Tagana Lamsel Beri Pemahaman Mitigasi Bencana Bagi Siswa

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Bencana alam yang melanda wilayah Indonesia, tak kecuali Lampung, dalam satu tahun terakhir menjadi keprihatinan bagi Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lampung Selatan. Untuk itu, sebagai salah satu upaya menumbuhkan kesadartahuan akan potensi risiko bencana, Tagana Lamsel kembali terlibat dalam kegiatan Tagana Masuk Sekolah (TMS).

Hasran Hadi, Sekretaris Tagana Lamsel, menyebut, kegiatan TMS menjadi upaya memberi pemahaman untuk pengurangan risiko bencana (PRB), salah satunya di Kabupaten Pesawaran.

Kabupaten Pesawaran yang merupakan pemekaran Kabupaten Lamsel, sebut Hasran Hadi, memiliki bentang alam yang sama dengan Lamsel. Salah satu bentang alam tersebut di antaranya keberadaan pantai, pulau yang memiliki potensi bencana gelombang pasang, tsunami, puting beliung.

Hasran Hadi (kiri) Sekretaris Tagana Lampung Selatan memberikan materi terkait kebencanaan dan pengurangan risiko bencana di SMPN 2 Pesawaran [Dok.Tagana Lamsel]
Selain itu, wilayah Pesawaran yang memiliki pegunungan dan sungai, memiliki potensi rawan bencana tanah longsor dan banjir. Salah satu kawasan rawan banjir di Pesawaran, di antaranya di Kecamatan Padang Cermin, yang berada di aliran sungai Serdang.

“Pentingnya pemahaman akan potensi bencana mendorong kegiatan Tagana Masuk Sekolah terus dilakukan, tentunya dengan tujuan mengantisipasi, menangani serta siap berhadapan dengan risiko bencana yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal,” terang Hasran Hadi, Selasa (26/3/2019).

Salah satu sekolah yang dilibatkan dalam kegiatan Tagana Masuk Sekolah, yakni SMP Negeri 2 Pesawaran, yang ada di Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan.

Sebelumnya pada Februari, wilayah Kecamatan Teluk Pandan terkena bencana banjir dan tanah longsor, meliputi Desa Hurun, Desa Hanura dan Desa Cilimus. Bencana tersebut kerap mengakibatkan kerusakan fasilitas tempat tinggal, infrastruktur yang merugikan dan mengganggu aktivitas warga, melumpuhkan perekonomian.

Menurut Hasran Hadi, Kegiatan Tagana Masuk Sekolah dilakukan bekerja sama dengan Tagana Provinsi Lampung, unsur Search and Rescue (SAR), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pramuka, Vertical Rescue dan unsur lain.

Kepada ratusan siswa SMP 2 Pesawaran, sejumlah materi diberikan, antara lain terkait pemahaman wilayah yang berpotensi terjadi bencana alam. Potensi risiko bencana tersebut, di antaranya akibat faktor alam serta ulah manusia, akibat penebangan hutan serta membuang sampah di sungai.

“Pemahaman awal tersebut sangat penting, agar generasi muda bisa ikut menjaga lingkungan. Berkaca dari sejumlah bencana yang ada di Indonesia, faktor kelalaian manusia ikut andil,” beber Hasran Hadi.

Andil manusia dalam terjadinya bencana tersebut, umumnya sudah dipahami oleh siswa, di antaranya alih fungsi wilayah hutan. Imbasnya, bencana tanah longsor sekaligus banjir bisa terjadi, dan sudah pernah dialami oleh sebagian wilayah di Kabupaten Pesawaran.

Selain itu, potensi bencana alam akibat aktivitas alam seperti gempa bumi, juga dipaparkan terkait keberadaan Kabupaten Pesawaran yang berada dekat dengan patahan (sesar) Semaka, yang rawan gempa bumi.

Kesadartahuan akan potensi risiko bencana, kata Hasran Hadi, harus diimbangi dengan mitigasi bencana yang baik. Upaya pemerintah diakuinya telah dilakukan dengan membuat sejumlah organisasi penanganan bencana, di antaranya Tagana di bawah Dinas Sosial setiap kabupaten, SAR, BPBD. Sejumlah organisasi swadaya bahkan mulai membentuk lembaga penanganan bencana, seperti Vertical Rescue serta anggota Pramuka yang dilatih dalam penanganan bencana.

“Sejumlah wilayah kabupaten rawan bencana, bahkan sudah membuat shelter untuk perlindungan sekaligus jalur evakuasi,” beber Hasran Hadi.

Selain materi tentang kebencanaan, kata Hasran Hadi, kegiatan Tagana Masuk Sekolah juga diisi dengan simulasi terjadinya bencana. Simulasi tersebut termasuk cara penyelamatan diri sendiri, serta orang lain.

Bagi ratusan siswa SMP 2 Pesawaran, kegiatan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) juga diajarkan. Hal ini sangat penting untuk memulihkan kondisi psikis masyarakat, terutama anak-anak dan perempuan di lokasi bencana.

Pada kegiatan TMS tersebut, juga juga dilakukan kegiatan kerja bakti, dengan melakukan pembersihan sampah di wilayah sekolah, untuk menghindari penyakit demam berdarah (DBD) serta meminimalisir risiko bencana banjir akibat sampah yang dibuang di sungai.

Lihat juga...