Petani Jagung Lamsel Atur Strategi Dapatkan Harga Jual Tinggi
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Anjloknya harga jagung pada level petani Lampung Selatan (Lamsel) masih menjadi momok saat panen.
Harga komoditas jagung yang terus mengalami penurunan terjadi sejak petani melakukan pemanenan jagung pada awal Februari tahun ini.
Widodo, salah satu pemilik lahan jagung di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lamsel menyebut, saat panen ia masih menjual jagung dengan harga Rp5.800. Harga terus anjlok mendekati puncak panen raya pada akhir Februari hingga pertengahan Maret.
Penurunan harga jagung disebutnya terus terjadi di antaranya mulai harga Rp5.200, harga Rp4.800 hingga mencapai harga Rp4.200 per kilogram. Harga jagung pitilan disebutnya terus mengalami penurunan akibat sejumlah petani jagung memasuki masa panen bersamaan.
Pasokan jagung yang melimpah tersebut berimbas harga jagung semakin anjlok ditambah masa panen bersamaan dengan musim hujan. Imbasnya jagung yang dipanen memiliki kadar air tinggi.
Widodo menyebut, butuh strategi bagi petani untuk memperoleh keuntungan dengan melakukan penanaman lebih awal. Pemilik lahan sekitar setengah hektar tersebut mengaku, menanam padi varietas sumo.
Proses penanaman pada bulan Oktober 2018 silam disebutnya bisa dipanen pada awal Februari saat sejumlah petani belum panen. Strategi menanam awal, diakuinya membuat ia bisa mendapatkan hasil penjualan menjanjikan. Sebab dengan hasil panen sekitar 2 ton, seharga Rp5.500 saja ia mendapatkan hasil Rp11 juta.
“Sehabis panen saya langsung melakukan proses pembersihan lahan atau perun agar bisa mempercepat proses penanaman dengan sistem tajuk atau tugal. Karena kondisi tanah masih dalam kondisi gembur seusai penanaman tahap pertama,” terang Widodo, salah satu petani jagung di Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Senin (4/3/2019).
Widodo menyebut, penanaman jagung lebih awal diakuinya sekaligus didukung dengan adanya pasokan air sungai yang lancar. Pasokan air sungai Way Tuba Mati yang lancar, saat musim hujan diakuinya menjadi pendukung untuk proses penanaman jagung lebih awal.
Sejumlah penanam jagung yang menanam lebih lambat, berimbas panen juga lebih lambat, bertepatan dengan harga yang rendah. Sebab proses pemanenan dilakukan bersamaan dengan petani lain, berimbas pasokan jagung melimpah.
Widodo menyebut, harga jagung yang masih tinggi hanya bisa dinikmati oleh sejumlah petani. Sebab faktor alam dengan ketersediaan air yang terbatas, membuat petani belum bisa menanam jagung lebih awal.
Sejumlah petani disebutnya juga melakukan proses penanaman lebih lambat, karena proses menanam jagung memerlukan sejumlah buruh tanam. Buruh tanam yang kerap harus memerlukan puluhan orang membuat penanaman kerap lebih lambat.
Petani lain yang mendapatkan keuntungan dengan memilih menanam lebih awal, di antaranya Suko Basuki.
Petani di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan tersebut mengaku, dukungan fasilitas irigasi membuat ia bisa menanam lebih cepat. Menanam jagung dengan hasil panen sekitar 3 ton, ia menyebut masih mendapatkan harga sekitar Rp5.800 per kilogram untuk jagung pitilan.
Harga yang cukup tinggi diakuinya membuat ia memperoleh keuntungan yang bisa dipergunakan untuk modal menanam jagung pada musim berikutnya.
Penanaman jagung lebih cepat dibandingkan petani lain menjadi strategi bagi petani untuk mendapatkan hasil yang lebih menguntungkan. Sebab memasuki pekan pertama bulan Maret, harga jagung pitilan di tingkat petani hanya mencapai Rp3.600 di tingkat gudang setelah dipotong kadar air.
Semakin tinggi kadar air, harga jagung dipastikan akan semakin rendah, karena panen dilakukan saat musim penghujan. Proses penjemuran dengan sinar matahari disebutnya kerap terhambat dengan hujan yang kerap melanda wilayah tersebut.

Petani jagung bernama Subiono, warga Desa Kelaten menyebut, ia mulai memanen jagung pada awal bulan Maret. Saat proses panen ia mengaku, harga jagung di tingkat petani hanya mencapai Rp3.900 per kilogram.
Harga tersebut diakuinya bagi sejumlah petani masih cukup merugikan sebab biaya operasional untuk penanaman jagung cukup tinggi. Sejak proses pengolahan lahan, pembelian benih, proses pemupukan, pemanenan hingga proses distribusi membutuhkan biaya yang cukup tinggi.
Subiono menyebut, ia mengaku berusaha menanam jagung lebih awal namun terkendala peralatan dan modal.
“Saat akan menanam jagung, sejumlah petani terkendala oleh modal serta peralatan sehingga memilih menanam jagung secara serentak dengan risiko harga anjlok,” beber Subiono.
Subiono tidak menampik, sejumlah petani yang menanam jagung lebih awal berpotensi memperoleh hasil panen menguntungkan. Meski demikian, ia menyebut, keterbatasan modal dan peralatan membuat ia memilih menanam bersamaan dengan petani lain.
Sistem arisan menanam jagung atau sistem bergantian membuat ia dan sejumlah petani memilih menanam jagung secara bersamaan.