Agupena Terus Merawat Iklim Literasi di Flotim

Editor: Mahadeva

LARANTUKA – Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) cabang  Flores Timur berkomitmen merawat iklim literasi yang telah dirintis di daerahnya.

Gerakan Agupena di Flores Timur (Flotim) dengan spirit, indahnya berbagi, terus bergerak dan berbagi. Mereka bergerak membangkitkan semangat anak-anak Flotim untuk gemar membaca, rajin menulis, dan mengasah potensi, bakat dan kemampuan disegala bidang. “Kami menyambangi Kecamatan Witihama, Pulau Adonara untuk memberikan sosialisasi tentang gerakan literasi. Kami juga mendampingi anak menyelami dunia menulis dan mengembangkan kreativitas,” sebut Maksimus Masan Kian, Ketua Agupena Flotim, Senin (1/4/2019).

Kepada Cendana News, Maksi mengatakan, Agupena menyambangi SMK Negeri Witihama, untuk pertama kalinya. Sekolah yang berlokasi di Desa Watoone, Kecamatan Witihama tersebut menyelenggarakan kegiatan literasi di sekolah. “Kami terus bergerak ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas, untuk memberikan pelatihan dan pelajaran mengenai literasi. Kita berharap gerakan literasi bisa tumbuh dan mengakar di Flotim,” tuturnya.

Karolus Kiwang Ama, Kepala SMK Negeri Witihama pulau Adonara kabupaten Flores Timur saat memberikan sambutan. Foto : Ebed de Rosary

Karolus Kiwang Ama, Kepala SMK Negeri Witihama, menyampaikan, apresiasi kepada Agupena yang berkenan menyambangi sekolah mereka. “Kami sangat bangga dan senang. Secara lembaga, kami menyampaikan terima kasih atas kunjungan ini. Memang sekolah kami di kampung, tetapi mimpi kami selalu jauh,” tegasnya.

Karolus menyebut, anak-anak didiknya diharapkan memiliki wawasan yang luas dan keterampilan yang inovatif. Dengan literasi, para siswa akan mendapatkan banyak pengetahuan dan keterampilan, serta pengalaman sebagai bekal masa depan.

Dalam kunjungan tersebut, para siswa dikelompokan dalam beberapa kelas, dan didampingi langsung oleh Tim Agupena. Agussalim Bebe Kewa mendampingi kelas menulis berita sekolah. Tobias Tobi Ruron, mendampingi kelas menulis berita feature. Zaeni Boli mendampingi kelas membaca puisi kreatif, Oktavianus Bali, mendampingi kelas fotografi dan David Klawes mendampingi kelas menulis puisi kreatif.

“Saya hanya mengambil peran dalam membangun motivasi kepada anak-anak untuk mencintai dunia literasi,” sebutnya.

Dalam pendampingan, materi yang disampaikan 30 persen berupa teori. Sementara 70 persennya praktek. Dalam waktu kurang lebih tiga jam, siswa sudah mampu menghasilkan karya dengan ragam tulisan, dan bisa membawakan atau membaca puisi dengan tampilan yang kreatif.

Lihat juga...