TP PKK Pessel: Perlu Komitmen Bersama Tekan Stunting

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

PESISIR SELATAN — Ketua TP-PKK Pesisir Selatan, Lisda Hendrajoni  menyebutkan, untuk mengatasi masalah stunting (anak bertubuh pendek), perlu dukungan dan komitmen berbagai pihak, terutama ibu-ibu rumah tangga dan ibu anggota PKK. Salah satunyga dengan upaya membuat taman gizi keluarga di pekarangan rumah masing-masing.

“Taman gizi memberikan dampak kesehatan bagi keluarga. Begitu juga akan dapat menjaga tumbuh kembang bayi dan anak-anak dengan makan pola sehat, karena persoalan ini harus bisa dicegah secara dini,” ujarnya, Jumat (29/3/2019).

Menurutnya, persoalan stunting tidak bisa hanya sebatas memberikan pemahaman, tapi perlu untuk ada bimbingan mulai dari desa masing-masing daerah. Sejauh ini sosialisasi terkait pentingnya menjaga tumbuh kembang anak sering dilakukan, namun hasilnya belum semua keluarga yang serius menjalaninya.

Dikatakannya, peran TP-PKK terhadap pencegahan stunting dapat ditingkatkan melalui 10 program pokok PKK.

“Persoalan stunting harus kita atasi secara bersama, termasuk persoalan kesehatan lainnya,” tegasnya.

Selain di daerah Pesisir Selatan, kondisi stunting ini hampir dikhawatirkan di beberapa daerah lainnya di Sumatera Barat. Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumatera Barat, jumlah kasus bertambah dari tahun ke tahun.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Bkkbn) Sumatera Barat, Syahruddin menjelaskan beragam penyebab terjadinya kasus anak bertubuh pendek tersebut. Mulai dari pernikahan usia dini, ibu hamil dan balita kurang asupan gizi, sampai kondisi lingkungan yang tidak sehat.

“Beberapa daerah di Sumatera Barat memang terjadi kasus stunting. Penuntasannya butuh waktu yang cukup lama, diperlukan penanganan berkelanjutan. Hasilnya pun tidak bisa dilihat dalam waktu satu dua tahun, melainkan lima hingga 10 tahun ke depan,” katanya.

Ia menjelaskan melihat pada 2018 lalu, daerah dengan angka tinggi yakni Pasaman dan Pasaman Barat. Sedangkan untuk 2019 ini, pihaknya mencatat ada satu daerah yang terjadi kasus anak bertumbuh pendek tersebut yakni terdapat di Kota Solok.

Kendati tidak mudah, Syahfruddin berharap Pemerintah Kabupaten dan Kota turut serta berperan di daerah, supaya tidak meluas dan menyerang anak-anak di Sumatera Barat.

“Saya melihat untuk menyelesaikan persoalan itu bukanlah sebuah pekerjaan yang berat. Butuh kerja sama semua pihak dan termasuk memberikan pemahaman kepada para keluarga, supaya ada langkah antisipasinya,” ujarnya.

Lihat juga...