Daerah di NTT Belum Miliki Sistem Penanganan Sampah

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sebanyak 22 kabupaten dan kota di Provinsi NTT, belum memiliki sistem penanganan sampah yang baik dan benar, sehingga hal ini harus menjadi perhatian dan ditangani secara serius oleh pejabat pemerintah.

“Tidak ada satu pun daerah yang sudah memiliki sistem yang benar terkait pengolahan dan penanganan sampah. Harus ada program yang jelas dan terukur soal ini,” kata Wenefrida Efodia Susilawati, Direktur Bank Sampah Flores, Jumat (8/2/2019).

Wenefrida Efodia Susilowati, Direktur Bank Sampah Flores, sat menjelaskan proses dan manfaat daur ulang sampah. -Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Susi, saat musyawarah rembug pembangunan (Musrembang) mulai dari tingkat desa atau kelurahan, mulai diusulkan programnya. Masyarakat harus membuat program penanganan sampah sendiri.

“Bila pemerintah belum menginisiasi penanganan sampah, maka masyarakat bisa membuat sendiri programnya. Misalnya, untuk wilayah RT dan RW, masyarakat bisa membuat sistem penanganannya sendiri dengan menyediakan petugas pengangkut sampah,” ujarnya.

Masyarakat bisa membuat organisasi dan membayar tenaga kerja sendiri. Bisa memberdayakan masyarakat yang menganggur. Setiap kepala keluarga bisa dimintai dana, secara nasional standarnya Rp15 ribu sampai Rp20 ribu untuk penanganan sampah.

“Kalau menunggu dari pemerintah, butuh waktu lama. Untuk itu, masyarakat harus membuat sistem sendiri, dan bisa menggaji tenaga kerja untuk mengangkut sampah dan membeli sarana pengangkutan sampah,” pesannya.

Dengan begitu, tambah Susi, bisa membuka peluang kerja bagi masyarakat yang menganggur.

“Untuk mengurangi sampah, maka sampah bisa dijadikan ekobrik. Sampah plastik dipotong kecil-kecil, dan dimasukan ke dalam botol dan ditekan menggunakan kayu hingga padat dan botol akan menjadi keras,” jelasnya.

Ekobrick,  sebut Susi, merupakan bata yang ramah lingkungan dan kuat. Ekobrik akan disatukan sehingga bisa dipergunakan sebagai meja, kursi, atau bahkan menjadi pengganti bata untuk membuat dinding rumah. Kekuatannya pun tidak diragukan dan sudah banyak yang menggunakannya.

Usman Eefendi, Ketua RT 04, RW 02, Kelurahan Kota Uneng, Kota Maumere, mengakui kegiatan bakti sosial membersihkan lingkungan yang disertai dengan sosialisasi penanganan sampah, terutama sampah plastik, sangat bermanfaat.

“Ternyata sampah plastik banyak manfaatnya dan bisa diolah kembali menjadi barang yang mempunyai nilai jual, seperti piring, tas bahkan kursi dan meja hingga bata. Kita berharap, agar masyarakat semakin sadar dalam menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan,” tuturnya.

Menurut Usman, selama ini di lingkungan tempat tinggalnya, sampah selalu menumpuk, meski sudah dimasukan ke dalam karung-karung plastik. Mobil atau motor roda tiga yang mengangkut sampah tidak setiap hari mengangkut sampah, sehingga sampah kembali berserakan di jalan.

“Kami berharap, dengan adanya sosialisasi ini bisa ditindaklanjuti dengan sosialisasi kembali dari Bank Sampah Flores, mengenai pengolahan sampah dan sistem penanganan sampah, terutama sampah plastik,” harapnya.

Lihat juga...