Selama 2018, di Pekanbaru Ada 193 Kebakaran

Ilustrasi - Kebakaran hutan. Dok CDN

PEKANBARU – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Pekanbaru mendata, selama 2018 telah terjadi 193 musibah kebakaran bangunan dan lahan.

“Dari seluruh kasus itu, terbanyak masih kebakaran bangunan, sedangkan untuk lahan sekira 31 persennya,” kata Kepala DPKP Pekanbaru, Burhan Gurning, Sabtu (19/1/2019).

Penyebab kebakaran bangunan, sebagian besar diakibatkan arus pendek listrik atau korsleting. Ini menandakan jaringan ke rumah warga sudah banyak yang tua dan rawan korsleting. Hal tersebut banyak terlihat di bangunan lama dan berumur. “Kami mencatat dari total kasus 193 terdapat 147 kebakaran gedung dan 46 lahan,” ujar Burhan.

Menyikapi itu, DPKP Pekanbaru, terus berupaya menekan angka kejadian kebakaran. Salah satunya dengan cara merancang aplikasi smart rescue, agar respon petugas lebih cepat. Selain itu, juga meminta masyarakat menyediakan racun api di rumah masing-masing. “Jadi kalau ada kebakaran di rumah yang masih kecil, dapat dicegah dengan racun api yang kecil. Termasuk juga kantor-kantor, perusahaan, perhotelan bisa melengkapinya,” kata Burhan.

Selain itu, mengantisipasi gejala alam musim kemarau yang tiap tahun siklusnya terjadi, maka masyarakat diminta waspada dan turut peduli menjaga lingkungan. Apalagi di 2019, diperkirakan pada Februari, Pekanbaru dan umumnya Riau akan memasuki peralihan kemarau panjang. “Kita meminta masyarakat waspada dan berhati-hati memasuki Februari. Karena peralihan musim dari hujan ke kemarau. Saat itulah banyak terjadi kasus kebakaran rumah dan lahan,” tegasnya.

Data yang berhasil dirangkum dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, sepanjang pekan pertama Januari 2019, tercatat sedikitnya 40 hektare lahan gambut terbakar di Kecamatan Tanah Putih. Kepala Pelaksana BPBD Riau, Edwar Sanger, mengatakan, kebakaran sempat meluas hingga ke wilayah Sungai Sembilan, Kota Dumai. Kedua daerah tersebut, secara geografis terletak berdekatan.

Sedangkan, pada 2018 sedikitnya 1.052 hektare lahan dan hutan di Provinsi Riau terbakar. Kebakaran lahan dan hutan terparah berada di wilayah pesisir Riau yakni Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), rinciannya di Rohil 281 hektare dan di Meranti 200 hektare.

Sementara itu, kebakaran terparah lainnya berada di Kabupaten Pelalawan. Selain lahan, kawasan yang terbakar di sana adalah Taman Nasional Tesso Nilo dan Suaka marga Satwa Kerumutan. Di daerah tersebut lahan yang terbakar mencapai 145 hektare. Di Kabupaten Kampar, luas areal yang terbakar 67 hektare, di Bengkalis ada 62 hektare. Sisanya menyebar di delapan kabupaten dan kota.

Kebakaran pada 2018 jauh menurun dibanding 2017 yang mencapai 2.348 hektare. Kebakaran sangat parah terjadi pada 2015. Luas areal yang terbakar mencapai 5.595 hektare. Kebakaran sempat menyebabkan perekonomian Riau lumpuh, sekolah diliburkan, bandar udara ditutup dan ribuan warga terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). (Ant)

Lihat juga...