Sosialisasi Pencegahan Pelecehan Seksual Usia Dini di SDN 01 Kalibaru

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Permasalahan kejadian pelecehan seksual pada anak terus terjadi. Hal itu tidak terlepas dari kurangnya pendidikan seksual untuk anak usia dini. Kurangnya pengetahuan tersebut, menyebabkan anak menjadi rentan mengalami pelecehan seksual.

Sementara, perhatian dari pemerintah masih kurang, oleh karena itu, dibutuhkan program pencegahan seksual pada anak usia dini, dengan bentuk kegiatan penyuluhan dan bimbingan konseling di Sekolah Dasar (SD). Melalui surat kabar atau televisi, dapat dijumpai kasus-kasus yang melibatkan anak usia dini, seperti kekerasan baik itu kekerasan fisik, verbal, mental bahkan pelecehan atau kekerasan seksual.

Bentuk kekerasan seperti itu, biasa dilakukan oleh orang yang telah dikenal anak, seperti keluarga, ayah kandung, ayah tiri, paman, tetangga, guru, bahkan oleh teman sepermainan sendiri. Universitas Mercu Buana, melalui program mata Kuliah Peduli Negeri, yang kali ini dilakukan oleh Upie Barliana, Viviyani, Anita Sihombing, Anselma Carla, Angelia, Rika Emilia, Yunita Tri Utami, dan Slamet Prihatin, yang semuanya merupakan mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Public Relations, melalukan sosialisasi pencegahan pelecehan seksual terhadap anak usia dini di SDN Kalibaru Jakarta Utara.

Upie Barliana, Koordinator kegiatan mengatakan, sosialisasi dengan tema pelecehan seksual terhadap anak, bertujuan memberikan pengetahuan dan pendidikan. Kegiatan dimulai dari pengetahuan paling dasar mengenai pelecehan seksual. Termasuk pengetahuan mengenai kegiatan yang sering terjadi tanpa disadari.

Pilihan mengadakan kegiatan di SDN 1 Kalibaru Pagi, karena sekolah tersebut menjadi target sosialisasi. Menurut data, dari kepala sekolah, terdapat 565 siswa, yang 80 persennya adalah, penerima kartu Jakarta Pintar (KJP). Untuk status ekonomi orang tua dari siswa disekolah tersebut, adalah masyarakat menengah kebawah. Semuanya masih memerlukan edukasi tentang bahaya dan rentannya anak mengalami tindakan pelecehan seksual.

Teddy Bagus Hernowo, salah satu Psikolog, memaparkan materi edukasi tentang pelecehan seksual usia dini kepada orangtua murid. Foto. M. Fahrizal

“Untuk saat ini memang masih belum ada pelaporan atau kasus yang terungkap disekolah ini, akan tetapi, berdasarkan dari pengamatan dan wawancara yang dilakukan terhadap kepala sekolah dan guru, diperlukannya penyuluhan dan konseling tentang pencegahan pelecehan seksual pada anak usia dini,” tandasnya, Selasa (8/1/2019).

Melalui penyuluhan, diharapkan dapat mengenalkan anak tentang organ seksualitas yang dimiliki. Termasuk menjelaskan keberadaan organ tubuh, fungsi dan cara melindunginya. Kemudian, memahami perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), menginformasikan asal usul manusia, Membersihkan alat genital dengan benar agar terhindar dari kuman dan penyakit.

Memahami cara membedakan orang berniat baik atau orang yang berniat buruk. Pengetahuan seks diberikan seefektif mungkin, agar anak tidak mencari informasi mengenai hal tersebut secara mandiri di internet. “Pendidikan seksual juga menjawab semua pertanyaan yang ada dibenak mereka seiring dengan perubahan yang terjadi pada tubuh mereka,” tambahnya.

Yunita Tri Utami, salah satu panitia kegiatan menambahkan, pendidikan seks disekolah dapat membantu anak memahami dampak dari seks dalam kehidupan. Harapannya, anak memiliki pengetahuan yang luas tentang bahayanya, sehingga mampu menghindari perilaku seks berisiko saat mereka beranjak remaja dan dewasa.

Sosialisasi diikuti sekira, lima puluh orang yang terdiri dari orang tua siswa dan anak-anak. Sosialisasi dikemas dalam tiga sesi, berupa penyuluhan kepada orang tua secara mendalam bentuk pelecehan seksual pada anak dan cara pencegahannya. Kemudian, pengenalan pelecehan seksual pada anak. Dan sesi ketiga adalah, sesi konseling, psikolog mendengarkan keluhan yang dialami oleh anak ataupun orang tua tentang pelecehan seksual.

Siska (psikolog) sedang memberikan konseling kepada orangtua murid. Foto. M. Fahrizal

Konseling dilakukan secara pribadi (private), agar orang tua lebih leluasa dan tidak malu, saat mengungkapkan apa yang terjadi pada anak mereka. “Dalam sesi konseling, psikolog tidak akan memberikan diagnose, tapi hanya akan melakukan pengamatan, jika memang terjadi indikasi, maka psikolog dapat menyarankan untuk melanjutkan konseling ke dokter yang lebih ahli yang dapat memberikan diagnose secara mendalam,”Jelasnya.

Legini, S, Kepala Sekolah SDN 01 Kalibaru, mengapresiasi sosialisasi yang diadakan anak-anak mahasiswi UMB. Apa yang disampaikan Siska Christanty dan Teddy Bagus Hernowo selaku psikolog dan narasumber, sangat bermanfaat bagi orangtua murid. “Sangat detail dalam menyampaikan. Orangtua murid juga banyak yang serius dan memperhatikan. Anak-anak mahasiswi UMB juga bisa mengajak anak-anak murid untuk memahami dan mengerti akan pelecehan seksual,” pungkasnya.

Lihat juga...