Upah Belum Dibayar, Pekerja di Maumere Tutup Jembatan
Editor: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Para pekerja pembangunan jembatan Ubeloler di ruas jalan nasional Trans Flores Maumere-Larantuka, menutup ruas jalan yang melintasi jembatan yang sejak Desember 2018 sudah selesai dikerjakan, agar kendaraan tidak bisa melintas.
“Para pekerja menutup jalan menuju jembatan ini. Informasi ini sudah lama terjadi karena upah pekerja belum dibayar oleh pihak kontraktor,” sebut Timotius Chapsan, Kepala Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Senin (21/1/2019).
Ditegaskan Chapsan, penutupan sudah berulangkali dilakukan sejak jembatan tersebut telah selesai dikerjakan, usai pengaspalan.
“Katanya, pihak kontraktor belum membayar upah sehingga mereka menutup jalan menuju jembatan yang seharusnya sudah bisa dilintasi kendaraan dari arah Maumere menuju Larantuka, atau sebaliknya,” ungkapnya.
Gaspar Gusar, salah seorang pekerja pembangunan jembatan ini menyebutkan, pihaknya merasa kecewa dengan pihak kontraktor PT. Telaga Pasir Kuta, karena selalu berjanji untuk membayar sisa upah, namun tidak pernah terealisasi.
“Setelah dilakukan Provisional Hand Over (PHO ) antara Kontraktor Pelaksana dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK ) Desember 2018, kami sudah berulangkali menagih upah, namun kontraktor hanya berjanji saja, tak kunjung ditepati,” sebutnya.
Hari, selaku pelaksana lapangan dari pihak kontraktor, kata Gaspar, selalu beralasan bahwa uang dari perusahaan belum ditransfer ke rekeningnya. Ini yang membuat dirinya belum bisa melunasi hutang pembayaran upah para pekerja tersebut.
“Kami selalu tagih, tapi dia selalu janji saja. Hal ini yang membuat kami terpaksa menutup jalan menuju jembatan agar tidak dilintasi kendaraan, sebelum hak kami dibayar lunas,” tuturnya.
Menurut Gaspar, kontraktor belum membayar upah pekerja untuk pemasangan batu seluas 500 meter kubik. Menurut perjanjian kerja dengan kontraktor, upah dibayar Rp120 ribu setiap meter kubik sehingga total sekitar Rp60 juta.
“Ada juga upah pekerjaan pengecoran deck, backiting, serta pemasangan tiang pancang jembatan. Selain itu, ada juga biaya pengadaan kerikil serta pasir yang semuanya jika ditotal sebesar Rp100 juta,” bebernya.
Sementara itu, A.A. Gede Esa Aristadathu Sanjaya, PPK 64 Maumere Waerunu, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IV Provinsi NTT kepada Cendana News membenarkan, penutupan jembatan yang dilakukan oleh pekerja proyek di jalan nasional tersebut.

“Memang sudah hampir seminggu jembatan dan jalan menuju jembatan yang sudah selesai dikerjakan dan pernah dilintasi kendaraan tersebut ditutup oleh para pekerja. Informasinya pihak kontraktor belum membayar upah para pekerja,” sebutnya.
Menurut Agung, sapaannya, pihak kontraktor pun sudah dihubungi. Pihak kontraktor berjanji hari ini, Senin (21/1/2019), akan membayar upah para pekerja tersebut. Dirinya juga berjanji akan terus mengawasi kondisi yang terjadi.
“Saya sudah hubungi pihak kontraktor dan mereka berjanji hari ini akan membayar hutang upah para pekerja hingga lunas. Nanti saya akan pantau terus, sebab jembatan ini seharusnya sudah dipergunakan,” ungkapnya.
Disaksikan Cendana News, para pekerja menutup jalan di kedua sisi yang akan menuju jembatan dengan mempergunakan bambu dan kayu. Pada sisi timur jalan menuju jembatan dipasang sebuah tripleks dan ditulis denggan tinta merah berukuran besar, Dilarang Lewat Sebelum Tenaga Kerja Dibayar.
Kendaraan yang melewati ruas jalan ini terpaksa melewati jembatan lama yang berjarak sekitar 3 meter di sisi utara jembatan baru tersebut. Hingga Senin (21/1/2019) sore, belum ada tanda-tanda jembatan ini sudah bisa dilewati.