Pesan Kamis Putih, Pemimpin Harus Melayani Sesama
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Rangkaian prosesi Tri Hari Suci Paskah pada pekan suci, dilakukan oleh umat Katolik dengan menggelar malam Kamis Putih. Di Lampung Selatan, perayaan malam Kamis Putih digelar di sejumlah gereja unit Pastoral Bakauheni, di antaranya gereja Santa Maria Tridharmayoga, gereja Santo Kristoforus Bakauheni, gereja Kalianda serta gereja Sukabakti.
Perayaan malam Kamis Putih di gereja Santo Petrus Paulus Pasuruan, Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) pada pekan suci umat Katolik, dipimpin oleh Pastor Bernardus Hariyanto Silaban,Pr.
Pastor Bernardus Hariyanto Silaban, Pr., menyebut Tri Hari Suci Paskah memiliki makna pelayanan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Bentuk pelayanan tersebut dilakukan dengan pembasuhan kaki 12 rasul, yang dilanjutkan dengan kenangan akan Ekaristi yang menyimbolkan makna kebangkitan.
Kamis Putih, sebut Pastor Bernardus, akan menjadi permenungan sebelum Jumat Agung hingga Minggu Paskah. Rangkaian pekan suci dalam liturgi Gereja Katolik merupakan puncak iman untuk merayakan Paskah, selain Natal.
Dalam homili atau kotbah malam Kamis Putih, Pastor Bernardus menyebut, perayaan tersebut dimaknai sebagai bentuk pelayanan. Rangkaian Kamis Putih merupakan warisan Gereja dengan teladan Yesus, untuk melayani para murid. Makna pembasuhan kaki disebutnya menjadi simbol, bahwa seseorang harus menjadi bersih.
Simbol kaki yang kotor memberikan kesadaran bagi umat Katolik, untuk juga membersihkan hati dan batin dari segala hal yang menjadikan hati kotor.
Dikaitkan dengan pesta demokrasi yang dilakukan sebagai bangsa Indonesia, pemilihan umum (Pemilu) telah membuat perbedaan pilihan. Melalui kegiatan Pemilu, gereja juga mengajak segala bentuk perbedaan bisa dimaknai sebagai pantang dan puasa. Meskipun dengan perbedaan pilihan, namun usai menggunakan hak pilihnya, umat Katolik diajak untuk kembali bersatu dalam pelayanan.
Pesta demokrasi juga menjadi peristiwa iman Katolik yang dilaksanakan saat pekan suci.
“Melalui pesta demokrasi, akan menjadi makna, bahwa pemimpin harus memiliki sifat melayani sesama, dan bagi umat Katolik, Yesus adalah teladan pemimpin seperti itu yang rela membasuh kaki sebagai bagian paling kotor,” terang Pastor Wolfram Safari, Pr., saat perayaan malam Kamis Putih, Kamis (18/4/2019).
Makna Kamis Putih dengan menyucikan hati, di antaranya sifat kebencian, ganjalan hati, termasuk kekecewaan usai pemilihan umum.
Pada Tri Hari Suci, umat Katolik diharapkan ikut mengambil bagian dalam upaya menciptakan hal yang lebih baik. Saat pekan suci, umat Katolik juga dihadapkan pada suasana politik di Indonesia yang masih belum ada kepastian terkait pemilihan umum.
Sebagai bentuk peran serta umat Katolik menciptakan kedamaian, Tri Hari Suci dimaknai untuk memberi teladan cinta kasih.
Perayaan Kamis Putih dimaknai oleh umat Katolik dalam banyak hal, dengan meneladani warisan Yesus Kristus. Kepada generasi muda, Pastor Bernardus juga menekankan untuk tetap berpegang teguh pada iman dengan semangat pelayanan.
Keteladanan Yesus Kristus dengan membasuh kaki bisa menjadi contoh terbaik, minimal dalam kehidupan keluarga. Orang tua memberi keteladanan dalam kehidupan sehari-hari pada zaman modern yang penuh tantangan.
“Saat generasi muda dihadapkan dengan era modernisasi, di mana gawai dan internet sudah menjadi kebutuhan, maka orang tua menjadi teladan untuk bijak memanfaatkan tekhnologi tersebut,” beber Pastor Bernardus.
Bagi kehidupan bermasyarakat, keteladanan dalam memimpin yang dilakukan Yesus Kristus bisa diterapkan. Sejumlah peran umat Katolik dalam kehidupan bermasyarakat dalam memimpin organisasi, lembaga harus mencerminkan keteladanan dan pelayanan. Sebab, umat Katolik harus menjadi garam dan terang yang baik, bagi sesama dalam kehidupan modern yang penuh dengan cara-cara instan, konsumtif dan hedonis.
Sikap peduli kepada sesama dalam pelayanan yang mulai luntur, harus bisa ditingkatkan lagi dengan meneladani semangat malam Kamis Putih melalui pembasuhan kaki.
Seusai memberikan homili pada malam Kamis Putih, liturgi pembasuhan kaki dilakukan oleh pastor sebagai bentuk pelayanan. Pastor Bernardus Hariyanto Silaban, Pr., yang mengenakan kasula dan stola sebagai pakaian ibadah, sementara berganti dengan jubah biasa.
Sebanyak 12 umat yang menyimbolkan 12 murid atau rasul Yesus duduk di depan altar untuk dibasuh kakinya dengan air. Menggunakan air bersih dan sabun, satu demi satu kedua belas umat dibasuh kakinya.
Liturgi pembasuhan kaki kepada 12 umat sebagai simbol pemimpin yang mau melayani bawahan, langsung dilakukan oleh pastor.
Seusai melangsungkan pembasuhan kaki, liturgi perayaan Kamis Putih dilanjutkan dengan pemberkatan altar dan umat menggunakan dupa.
Perayaan Ekaristi sebagai lanjutan pembasuhan kaki menjadi warisan kenangan akan malam perjamuan Kudus dan Sakramen Imamat.
Seusai perayaan ekaristi, gereja menjalani permenungan Tri Hari Suci ditandai dengan penutupan Ekaristi tanpa berkat penutup, dilanjutkan malam berjaga atau tuguran di sejumlah gereja Katolik.
Setelah malam Kamis Putih prosesi tuguran akan dilakukan untuk mengenang malam sengsara Yesus Kristus. Selanjutnya pada Jumat Agung, umat Katolik akan melangsungkan ibadah mengenangkan wafat Yesus Kristus.