Tari Tenu Mane, Proses Menenun Masyarakat Nagekeo

Editor: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Tarian Tenu Mane yang dipentaskan 6 perempuan remaja asal Kabupaten Nagekeo memikat perhatian pengamat sehingga penampilan mereka saat pentas seni budaya Flores dan Lembata (Florata) 2018 di Maumere mendapat penghargaan sebagai penampil terbaik.

Kabupaten Nagekeo mendapat nilai tertinggi sebesar 2.525 dan mengalahkan 6 kabupaten lainnya yang hadir dari 8 kabupaten yang ada di Pulau Flores dan Lembata Provinsi NTT.

Tarian Tenu Mane, menurut Veky Parera, penata tari asal Mbay, mengisahkan tentang masyarakat desa di Kabupaten Nagekeo dalam menenum kain tenun khas Nagekeo yang dinamakan Ragi Bay.

Veky Parera (kanan) penata tari dan Mensi Ea Staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nagekeo. Foto: Ebed de Rosary

“Tarian ini menceritakan tentang proses menenun kain tenun Nagekeo yang masih dilakoni masyarakat di desa-desa. Ada 6 penari perempuan yang kami libatkan untuk menarikannya serta 2 orang penabuh gong serta gendang,” ujarnya, belum lama ini.

Terlihat 6 perempuan mengenakan kain tenun Nagekeo menggunakan selendang berwarna biru muda di pinggang, melenggak-lenggok memasuki panggung. Di pinggang mereka terlilit tas dari daun lontar.

Saat duduk di lantai, para penari terlihat memperagakan gerak tangan saat sedang menenun selembar kain, menggunakan mesin tenun tradisional hingga menghasilkan selembar kain tenun.

“Kami latihan selama sebulan. Tarian ini merupakan tarian tradisional dan kami modifikasi lagi dengan beberapa gerakan tanpa meninggalkan keaslian gerak saat proses menenun,” ungkap Veky.

Di Kabupaten Nagekeo, kata Veky, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sudah banyak membentuk sanggar tari dan melakukan pelatihan untuk peñata tari sehingga banyak tarian yang ditampikan semakin bagus.

“Kabupaten Nagekeo kaya ragam dan banyak jenis tarian tradisional yang sudah dimodifikasi sehingga terlihat menarik saat dipentaskan dan ditonton masyarakat dari luar Nagekeo,” terangnya.

Veky mengaku merasa biasa saat diumumkan kelompoknya mampu meraih kejuaraan. Ia merasa, kelompoknya sudah menerjemahkan Petunjuk Teknis (Juknis) yang telah diberikan panitia secara benar.

“Kegiatan pentas seni budaya Florata harus lebih fokus menggali budaya orang Flores dan Lembata. Sesekali melakukan pentas di luar daerah. Kalau promosinya hanya di Florata saja budaya kita tidak dikenal di luar daerah,” tegasnya.

Budaya masyarakat Florata, pesan Veky, harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk pariwisata. Tarian ini merupakan garapan baru, digali dari tarian tradisional dan belum dipentaskan dimana-mana.

Mensi Ea, Staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nagekeo saat berbicang bersama Cendana News mengaku, selama mengikuti festival budaya, baru kali ini ia merasa pengamat atau jurinya obyektif dalam menilai.

“Kali ini baru kami merasakan penilaiaannya benar-benar obyektif. Sebab selama ini meski kita sudah mementaskan dengan baik, namun dianggap masih banyak yang kurang,” tuturnya.

Soal busana saja, terang Mensi, meskipun pihaknya sudah menampilkan busana daerah, tetapi tetap saja tidak mendapatkan nilai yang baik. Namun sekarang, penilaian dewan juri sudah lebih baik.

Tarian daerah di Nagekeo banyak jenis yang bisa dibuat dan digarap dari cerita masyarakat. Untuk pementasan tentunya tarian tradisional harus dikemas dengan baik, biar menarik ditonton.

“Seperti tarian ini, kami menggarap dari masyarakat desa di Nagekeo yang menenun kain Hagi Bay yang dipergunakan oleh laki-laki dan kain Nage yang dipakai perempuan. Serta selendang laki-laki dan perempuan,” pungkasnya.

Lihat juga...