Harga Gabah Rendah, Petani Lamsel Simpan Hasil Panen

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Memasuki panen pada musim tanam pertama (MT1) sejumlah petani padi di Lampung Selatan (Lamsel) mengeluhkan turunnya harga gabah.

Ridwan (56) salah satu petani menyebut, harga gabah kering panen (GKP) pada MT1 lebih rendah dibanding saat masa panen ketiga (MT3) akhir tahun lalu.

Pada masa panen MT3 ia menyebut, masih menjual GKP ke pedagang dengan kisaran harga Rp440.000 per kuintal. Saat MT1 harga turun menjadi Rp380.000 per kuintal berimbas ia memilih menyimpan gabah hasil panen.

Keputusan untuk menyimpan gabah hasil panen disebutnya akibat harga yang rendah. Berdasarkan perhitungan saat ini, harga per kilogram GKP hanya berkisar Rp3.800 atau lebih rendah dari harga sebelumnya berkisar Rp4.400 per kilogram.

Pada masa panen bulan April ia menyebut, panen yang berbarengan dengan musim penghujan disertai angin kencang ikut mendorong turunnya harga gabah. Sebab sebagian tanaman padi roboh berimbas menurunnya kualitas.

Penurunan kualitas gabah disebutnya, karena kadar air hasil panen yang dihasilkan cukup tinggi. Selain itu ia menyebut, masa panen yang berbarengan di sejumlah wilayah berimbas pasokan gabah meningkat.

Sebagai solusi mengurangi kerugian akibat harga yang rendah tersebut Ridwan menyebut, memilih akan menyimpan gabah dalam bentuk gabah kering giling (GKG) pada gudang penggilingan padi.

“Musim hujan saat pemanenan membuat kualitas gabah rendah berimbas harga anjlok, namun dengan harga yang rendah menjadi kesempatan bagi petani seperti saya menyimpan hasil panen,” terang Ridwan salah satu petani padi saat ditemui Cendana News, Kamis (4/4/2019).

Penyimpanan gabah hasil panen diakuinya dilakukan dengan tahap pengeringan serta penampian. Sekitar 3 ton hasil panen padi varietas Ciherang dari lahan seluas setengah hektare diakuinya akan dijemur, ditampi lalu disimpan dalam karung.

Penyimpanan gabah kering diakuinya dilakukan pada salah satu gudang penggilingan padi yang sekaligus berfungsi sebagai lumbung. Persediaan GKG diakuinya akan dipergunakan saat diperlukan untuk kebutuhan makan serta dijual dalam bentuk beras.

Ridwan menambahkan, keputusan menyimpan gabah saat harga anjlok juga sesuai perhitungan kebutuhan. Ia menyebut, menjual gabah dan menyimpan dalam bentuk uang tidak efektif dibanding menyimpan dalam bentuk gabah.

Ridwan juga memastikan keputusan untuk menyimpan gabah selain anjloknya harga karena bulan Mei memasuki masa puasa atau bulan Ramadan dan bulan Juni memasuki hari raya Idul Fitri.

“Pada bulan Ramadan hingga lebaran kebutuhan akan meningkat, jadi saya urungkan menjual gabah,” terang Ridwan.

Ridwan juga menyebut, memilih menjual dalam bentuk beras yang diakuinya lebih menguntungkan. Ia menyebut, harga beras kualitas sedang saat ini di pabrik dijual dengan harga Rp7.000 per kilogram atau di pengecer mencapai Rp8.000 per kilogram.

Sejumlah pedagang beras yang menjual beras bahkan kerap memesan beras sebelum ia melakukan proses penggilingan. Kebutuhan beras bahkan disebutnya akan meningkat karena lebaran menjadi tradisi kumpul keluarga yang berasal dari wilayah lain.

Sudin (40) salah satu petani lain mengaku, harga GKP yang cukup rendah membuat ia juga memilih tidak menjual gabah miliknya.

Sudin, salah satu petani mengangkut gabah yang diangkut dari sawah – Foto: Henk Widi

Ia bahkan menyebut, rendahnya harga GKP karena sudah berada di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) pada harga Rp4.070.

Ia menyebut dari hasil panen sekitar tiga ton, hanya satu ton yang dijual sebagai pengganti untuk biaya operasional pengolahan lahan hingga pemanenan.

“Saat harga gabah tinggi seperti tahun sebelumnya, saya jual seluruh hasil panen tetapi masa panen tahun ini saya memilih menyimpannya,” ungkap Sudin.

Kondisi tersebut diakui Sudin, sangat memberatkan petani terutama saat GKP rendah. Sebab ketika harga gabah rendah ia memastikan, petani akan kesulitan untuk mengembalikan modal. Modal tersebut diakuinya dipergunakan untuk pengolahan lahan, membeli pupuk serta operasional lain yang diganti dari hasil penjualan sebagian hasil panen dengan risiko perolehan hasil penjualan lebih rendah.

Petani lain bernama Ahmad (50) memilih menyiasati harga gabah yang fluktuatif dengan menanam varietas padi berbeda. Selain menanam padi varietas Ciherang ia mengaku, menanam padi varietas ketan putih.

Ketan putih menurutnya memiliki harga yang lebih menguntungkan dengan harga Rp9.000 hingga Rp10.000 dalam bentuk beras. Meski padi varietas Ciherang yang ditanamnya rendah, namun ia masih bisa menjual beras ketan putih yang harganya lebih mahal.

Ahmad menyebut, beras ketan sekaligus menjadi sumber kebutuhan bagi warga yang akan memiliki hajatan. Beras ketan juga menjadi bahan baku kebutuhan pembuatan kue oleh pedagang kue tradisional.

Meski harga gabah rendah ia memastikan, masih bisa mendapatkan keuntungan dari penanaman padi varietas ketan putih yang dimilikinya.

Lihat juga...