YOGYAKARTA – Tahun ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, masih fokus untuk mensukseskan program Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (UBSUS SIWAB), yang digulirkan pemerintah pusat sejak 2017, lalu.
Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahan Pangan DIY, bahkan tahun menetapkan target kelahiran sapi mencapai 56.000 ekor, meningkat dari 2018 lalu yang hanya 45.488 ekor.

Sementara untuk kebuntingan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY menetapkan target 70.000 ekor. Sedangkan target penerima aseptor Inseminasi Buatan (IB) 100.000 ekor. Target IB dan kebuntingan ini menurun dari 2018 lalu, yakni 100.800 aseptor IB dan 70.560 kebuntingan.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahan Pangan DIY, Kurnia Tejawati, mengatakan, khusus untuk bulan Januari 2019 ini pihaknya mentargetkan ada 5.040 ekor sapi yang lahir, 4.200 ekor sapi bunting dan 6.000 ekor sapi mendapatkan IB.
“Sampai dengan tanggal 8 Januari kemarin, sudah ada 3.066 ekor sapi yang mendapatkan IB, 1.512 ekor sapi mengalami kebuntingan dan 1.323 ekor sapi lahir,” ujarnya, kepada Cendana News, Kamis (17/01/2019).
Baru menjabat sebagai kepala bidang yang baru, Kurnia mentargetkan agar persentase keberhasilan Inseminasi Buatan atau kawin suntik yang dilakukan bisa semakin meningkat pada 2019 ini. Ia bahkan menginginkan, persentase IB bisa mencapai 1,5 atau bahkan 1. Artinya, dengan satu kali proses IB, seekor sapi bisa langsung mengalami kebuntingan.
“Kalau rata-ratanya kan masih di angka 2. Jadi, dua kali IB baru bisa bunting. Kita harapkan ini bisa meningkat jadi 1,5 atau kalau bisa 1. Jadi, sekali proses IB sudah bisa langsung bunting,” harapnya.
Untuk dapat mewujudkan harapan tersebut, Kurnia mengaku akan berupaya meningkatkan sejumlah hal, mulai dari upaya peningkatan SDM inseminator atau petugas kawin suntik, meningkatkan standar alat inseminasi, hingga meninggalkan pengetahuan peternak lewat pelatihan-pelatihan, agar semakin memiliki pengetahuan bagaimana menyiapkan dan mengkondisikan ternaknya selama proses IB.
“Tingkat keberhasilan Inseminasi Buatan itu memang tergantung sejumlah hal. Mulai dari si Inseminator, kondisi ternak itu sendiri, kualitas semen bekunya, proses membawa semen beku tersebut, hingga alat untuk membawa semen beku itu sendiri. Kadang peternak telat atau terlalu cepat mengetahui proses birahi ternak, sehingga saat di IB justru tidak jadi,” pungkasnya.