Masyarakat di Padang Bersihkan Batang Arau Sepanjang 3,5 Kilometer

Editor: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Sebanyak 2.500 masyarakat di Kota Padang, Sumatera Barat, turun ke kawasan Batang Arau melakukan pengutipan sampah-sampah yang mengapung di kawasan sungai. Aksi bersih-bersih sampah di sungai ini dalam rangka memperingati Hari Air dan Hari Sampah Nasional 2019.

Kegiatan yang dihendel oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, bersama sejumlah pihak ini, melakukan bersih sungai sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer. Selain dilakukan dengan cara mengutip di pinggiran sungai, juga ada sejumlah boat atau perahu yang dikerahkan memilih sampah yang mengapung di Batang Arau.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, Yosmeri, mengatakan, kegiatan tersebut berbentuk gotong royong itu, juga turut melibatkan pihak TNI seperti Lantamal, Korem, Lanud dan Polri, serta Badan Usaha Milik Nagari (BUMN) PT. Semen Padang.

“Jadi 2.500 peserta yang tergabung dalam bersih Batang Arau ini juga ada dari petugas penjaga pintu air, LSM Peduli Lingkungan dan ASN Provinsi serta ASN Kota Padang, masyarakat sekitar Batang Arau,” katanya, Sabtu (23/3/2019).

Ia menyebutkan, salah satu alasan digelarnya kegiatan tersebut, karena DKP peduli akan kebersihan sungai. Artinya apabila sungai bersih, maka ikan-ikan yang hidup di dalam Batang Arau ini dapat hidup dengan baik.

Hal ini dikarenakan, sampah tidak hanya mencemari udara, tapi juga mengganggu ekosistem ikan yang ada di dalam sungai.

Yosmeri menyatakan, sampah-sampah yang banyak bertebaran di Batang Arau itu kebanyakan sampah dari rumah tangga yang sengaja dibuang ke sungai, yang akhirnya masuk ke laut berakibat tercemarnya laut.

“Kalau kondisi ini sampai ke laut, maka dampaknya untuk habitat yang ada di laut, seperti bisa rusaknya terumbu karang, dan mengurangi hasil tangkapan nelayan. Maka dari DKP berharap betul kegiatan ini benar-benar membuat sungai bersih,” ujarnya.

Dikatakannya, salah satu bentuk sampah yang telah mengganggu hasil tangkapan nelayan, terlihat bagi nelayan pukat yang ada di Pantai Purus Padang. Dari 5 baskom hasil tangkapan ikan yang menggunakan pukat, kini dengan kondisi banyaknya sampah, telah mengurangi hasil tangkapan yakni tidak lebih dari tiga baskom.

“Saya ada melihat langsung bahwa isi pukat nelayan itu banyak isi yang merupakan sampah rumah tangga seperti plastik, kain, baju, kaleng, dan lain sebagainya. Besarnya limbah di Batang Arau, juga pernah terjadi di beberapa sungai lainnya seperti Batang Anai, Banda Bakali,” ucapnya.

Yosmeri melihat, dengan adanya kegiatan gotong royong itu untuk mengeduķasi masyarakat dalam budaya hidup bersih dan menjaga air.

Selain itu, melalui kegiatan tersebut juga akan menumbuhkan kesadaran lingkungan, sehingga penataan Batang Arau bisa lebih baik dan menjadi tujuan wisata air.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, yang turut turun melakukan gotong royong membersihkan Batang Arau mengatakan, dengan adanya kegiatan tersebut, ditargetkan di usia 1,5 tahun mendatang Batang Arau mulai dari hulu sampai muara jadi bersih dan indah, menjadi tujuan wisata air dan kuliner.

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno saat memberikan sambutan di kegiatan gotong royong membersihkan Batang Arau dalam rangka memperingati Hari Air dan Hari Sampah Nasional/Foto: Istimewa

“Jika itu bisa terwujud, pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan serta masyarakat pesisir,” ujarnya.

Irwan menyampaikan, supaya terwujud sungai yang bersih, maka Batang Arau perlu dilakukan langkah-langkah pascagotong royong massal. Seperti dilakukannya gotong royong secara rutin tiap minggu oleh lurah dan masyarakat pinggiran sungai di lingkungan masing-masing.

Menurutnya, jika perlu gotong royong dilakukan secara massal dengan waktu yang berkala minimal 3 bulan lagi, supaya bisa memotivasi warga. Artinya jika semuanya berkomitmen melakukan bersih-bersih pantai ini secara berkala, maka masyarakat telah turut peduli terhadap kondisi sungai dan juga laut.

“Saya berharap kepada pihak lainnya seperti BUMN ada partisipasinya berupa CSR untuk kegiatan bersih-bersih sungai, baik berupa bantuan sarana kebersihan seperti tempat sampah dan pembuatan bilboard,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Gubernur juga melihat, perlu adanya pengaturan dan penataan parkir kapal di Batang Arau, baik kapal nelayan maupun kapal wisata dan kapal penumpang, sehingga sungai tertata dengan baik dan indah.

“Agar hal tersebut bisa terlaksana dengan baik dan terprogram, kiranya Wali Kota Padang mengatur dengan mengeluarkan regulasi berupa peraturan-peraturan khusus untuk Batang Arau,” ucapnya.

Lihat juga...