Kharisma Putri Cendana Hangatkan Gelora Bung Karno
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Kehadiran Putri Presiden kedua RI, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) memantik perhatian massa Kampanye Akbar Prabowo-Sandi di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (7/4/2019). Dengan mengenakan gamis warna putih berpadu hijab motif bunga warna coklat muda berbalut warna putih, Tutut Soeharto menjadi pusat perhatian jemaah.
Dengan senyum khasnya, putri sulung Presiden Soeharto menyapa jemaah Kampanye Akbar Prabowo-Sandi, dengan mendekap kedua tangannya di dada sebagai tanda hormat.
Meskipun tidak sempat menyampaikan sepatah kata, tapi tanda hormat dan senyum khas Tutut Soeharto sudah mewakili kehadirannya di tengah-tengah massa pendukung Prabowo-Sandi.
Para jemaah, sangat antusias bergantian meminta beswafoto dengan Putri Cendana. Dengan ramah, istri Indra Rukmana ini mengizinkan Ibu-ibu dan bapak-bapak berfoto dengannya.

“Dengan senang hati, boleh,” ujar Tutut Soeharto, sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, makasih Ibu Tutut. Semoga sehat selalu, saya dukung Pak Prabowo jadi presiden,” kata Dini Susanti, warga Bandung, Jawa Barat.
Dini mengaku sangat kagum dengan sosok Ibu Tien Soeharto, yang berkarya melestarikan budaya bangsa dengan membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
“Ya, Allah. Ibu Tien itu kharismatik dan ramah banget. Nah, Bu Tutut ini titisan Ibu Tien, senyumnya dan ramahnya. Alhamdulillah, saya bisa bertemu idola, Ibu Tutut Soeharto,” ujar Dini, suaranya lirih sambil mengusap air mata.
Dia mengaku berangkat dari Bandung bersama keluarga dengan mobil pribadi. Hadir ke GBK tanpa paksaan dari siapa pun, tapi dengan iklas ingin bermunajat bersama para pendukung pemenangan Prabowo-Sandi.
“Insyaallah Pak Prabowo. menang. Saya juga bangga dengan Ibu Titiek, semangat juangnya luar biasa jadi kekuatan emak-emak se-Indonesia,” tandasnya.
Indah Fitri, warga Banten juga mengaku senang bisa foto dengan Tutut Soeharto. “Saya tadi takut ditolak pas minta foto sama Ibu Tutut. Eh..ramah banget Beliau. Selama ini, saya cuma lihat di TV, Ibu Tutut gelorakan Kirab Remaja Nasional, bagus banget,” ujar nenek dua cucu ini.

Dia mengaku seperti mimpi bertemu dengan Tutut Soeharto dan juga Titiek Soeharto, serta Mamiek Soeharto. “Kaya’ mimpi saya foto sama anak Presiden Soeharto. Kok tiga-tiganya ramah banget, ya,” ujar Indah.
Andi Bahrudin, warga Cikarang mengaku senang bertemu dengan tiga putri Pak Harto. Menurutnya, ini momentum langka bisa bersua dengan anak Presiden.
“Saya tadi lihat ibu-ibu antusias menyalami Bu Tutut, Bu Titiek dan Ibu Mameik. Ah, saya juga nggak mau ketinggalan tadi selfi sama Ibu Tutut dan Ibu Titiek, untuk kenangan,” ujarnya.
Menurutnya, kharisma Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto terpancar dalam diri anak-anaknya. Mereka dididik sebagai pribadi yang soleh dan ramah serta sangat menghargai sesama.
“Kharisma Cendana hadir di GBK lewat sosok Bu Tutut, Bu Titiek dan Bu Mamiek. Tadi ada Pak Tommy, saya nggak ketemu, padahal ingin salaman dan foto,” kata Andi.
Momen berswafoto kembali terukir hingga ketiga Putri Cendana meninggalkan lokasi. Bahkan hingga Tutut Soeharto dan Mamiek Soeharto sudah menaiki mobil, ibu-ibu tetap memohon izin untuk berfoto.
“Ya, boleh,” jawabnya dengan senyum ramahnya.
Aksi selfie pun terekam dalam telepon seluler mereka. “Alhamdulillah, terima kasih Bu,” kata Ayu, sumringah.
Kemacetan usai acara tak bisa dibendung dari area GBK mengular hingga Jalan Asia Afrika. Mobil yang ditumpangi tiga putri Cendana pun tak bergerak.
Titiek Soeharto bersama rombongan akhirnya turun dari mobil. Lalu, berjalan kaki menembus keramaian menuju hotel Fairmont.
Saat melenggang di Jalan Asia Afrika, Titiek Soeharto menjadi pusat perhatian jemaah yang hendak pulang sambil berjalan kaki.
“Ibu Titiek, ya saya senang banget bertemu Ibu.Saya boleh foto ya, Bu,” kata Ati, sambil memegang telepon selulernya.
Hingga di halaman hotel pun, Titiek Soeharto tetap diserbu jemaah meminta beswafoto. Lagi-lagi pemandangan persaudaraan terukir begitu akrab, berbalut semangat perjuangan memenangkan Prabowo-Sandi, mewujudkan Indonesia adil dan makmur.