KADIN Lamsel Dorong RKB Berdayakan UKM Lokal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Dioperasikan sejak bulan Desember 2018 sejumlah gerai produk Usaha Kecil Menengah (UKM) di terminal eksekutif Bakauheni masih terlihat sepi. Pada bangunan tiga lantai Rumah Kreatif Bakauheni (RKB) tersebut sejumlah gerai yang sudah terisi hanya berada di lantai dasar.

Budiman Dabo, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Menyikapi hal tersebut, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Lamsel, Budiman Dabo, mendorong Rumah Kreatif Bakauheni (RKB) untuk dapat menggandeng pelaku UKM lokal.

“Meski pelaku UKM lokal tidak langsung terjun dengan alasan biaya operasional yang tinggi, namun produknya bisa dijual dan dikenal masyarakat,” beber Budiman Dabo di Lampung, Selasa (2/4/2019).

Ia juga mengapresiasi inisiatif RKB yang berada di lantai satu dengan menampung produk unggulan UKM binaan di Lamsel. Di antaranya kopi bubuk, keripik pisang hingga kerajinan tapis.

Ia mendorong PT. ASDP Indonesia Ferry melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) bisa ikut memberdayakan UKM lokal. Pemberdayaan tersebut dapat dilakukan dengan dukungan permodalan sekaligus pemberian fasilitas untuk bisa berjualan di area pelabuhan Bakauheni.

“Saat ini terlihat sejumlah gerai masih sepi tetapi ini menjadi peluang agar UKM Lamsel bisa menjual produk di terminal eksekutif Bakauheni,” beber Budiman Dabo.

Melalui KADIN Lamsel ia juga mendorong produk produk lokal bisa memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha. Sebab saat ini produk yang ada di Lamsel cukup berkualitas namun proses pengemasan dan promosi masih kurang.

“Melalui sejumlah pembinaan diharapkan sejumlah produk UKM yang ada di Lamsel bisa memanfaatkan peluang keberadaan terminal eksekutif sekaligus beroperasinya jalan tol trans Sumatera,” tambahnya.

Sebelumnya, Humas PT. Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Cabang Bakauheni, Syaifulail Maslul membenarkan sejumlah gerai atau tenant masih kosong.

“Sejumlah gerai yang belum terisi memang sedang dalam tahap persiapan karena sebagian pelaku usaha memiliki konsep yang berbeda,” terang Syaifulail Maslul saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (2/4/2019)

Seperti gerai  kopi, mereka mengusung konsep unik, bahkan membuat meja dan kursi kayu yang memberi kenyamanan bagi pengunjung. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemilik gerai roti di lantai satu yang mengusung konsep meriah dengan warna dominan pink atau merah muda.

“Meski sebagian masih kosong namun sudah dipesan oleh para pelaku usaha melalui pihak Event Organizer (EO) yang mengelola seluruh gerai di terminal eksekutif,” tambahnya.

Yadi, penjual kuliner di dermaga dua pelabuhan Bakauheni menyebut juga berkeinginan berjualan di terminal eksekutif. Namun karena terkendala standar produk yang dijual ia memilih bertahan untuk berjualan di dermaga pelabuhan Bakauheni.

Beroperasinya terminal eksekutif sebagai pilihan penumpang pejalan kaki menyeberang dari Bakauheni ke Merak dan sebaliknya ikut mempengaruhi omzet penjualan miliknya.

“Sehari biasanya saya mendapatkan omzet sekitar satu juta namun sekarang hanya di kisaran delapan ratus ribu per hari,” bebernya.

Selain karena kondisi hari biasa, ia mengaku pengguna jasa saat ini memilih menyeberang melalui terminal eksekutif. Kondisi tersebut membuat penumpang tidak lagi melintas di dermaga dua pelabuhan Bakauheni yang merupakan lokasi usaha berjualan kuliner nasi bungkus miliknya.

Lihat juga...