HUT ke-46, ASDP Perkenalkan Beragam Kuliner Nusantara

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-46 PT. Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) ke-46 Indonesia diisi dengan beragam kegiatan. Pada puncak peringatan HUT ASDP Indonesia Ferry diisi dengan mempertemukan ratusan pekerja atau pegawai perusahaan BUMN yang fokus pada sektor jasa transportasi perairan tersebut. Kegiatan pertemuan para pekerja atau employee gathering diselenggarakan di terminal eksekutif Pelabuhan Bakauheni Lampung.

Ratusan karyawan yang berasal sejumlah lintasan dilibatkan dalam kegiatan employee gathering, di antaranya dari ASDP Sibolga, Sumatra Utara, ASDP Merak, ASDP pusat serta sejumlah cabang.

Humas PT. ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, Syaifulail Maslul, menerangkan kegiatan itu sekaligus untuk memperkenalkan beroperasinya terminal eksekutif Bakauheni dan Merak. Kegiatan mempererat kebersamaan antarpekerja tersebut, diisi dengan sajian kuliner tradisional yang bisa dinikmati peserta yang hadir.

Syaifulail Maslul, Humas PT. ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni -Foto: Henk Widi

“Kegiatan employee gathering menjadi kegiatan pertemuan kekeluargaan antarpekerja, sehingga menumbuhkan kebersamaan, salah satunya dengan adanya sajian kuliner tradisional,” terang Syaifullail Maslul, saat ditemui Cendana News di terminal eksekutif Bakauheni, Sabtu (30/3/2019).

Menurutnya, kegiatan ini menjadi cara memperkenalkan sejumlah kuliner Nusantara saat disajikan di terminal eksekutif. Syaifulail Maslul mengungkapkan, kehadiran makanan tradisional di terminal eksekutif juga bisa ditemui di lantai satu dan dua pada hari biasa.

Terminal yang disebut sebagai Anjungan Agung dengan tiga lantai tersebut menyediakan makanan tradisional seblak, keripik, otak-otak, gedang kriuk, jipang serta makanan khas Lampung lainnya.

Terminal eksekutif Bakauheni yang dikenalkan pada kegiatan employee gathering, menjadi fasilitas terintegrasi antara pusat bisnis,p elayanan transportasi serta hiburan.

Dermaga eksekutif menghadirkan sejumlah makanan tradisional untuk dinikmati masyarakat. Selain melayani pengguna jasa yang akan menyeberang, terminal eksekutif juga bisa melayani masyarakat umum.

“Tenan atau tempat penjualan untuk produk kuliner serta hasil usaha kecil, memang belum seluruhnya terisi. Nantinya akan semakin lengkap untuk memperkenalkan sajian kuliner nusantara,” terang Saifulail Maslul.

Sejumlah kuliner tradisional yang sudah dijual di terminal eksekutif Pelabuhan Bakauheni, diantaranya Seblak. Selain itu, sejumlah lokasi penjualan minuman kopi yang ditempatkan pada Rumah Kreatif Bakauheni (RKB) bersama dengan produk kuliner tradisional khas Lampung.

Rumah kreatif tersebut menjadi tempat untuk menjual sejumlah makanan tradisional yang sudah dikemas, agar semakin meningkatkan pendapatan masyarakat dari sektor kuliner.

Khusus pada kegiatan employee gathering, hidangan yang disediakan di antaranya nasi bakar serta soto bangkong. Nasi bakar, sebut Syaifulail Maslul, merupakan makanan tradisional yang disajikan secara unik. Nasi tersebut diolah dengan cara khusus dengan menu lengkap bersama nasi serta lauk pauk, seperti empal daging sapi, orek kacang serta tempe dilengkapi sayur. Selain menu nasi bakar, sajian yang disiapkan berupa Soto Bangkong.

Soto Bangkong merupakan varian Soto dari Semarang, Jawa Tengah, yang terkenal cita rasanya yang nikmat.

Mayo, pramusaji Soto Bangkong di Bakauheni menyebut, Soto Bangkong langsung didatangkan dari Jakarta. Ia menyebut, kekhasan Soto Bangkong bermula dari nama rumah makan Bangkong di Semarang, sehingga sampai kini soto khas Semarang tersebut dikenal dengan nama Soto Bangkong.

Mayo, pramusaji Soto Bangkong menyajikan kuliner tradisional tersebut pada kegiatan employee gathering HUT ke-46 PT. ASDP Indonesia Ferry di Bakauheni,Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Pada HUT ke-46 PT.ASDP Indonesia Ferry, ia dipercaya oleh panitia untuk menghidangkan lebih dari sekitar 500 porsi Soto Bangkong.

“Ciri khas Soto Bangkong disajikan memakai mangkuk kecil, porsinya memang kecil, tetapi bisa nambah lagi bagi yang kurang,” papar Mayo.

Mayo menyebut, sejatinya Soto Bangkong terbuat dari bahan-bahan utama untuk membuat soto. Bahan yang diperlukan berupa daging ayam yang disuwir serta beberapa bahan bumbu, di antaranya jahe, lengkuas, serai, daun salam, daun jeruk, garam. Selain itu sejumlah bumbu ditambahkan, seperti daun bawang, irisan seledri, bawang putih, bawang merah goreng yang akan disusun dalam mangkuk.

Selanjutnya, mie soun serta toge yang disiapkan akan disiram dengan kuah kaldu. Tambahan tempe bacem, sate telur puyuh, jeroan serta perkedel kentang menjadi pelengkap Soto Bangkong yang disajikan.

Rendy, salah satu warga Lampung Selatan, mengaku baru pertama kali menikmati soto tersebut. Ia mengaku, varian makanan tradisional berupa soto kerap ditemui di Lamsel, namun Soto Bangkong yang disajikan saat employee gathering PT. ASDP Indonesia Ferry, membuat ia bisa menikmati soto tersebut.

Rasa yang khas dengan gurihnya bumbu serta suwiran daging ayam menjadi hidangan istimewa saat momen kebersamaan tersebut.

“Rasanya cukup gurih dan lezat, apalagi soto bangkong disajikan lengkap bersama nasi sekaligus lauk sate jeroan,” beber Rendy.

Rendy berharap, terminal eksekutif yang berkonsep modern tersebut bisa menjual sejumlah makanan tradisional. Makanan tradisional yang ada di wilayah Lampung bisa diperkenalkan kepada masyarakat yang akan menyeberang melalui pelabuhan Bakauheni.

Sebab,. dengan keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar, sejumlah rumah makan di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) semakin sepi. Sebab, setelah mengakses jalan tol, masyarakat langsung menuju ke terminal eksekutif serta sejumlah dermaga di pelabuhan Bakauheni.

Lihat juga...