UMKM di Lampung Selatan Masih Terkendala Modal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Potensi usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini terus tumbuh dan berkembang di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel). Kendala utama dari pelaku usaha yakni keterbatasan modal, yang saat ini masih secara swadaya.

Seperti yang dialami Agus Setiawan, perajin berbahan dasar bambu, akar kayu dan batok kelapa di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan.

Berbekal modal seadanya sekaligus peralatan sederhana, ia mampu memproduksi souvenir untuk pernikahan, di antaranya miniatur perahu, rumah, lampu hias, asbak, gelas, serta sejumlah kreasi seni.

Disebutkan, sistem pemasaran memanfaatkan sarana yang ada, seperti media sosial. Berbekal gawai android, sarana tersebut sangat efektif untuk memperkenalkan produk. Bahkan saat ini langganannya berasal dari perseorangan, pemilik cafe serta sejumlah warga yang akan melakukan hajatan.

“Meski permintaan masih terbatas namun dengan ketekunan saya tetap menggunakan potensi dan peluang bahan baku melimpah untuk memproduksi barang kerajinan yang ada,” beber Agus Setiawan saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (26/2/2019).

Disebutkan, meski produksi terus berjalan, namun ia berharap bisa mendapat fasilitas perizinan usaha. Sebab dokumen tersebut menjadi salah satu syarat baginya untuk memperoleh pinjaman lunak dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Sebagai upaya memperkenalkan produk setiap ada pameran saya selalu ikut dan memasarkan melalui media sosial,” terang Agus Setiawan.

UMKM
Jawiyah, memperlihatkan produk makanan olahan tradisional hasil buatannya berupa sale pisang, keripik pisang, pangsit goreng. Foto: Henk Widi

Senada dengan Agus Setiawan, pelaku usaha kecil bidang makanan tradisional, Jawiyah mengaku usahanya dilakukan secara mandiri. Wanita yang memiliki usaha di Dusun Karanganyar, Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan tersebut mengaku masih mengandalkan modal swadaya. Produksi makanan tradisional yang dibuat berupa sale pisang, keripik pisang, tusuk gigi, pangsit.

“Pemasaran masih dilakukan secara sederhana dengan menitipkan ke sejumlah warung, sebagian dikirim ke tempat penjualan oleh-oleh,” beber Jawiyah.

Pasokan bahan baku yang mudah diperoleh disebut Jawiyah membuat ia tetap optimis usaha kecil pembuatan makanan tradisional tetap berjalan. Salah satu upaya memasarkan produk disebut Jawiyah juga mendapat dukungan dari desa dengan terlibat dalam kegiatan pameran agar produknya semakin dikenal.

Nanang Ermanto, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Selatan dalam safari Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembangcam) berjanji untuk memfasilitasi berbagai produk UMKM.

Nanang Ermanto menyebutkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Lamsel telah memiliki sejumlah gerai di Dermaga Eksekutif Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

“Keberadaan gerai di dermaga eksekutif bisa digunakan untuk memasarkan produk unggulan seperti keripik pisang, sejumlah kerajinan melalui Dekranasda,” beber Nanang Ermanto.

Ia juga berharap kepada sejumlah kepala desa yang ada di sejumlah kecamatan untuk memberi dukungan pelaku UMKM yang ada di desa masing masing. Upaya menghidupkan perekonomian masyarakat di sebutnya didorong dengan dukungan bagi kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta peran serta Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K).

“Kreativitas masyarakat melibatkan kaum ibu rumah tangga bisa ikut difasilitasi melalui pelatihan terkait produksi serta cara pemasaran,” tambahnya.

Sejumlah produk yang menjadi unggulan di beberapa kecamatan menurut Nanang Ermanto berupa pisang yang diolah menjadi keripik. Sejumlah usaha kecil menengah yang melakukan produksi olahan tradisional tersebut merupakan sumber pendapatan bagi pelaku UMKM yang ada di Lamsel.

Beberapa dukungan diantaranya menggandeng Kementerian Perindustrian di Lamsel dilakukan melalui pelatihan penjualan dengan sistem dalam jaringan (daring) untuk mempermudah pemasaran produk.

Lihat juga...