Pedagang Keliling: Sukses itu Perlu Ketekunan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — “Menjadi sukses membutuhkan ketekunan. Berbagai jenis lapangan pekerjaan tetap bisa menghasilkan uang jika dijalani dengan ketekunan,” sebut Giyanto (40), salah satu pedagang perabotan rumah tangga keliling saat berbincang-bincang dengan Cendana News, Selasa (26/3/2019).

Giyanto warga Laweyan, Solo, Jawa Tengah ini awalnya tidak memiliki pekerjaan saat berada di kampungnya. Saat merantau ke Lampung Selatan (Lamsel) diajak sama rekannya, ia memulai usaha berjualan perabotan rumah tangga keliling.

Tahap awal dimulai dengan modal awal Rp2 juta. Sejumlah barang diambil dari  suplier lalu dijual berkeliling menggunakan sepeda motor.

“Saya membuat kotak terbuat dari papan yang dimodifikasi. Kotak dipasang pada jok motor sebagai tempat menggantung atau mengikat semua perabotan rumah tangga sembari berkeliling ke pedesaan” terang Giyanto.

Sebagai usaha kecil yang dilakukan dengan kendaraan roda dua, Giyanto memiliki cara unik saat berkeliling. Banyaknya penjual keliling menggunakan kendaraan roda dua diantaranya pedagang somay, bakso, cendol, sayuran membuat ia menggunakan speaker khusus. Speaker khusus tersebut berisi rekaman bersuara “Perabotan! Prabotan!” seperti jingle pedagang es keliling. Sesekali ia juga berhenti menawarkan perabotan ke sejumlah rumah terutama saat ada sejumlah ibu rumah tangga berkumpul.

“Sebagian ibu rumah tangga sudah memiliki perabotan namun ada yang membeli perabotan baru sebagai ganti perabotan lama,”cetus Giyanto.

Sepanjan Februari hingga Maret, ia menyebut bisnis berjualan perabotan menangguk omzet cukup banyak. Pasalnya pada masa tersebut di wilayah Lamsel sedang memasuki masa panen raya jagung dan padi. Pada masa panen kebutuhan akan perabotan cukup meningkat terutama gelas plastik, piring plastik serta teko plastik.

Masa panen dengan adanya penghasilan petani dari menjual jagung dan padi berimbas daya beli masyarakat juga meningkat. Pada masa panen tersebut ia bahkan bisa mendapatkan omzet Rp600 ribu hingga Rp1 juta per hari.

Giyanto mengaku mengambil keuntungan mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 dari setiap barang yang dijual. Meski memperoleh keuntungan minim namun ia menyebut sistem penjualan keliling membuat barang dagangannya laku. Ia juga tidak khawatir karena perabotan rumah tangga tersebut merupakan barang yang tidak mudah rusak.
Sumarni membayar perabotan rumah tangga yang dibeli dari pedagang perabotan keliling. Foto: Henk Widi

Usaha berjualan keliling perabotan diakuinya bukan tanpa pesaing, sebab saat ini mulai marak usaha sejenis. Pedagang perabotan rumah tangga keliling sebagian bahkan memakai mobil. Meski berjualan dengan motor, setidaknya dalam satu bulan ia bisa mengantongi omzet rata rata Rp2 juta hingga Rp3 juta perbulan. Hasil penjualan sebagian digunakan sebagai modal dan ditabung.

“Sebagai perantau saya berdagang untuk digunakan merehab rumah yang ada di Solo dan nanti saat Ramadhan hingga Idul Fitri bisa digunakan untuk mudik,” beber Giyanto.

Sumarni (50) salah satu ibu rumah tangga di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan mengaku terbantu adanya penjual perabotan keliling. Pada masa panen jagung ia mengaku membutuhkan dua lusin gelas dan piring plastik. Pasalnya ia mempekerjakan sekitar 20 orang untuk memetik jagung sebagian mengangkut jagung ke rumah.

Saat berada di kebun piring plastik dan gelas plastik lebih praktis dibandingkan gelas dan piring kaca. Ia juga membeli peralatan dandang untuk memasak air saat berada di kebun jagung pada musim panen tersebut.

“Sangat membantu adanya pedagang perabotan karena tidak harus jauh jauh ke pasar sekaligus harga terjangkau,” beber Sumarni.

Lihat juga...