Budidaya Intensif Tingkatkan Pendapatan Petani di Lambar

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Penanaman pisang dengan pola multy purpose tree species (MTPS) dengan berbagai tanaman lain di Kabupaten Lampung Barat (Lambar) memberikan hasil kurang maksimal bagi petani. Selain kuantitas dan kualitas rendah, harga jual juga rendah.

Susanto warga Pekon Campang, Kecamatan Kebun Tebu, Kabupaten Lambar mengatakan, penanaman bersama tanaman aren, lada, kopi arabica serta tanaman lain dirasa tidak memberikan hasil maksimal. Hal tersebut membuatnya memutar otak untuk mengubah pola dari polikultur ke mononokultur.  Satu hamparan dikhususkan untuk pisang mulai diterapkan.

“Pola budidaya intensif yang baik pada tanaman pisang khususnya ambon lumut mulai diterapkan karena harga yang stabil saat standar penanaman dilakukan secara baik dan benar,” beber Susanto kepada Cendana News, Senin (1/4/2019).

Penerapan sistem tersebut diperoleh melalui pelatihan dan hasilnya cukup menjanjikan. Sejumlah perawatan juga terus dilakukan dari awal penanaman hingga siap dipanen pada usia dua bulan. Saat jantung pisang mendekati mekar seluruh tandan dibungkus menggunakan pembungkus buah (fruit cover).

Pembungkus menjaga buah dari serangan hama tikus, tupai dan kelelawar. Selain itu mencegah penyakit burik, perlindungan dari kondisi cuaca membuat pisang tetap dalam kondisi segar saat dipanen.

“Selain itu, buah pada sisir terakhir yang berukuran kecil harus dibuang agar pada bagian atas dapat tumbuh dengan optimal,” cetus Susanto.

Sebagai perbandingan, ia menyebut harga per kilogram pisang ambon lumut tanpa penanganan baik hanya Rp1.500. Dengan perawatan dihargai hingga Rp3.000. Nilai jual yang lebih tersebut mulai dirasakan oleh sejumlah petani sehingga pola penanaman berkualitas terus dilakukan.

“Komoditas pisang ambon lumut bisa menjadi sumber penghasilan mingguan hingga bulanan, lada serta kopi bisa menjadi hasil tahunan,” beber Susanto.

Satu tandan pisang ambon lumut dengan kualitas yang baik bisa menghasilkan 15 kilogram. Jika dirata rata maka pertandan ia bisa mendapatkan hasil Rp45.000 . Padahal sebelumnya, dengan harga Rp1.500 dengan berat yang sama ia hanya bisa mendapatkan hasil Rp22.500.
Pisang
Susanto, petani pisang ambon lumut di Pekon Campang Kecamatan Kebun Tebu Lampung Barat memperlihatkan tanaman pisang miliknya yang dikembangkan secara intensif. Foto: Henk Widi

Fauzi, petani lainnya menyebut tanaman pisang menjadi salah satu sumber penghasilan selain kopi dan lada. Pola penanaman yang baik membuat nilai jual di wilayah tersebut bisa membawa kesejahteraan bagi petani. Sistem kemitraan dengan sejumlah pengepul memberi jaminan buah akan diterima dan harga stabil.

Berdasarkan kalkulasi dan pola penanaman terjadwal, dalam satu hamparan bisa dipanen buah pisang secara berkala setiap pekan. Petani menanam dengan waktu yang tidak seragam agar proses pemanenan bisa dilakukan berkala. Jika dalam sekali panen dihasilkan sekitar 100 kilogram pisang per pekan maka petani sudah bisa mendapatkan hasil Rp300.000.

Petani yang sudah memiliki tabungan kerap mengumpulkan nota pembelian yang bisa dicairkan setiap bulan dengan rata rata hasil bisa mencapai Rp1juta lebih.

“Budidaya pisang sebagai sampingan namun tidak bisa dikesampingkan karena hasilnya cukup menjanjikan. Itu dari pisang ambon belum jenis lain,”beber Fauzi.

Lihat juga...