Pengamat: Banyak Tambang di Malut Sepelekan Lingkungan
TERNATE – Sejumlah pengamat tambang di Maluku Utara (Malut), menilai, sektor industri pertambangan memberikan peranan cukup besar bagi perekonomian negara, mulai dari peningkatan ekspor. Tetapi, sebagian besar masih mengabaikan masalah lingkungan.
“Selain memiliki peranan yang sangat penting, ternyata industri pertambangan bukanlah sektor industri yang sederhana, karena sektor industri ini merupakan industri yang sarat dengan modal, teknologi, keahlian dan juga risiko yang tinggi,” kata pengamat pertambangan dari UMMU Ternate, H Rustam Muh Nur, S.Hut, M.Si., di Ternate, Selasa (19/3/2019).
Menurtnya, salah satu risiko dari kegiatan pertambangan ini berupa dampak yang ditimbulkannya bagi lingkungan. Meskipun bisa meningkatkan aktivitas ekonomi, sampai pada meningkatkan pendapatan negara maupun pendapatan daerah.
Hal tersebut terbukti dari adanya fakta, bahwa sektor energi dan pertambangan berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2018, mencatat realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor energi dan pertambangan mencapai Rp 217,5 triliun. Angka tersebut menyumbang 53,4 persen PNBP nasional.
Dia menyatakan, selain memberikan peranan besar bagi perekonomian negara, sector energy dan pertambangan juga memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan energi di Indonesia.
Sebagian besar kebutuhan energi untuk transportasi, listrik, industri, bahkan kegiatan rumah tangga di Indonesia, berasal dari sumber daya tambang. Karena itu, sektor pertambangan memiliki peranan yang sangat penting bagi Indonesia.
“Seluruh proses pelaksanaan kegiatan operasional eksplorasi dan eksploitasi tambang, secara langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan dampak yang besar maupun kecil bagi lingkungan sekitarnya,” kata Rustam.
Menurutnya, dalam melakukan operasi pertambangan, perusahaan-perusahaan harus memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkannya, terutama bagi alam dan lingkungan sekitar. Perusahaan tambang wajib menjaga dan memelihara lingkungan sekitar lokasi konsesinya, jangan sampai setelah kekayaan alamnya dikeruk sampai habis, namun justru merusak alam dan lingkungan sekitarnya.
Selain itu, salah satu dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh penambangan bagi alam dan lingkungan sekitar, ialah perubahan kondisi suhu dan cuaca. Dalam hal ini, terjadi peningkatan suhu yang cukup drastis, dan cuaca menjadi lebih panas dari pada sebelumnya.
Penyebabnya adalah pohon-pohon yang semula masih banyak dijumpai, kini sudah dibabat habis untuk kepentingan eksploitasi pertambangan.
Rustam mengakui, tidak dapat dipungkiri, banyak izin pertambangan di Malut yang menyepelekan lingkungan, padahal, pengelolaan seharusnya menjadi prioritas, seakan terabaikan. (Ant)