Pergantian Rel Zaman Belanda, Reaktivasi KA di Sumbar Berlanjut
Editor: Satmoko Budi Santoso
PADANG – Reaktivasi kereta api di Sumatera Barat terus belanjut. Dirjen Perkeretaapian mengharapkan jalur KA dari Stasiun Kayu Tanam menuju Kota Bukittinggi, kembali dioperasikan. Jenis KA yang digunakan pun direncanakan kereta api Metro Kapsul.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat, Heri Novriadi, mengatakan, alasan munculnya pandangan reaktivasi KA menuju Bukittinggi dari Kemterian Perhubungan RI melalui Dirjen itu, karena melihat cukup banyak rel KA zaman penjajahan Belanda dulu terbentang. Sangat disayangkan jika tidak difungsikan kembali.
“Ini merupakan harapan dari Bapak Dirjen. Hal ini didasari kondisi jalan Padang-Bukittinggi yang memiliki tingkat kemacetan cukup parah. Jadi apabila beroperasi KA Padang-Bukittinggi, akan dapat mengurangi kemacetan. Serta secara tidak langsung memberikan wisata baru di Sumatera Barat,” jelasnya, Kamis (4/4/2019).

Selama ini di waktu hari libur kemacetan sudah dirasakan saat memasuki daerah Kabupaten Tanah Datar menuju Kabupaten Agam dan hingga ke Kota Bukittinggi yang merupakan kawasan wisata.
Bahkan kemacetan jalan mencapai 2 jam perjalanan. Artinya di waktu normal tanpa ada kemacetan, perjalanan dari Padang-Bukittinggi hanya menghabiskan waktu 2 jam. Namun dikarena dihadapkan dengan kemacetan, waktu tempuh menghabiskan waktu selama 4 jam.
“Untuk itu KA dinilai angkutan yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang hendak ke Bukittinggi, dan hal itu dapat mengurangi volume kendaraan di jalan raya,” tegasnya.
Heri menyatakan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sendiri menyikapi hal tersebut cukup bagus. Apalagi dari Dirjen Perkeretaapian mengatakan, jenis KA yang tepat digunakan ialah KA Metro Kapsul.
Artinya jika memang terwujud, maka hal yang perlu dilakukan ialah pergantian rel serta peningkatan sejumlah kondisi rel ke R54, seperti yang telah diterapkan menuju Stasiun Naras.
Menurutnya, untuk pergantian rel itu mulai tahun ini segera dimulai perbaikannya di sejumlah titik. Seperti di kawasan Kabupaten Padang Pariaman-Kabupaten Tanah Datar-Kota Padang Panjang. Di sana ada kondisi rel yang memilki gigi. Kondisi rel yang demikian perlu diganti ke kondisi rel yang kini telah digunakan dari Padang-Naras.
“Nah mulai tahun ini pergantian rel itu yang dilakukan, dananya bersumber dari APBN. Berapa jumlah dananya langsung ditangani oleh Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Wilayah Sumatera Bagian Barat. Tapi yang jelas kini, hal itu kita sambut baik. Setidaknya dengan adanya perbaikan rel, seiring waktu harapan itu jadi terwujud,” ungkapnya.
Kendati demikian, Heri mengaku, untuk mewujudkannya akan menjalani proses yang panjang, mulai dari penyusunan Detail Engineering Design (DED), yang artinya belum bisa dalam waktu dekat dikerjakan.
Seiring dengan hal itu, juga akan dilakukan perbaikan kondisi stasiun, dari yang kini masih berukuran kecil direncanakan akan dibuat dalam kondisi yang lebih layak lagi sebagai sebuah stasiun. Seperti Stasiun Alai, Stasiun Air Tawar yang berada di belakang Basko Mal, dan Stasiun Lubuk Buaya.
“Untuk reaktivasi ini intinya akan terus berlanjut di Sumatera Barat. Karena sebelumnya bapak gubernur telah bertemu dengan Dirjan Perkeretaapian di Jakarta. Jika dari Kemenhub bersemangat, kenapa kita tidak ikut bersemangat,” tegasnya.