah nafsu makan.

Sutinah (70) warga Desa Pasuruan memperlihatkan tanaman brotowali kerap merambat pada pohon lain. Foto: Henk Widi

Khasiat lain untuk penyembuhan rematik. Pekerjaan berat sebagai petani sekaligus faktor usia membuat petani rentan mengalami peradangan sendi. Ramuan tersebut dibuat dengan merebus bersama madu dan diminum setengah gelas sebanyak dua gelas dalam sehari.

Warga lain , Hartono (50) menyebut memanfaatkan ramuan brotowali untuk mengobati sakit punggung dan pinggang. Bekerja sebagai petani dengan mencangkul membuat ia kerap mengalami gejala sakit punggung dan pinggang. Proses penggunaan bisa dilakukan sebagai obat luar dengan menumpuk batang dan memborehkan pada pinggang dan punggung.

“Meski cara penggunaan sederhana namun cukup ampuh karena obat herbal dari brotowali sudah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun,” ungkap Hartono.

Lihat juga...