Petambak Udang di Lamsel Keringkan Lahan Akibat WSS
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Usai diserang penyakit White Spot Syndrome (WSS) atau bintik putih, sejumlah pembudidaya udang putih atau vaname melakukan proses pengeringan lahan.
Luah, salah satu petambak udang di Desa Bandar Agung, menyebut, akibat penyakit WSS itu sebagian besar udang miliknya mengalami kematian. Udang yang terkena WSS pada awalnya mengalami stress dan menular ke udang lain. Penyakit bintik putih membuat udang miliknya tidak bisa dipanen. Udang yang mati berwarna merah muda, sehingga ia mengalami kerugian.

Akibat terkena penyakit WSS, tambak seluas dua hektare yang bisa menghasilkan udang sekitar 4 kuintal, harus menurun menjadi 60 kilogram.
Mengantisipasi agar tak menular ke tambak lain, ia melakukan pengeringan tambak. Pengurasan air tambak mempergunakan mesin, sekaligus untuk membersihkan lumpur yang dibuang ke saluran pembuangan.
Menurutnya, saluran pembuangan yang sekaligus pemasukan untuk tambak, disebutnya rentan menjadi penyebab penularan penyakit pada udang. Penyakit pada udang vaname, cepat menular ke udang lain, akibat sirkulasi air tambak yang kurang lancar.
Sebagian petambak udang vaname, sebut Luah, mempergunakan kincir air tenaga listrik, sebagian dengan sistem tradisional. Sistem tradisional untuk sirkulasi pada tambak udang dilakukan dengan memelihara ikan bandeng.
“Pengeringan tambak dilakukan untuk menghindari berkembangnya penyakit WSS, serta parasit lain pada udang. Selanjutnya dilakukan pemberian berbagai jenis obat untuk menetralisir lahan tambak,” beber Luah, Senin (18/3/2019).
Luah menyebut, saluran air untuk tambak udang di wilayah tersebut masih mempergunakan satu saluran. Saluran irigasi tersebut dipergunakan untuk pengisian air saat akan memulai budi daya, dan dipergunakan untuk saluran pembuangan.
Imbasnya, sejumlah tambak di wilayah tersebut rentan terkena virus penyakit, salah satunya bintik putih. Upaya pembuatan saluran pembuangan dan saluran pemasukan terpisah telah dilakukan, untuk meminimalisir virus.
Pembudidaya udang lain, Muhidin, menyebut akibat sanitasi air tambak yang kurang bersih, berimbas munculnya penyakit. Setelah terkena penyakit WSS, pengeringan dilakukan sebelum proses menebar benur atau bibit udang.
Pengeringan tambak tersebut dilakukan satu bulan hingga dua bulan. Setelah pengeringan air dilakukan, pembersihan lumpur juga harus dilakukan.
“Menggunakan alat bernama sipon, lumpur dikuras karena tambak intensif konsentrasi pakan, kotoran udang tercampur lumpur,” beber Muhidin.
Usai proses pengeringan, kata Muhidin, diperlukan sejumlah zat untuk menghilangkan penyakit pada tambak udang. Pada tahap pertama pascapengeringan, tambak harus diberi zat kapur atau dolomit.
Zat kapur dipergunakan untuk menetralisir kondisi air setelah budi daya. Setelah diberi dolomit, lahan tambak diberi zat kupri untuk pembunuh parasit, dan diberi kaporit serta samponen untuk membunuh pertumbuhan hewan air pengganggu.
Sebagai cara untuk meminimalisir tertularnya penyakit pada udang, sebagian petambak mempergunakan sistem sumur bor. Namun penggunaan air laut yang disalurkan melalui sistem pompanisasi, masih sangat diperlukan.
Udang vaname yang membutuhkan air payau, katanya, dipasok dari pantai timur Lampung melalui saluran primer yang dibangun untuk kebutuhan petambak di wilayah tersebut.
Pada kondisi normal, Muhidin melakukan budi daya udang vaname sebanyak 30.000 benur. Pada kondisi normal dengan panen size 60 hingga 70, ia bisa memanen sekitar 1,5 ton per petak.
Namun saat penyakit white spot syndrome pada udang vaname menyerang, ia mengaku sama sekali tidak bisa memanen udang miliknya.
Menurutnya, harga udang vaname saat ini berkisar Rp50.000 per kilogram, sehingga saat terserang penyakit ia bisa mengalami kerugian cukup besar.