Kemenperin Edukasi Santri di Lamsel Manfaatkan Teknologi Digital
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Upaya mendorong pertumbuhan wirausaha baru di lingkungan pondok pesantren terus dilakukan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kerajinan terus melakukan pembinaan dan pelatihan santri berindustri sebagai bagian dari program Santripreneur.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kerajinan, Gati Wibawaningsih, menyebut, langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan para santripreneur salah satunya di wilayah Lampung Selatan (Lamsel).
Gati Wibawaningsih menyebut, salah satu kegiatan digelar pada Pondok Pesantren Terpadu Ushuluddin, kecamatan Penengahan, Lamsel.
Kegiatan Fasilitasi Pemasaran Digital dilakukan untuk dapat meningkatkan jangkauan akses pemasaran produk-produk industri kecil menengah milik pondok pesantren Ushuluddin.

Pengembangan tersebut di antaranya berupa keterampilan teknis berproduksi yang baik, fasilitas akses pemasaran menggunakan perkembangan tekhnologi digital melalui sistem dalam jaringan (daring) atau online.
Gati Wibawaningsih menyebut, Ditjen IKMA terus aktif dalam menumbuhkan Santripreneur. Sepanjang periode 2013 hingga tahun 2018 Ditjen IKMA Kementerian Perindustrian telah membina sebanyak 20 pesantren dengan lebih dari 3000 santri diberikan pelatihan produksi, motivasi kewirausahaan.
Cakupan ruang lingkup pembinaan di antaranya pelatihan produksi, bantuan mesin pada pengolahan pangan dan minuman. Juga perbengkelan roda dua, kerajinan boneka dan kain perca, konveksi busana, daur ulang sampah dan produksi pupuk organik cair.
“Melalui kegiatan fasilitasi pemasaran digital dengan adanya workshop pemasaran, maka para santri bisa memulai berjualan hingga mengembangkan pasar melalui sejumlah platform jual beli tanah air yang sekaligus menjadi narasumber,” terang Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kerajinan, Gati Wibawaningsih, di Pondok Pesantren Terpadu Ushuluddin, Kamis (14/2/2019).
Sejumlah narasumber yang dihadirkan dari platform tempat jual beli daring karya anak bangsa disebut Gati Wibawaningsih akan ikut berbagi ilmu untuk meningkatkan ekonomi yang ada di pondok pesantren melalui sistem online.
Gati menambahkan, berdasarkan data Kemenperin, pada tahun 2017 sebanyak 54,68 persen populasi Indonesia (143,26 juta jiwa) telah menggunakan internet. Sebagian besar di antaranya sebesar 45,14 persen menggunakan untuk mencari informasi harga, sebanyak 16,83 persen melakukan transaksi jual beli melalui online.
“Sesuai data di atas potensi dunia digital terutama jual beli online harus bisa dimanfaatkan Pesantren Terpadu Ushuluddin yang telah memiliki produk yang mampu dijual di masyarakat,” beber Gati Wibawaningsih.
Menyikapi potensi pemasaran secara daring yang besar, Ditjen IKMA juga telah meluncurkan program e-Smart IKM. Hingga tahun 2018 sudah lebih dari 5945 pelaku IKM dari berbagai daerah yang mengikuti E-Smart IKM dengan total nilai transaksi sebesar Rp1,3 miliar . Pada tahun 2019 ditargetkan jumlah pelaku IKM bisa mencapai total 10.000 IKM.
Ketua Pondok Pesantren Terpadu Ushulddin, KH. Ahmad Rafiquddin mengaku, menyambut baik program Santripreneur dari Kemenperin. Selama ini ia menyebut, pondok pesantren tersebut memiliki santri sebanyak 673 santri.
Kegiatan usaha lain yang sudah dibuat di antaranya konveksi busana muslim dan seragam sekolah, saung kuliner, minimarket dan budidaya ikan lele. Produk yang sudah dikenal masyarakat disebutnya berupa produk sabun cuci piring berbentuk cair.
KH. Ahmad Rafiquddin juga menyebut, melalui program Santripreneur tersebut bisa menambah kegiatan positif. Sebab sebagai lembaga pendidikan pondok pesantren juga menjadi tempat belajar berwirausaha agar saat kembali ke masyarakat santri bisa mandiri.
Melalui usahanya tersebut para santri juga bisa menumbuhkan perekonomian daerah setempat seperti tenaga kerja.
Pondok pesantren terpadu Ushuluddin yang sudah berdiri sejak tahun 2001 tersebut diakui KH. Ahmad Rafiquddin memiliki unit pendidikan berupa Taman Kanak Kanak Harapan, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Ushuluddin, Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin dan Madrasah Aliyah Terpadu Ushuluddin.
Selain membekali para santri dengan pendidikan umum, keagamaan, santri juga dibekali kewirausahaan di lingkungan pesantren.