Petani di Bakauheni Mulai Tanam Melon Sambut Ramadan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Banyaknya permintaan akan buah segar jenis Melon di sejumlah pasar tradisional, dimanfaatkan oleh warga di Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel), dengan mengembangkan budi daya buah tersebut. Salah satunya, Melon jenis Luna.

Rifki, warga Dusun Gubuk Seng, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, mengatakan, setiap tahun ia menanam buah Melon dengan memperhitungkan peluang permintaan, terutama menjelang bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri. Sebagai buah segar, Melon banyak diminati untuk sajian buah potong bersama kuliner lain.

Rifki mengaku sengaja menanam buah Melon untuk memenuhi permintaan sejumlah pelaku usaha kuliner, di antaranya pelaku usaha katering serta usaha es buah.

Menurutnya, permintaan buah Melon akan semakin meningkat saat menjelang bulan Ramadan, untuk pasar lokal hingga ke wilayah Banten. Sedangkan penanaman Melon memanfaatkan lahan perbukitan setempat, yang kerap dipergunakan sebagai lokasi budi daya sayuran.

Buah Melon varietas hibrida Luna yang siap panen -Foto: Henk Widi

“Permintaan buah segar, terutama Melon sebagai varian sajian untuk buah potong, jus buah dan es buah, kerap diminta sejumlah restoran dan warung kuliner,” terang Rifki, saat ditemui Cendana News, Sabtu (30/3/2019).

Semlama ini, lanjutnya, kebutuhan akan Melon kerap disediakan oleh pengepul buah yang akan mengambil buah tersebut saat panen. Masa tanam hingga panen buah Melon yang singkat selama dua bulan, membuat Rifki melakukan sistem budi daya terjadwal, sehingga dalam kurun waktu dua bulan bisa melakukan dua kali pemanenan.

Satu kali panen, Rifki bisa memanen sekitar 2 ton buah Melon segar berbagai ukuran. Jenis Melon Luna, disebutnya memiliki rasa yang manis dan renyah, sehingga disukai konsumen.

Pada Maret ini, ia menanam Melon dengan usia sekitar satu bulan, dengan target panen pada akhir bulan April. Sebagian tanaman Melon, bahkan sengaja ditanam dengan prediksi bisa dipanen saat memasuki bulan Ramadan.

Pangaturan sistem tanam Melon, katanya, menjadi salah satu cara ketersediaan Melon bisa dipenuhi setiap bulan. Maraknya pemilik usaha kuliner dengan bahan baku buah Melon segar, sekaligus menjadi peluang tingginya permintaan.

“Pola konsumsi masyarakat akan buah segar yang meningkat, ikut mendorong petani lokal bisa memberi pasokan tepat waktu,“ beber Rifki.

Sebagai peluang agro bisnis, Rifki juga menyebut penanaman buah Melon menjadi peluang usaha bagi masyarakat. Sebab, penanaman buah Melon memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar yang terlibat dalam proses penanaman, perawatan hingga pemanenan.

Rantai produksi tanaman Melon, sebut Rifki, dimulai dari proses penanaman hingga pascapanen, yang seluruhnya bisa memberi keuntungan sejumlah pihak. Meliputi upah tenaga kerja hingga buah Melon dipasarkan sebagai buah segar serta bahan kuliner.

Permintaan buah Melon paling dominan, menurut Rifki, berasal dari sejumlah pasar lokal dan sebagian dari wilayah Banten. Saat panen, ia kerap menjual buah Melon dengan cara berkeliling menggunakan mobil.

Harga Melon, menurut Rifki, dijual berdasarkan berat dengan harga per kilogram saat ini berkisar Rp5.000 hingga Rp6.000 di tingkat petani. Sementara saat dijual dengan sistem eceran, harga buah Melon bisa mencapai Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

Petani buah Melon lainnya, Solihin, asal Bakauheni, juga menyebut prospek menanam buah Melon sangat besar. Pasalnya, permintaan buah Melon selama ini cukup stabil. Pada musim hajatan atau pesta, buah Melon kerap diminta dalam jumlah banyak untuk sajian pelengkap prasmanan. Ia sendiri menanam Melon dengan sistem berselang, sesudah menanam cabai merah.

“Menanam Melon memang harus memperhitungkan momen, meski sepanjang waktu bisa ditanam. Namun ada waktu tertentu, saya menanam dalam jumlah banyak,” cetus Solihin.

Solihin melakukan pembersihan rumput di lahan Melon miliknya -Foto: Henk Widi

Solihin juga menyebut, pada kondisi biasa, ia kerap menanam Melon dengan jumlah sekitar 1.000 tanaman dan lebih banyak saat menjelang bulan suci Ramadan. Bertepatan dengan bulan Ramadan, ia bahkan menanam Melon dengan sistem mundur dengan perhitungan waktu tanam hingga panen bisa mencapai dua bulan.

Waktu tanam yang tepat, katanya, juga memperhitungkan kondisi cuaca, sehingga pertumbuhan tanaman Melon akan maksimal.

Solihin menyebut, dengan harga rata-rata per kilogram Rp5.000 di tingkat petani, dan hasil panen sekitar 2 ton, ia bisa mendapatkan hasil kotor sekitar Rp10 juta. Dikurangi biaya produksi untuk penyediaan mulsa, bibit, lanjaran bambu, perawatan hingga pascapanen, ia bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp4 juta.

Penanaman buah Melon yang menguntungkan, sebutnya, juga didukung bibit berkualitas, sekaligus pasokan air memadai dari sungai Gubuk Seng dengan sistem pompanisasi.

Solihin menyebut, kebutuhan akan buah Melon segar yang tinggi, membuatnya mantap tetap membudidayakan buah tersebut. Keberadaan sejumlah kafe serta usaha kuliner jus buah di sejumlah objek wisata, juga ikut mendorong permintaan buah tersebut secara berkelanjutan.

Lihat juga...