Musim Hujan, Kendala Pengeringan dan Harga Komoditas Perkebunan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Musim penghujan yang melanda wilayah Lampung Selatan memberi dampak positif bagi pasokan pengairan lahan sawah. Meski demikian bagi sejumlah petani pekebun, tibanya musim hujan menjadi kendala dalam proses pascapanen serta harga.

Kondisi tersebut diakui Hasanah, salah satu petani pekebun kakao, cengkeh, dan kopi. Warga Desa Tanjungheran, Kecamatan Penengahan, menyebut, hasil panen kakao miliknya cukup melimpah serta ada pula sebagian buah cengkeh sebagai penyelang.

Musim panen kakao bertepatan dengan hujan yang mengguyur wilayah tersebut diakuinya berpengaruh pada kualitas buah. Sebagian buah kakao yang belum dipanen kerap dimangsa oleh hama bajing dan lalat buah sehingga produksi kakao menurun.

Pascapanen buah kakao yang sudah dipanen juga sulit dijemur karena pengeringan ia mengandalkan sinar matahari. Curah hujan tinggi diakuinya membuat kualitas buah kakao turun akibat jamur dan kadar air tinggi.

“Penjemuran masih memanfaatkan sinar matahari karena petani pekebun belum memiliki alat pengering sejenis oven. Hujan yang kerap turun membuat proses pengeringan berjalan lambat sekaligus kadar air tinggi,” papar Hasanah, salah satu petani pekebun kakao di Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Minggu (18/11/2018).

Kondisi kakao dengan kadar air tinggi di atas 18 persen diakuinya mengakibatkan pengepul membeli kakao dengan harga rendah. Pada musim panen bulan-bulan sebelumnya, Hasanah menyebut, terik matahari sempurna membuat kadar air bisa mencapai di bawah 11 persen.

Harga kakao dengan kadar air yang rendah disebutnya masih dihargai Rp28.500 namun saat panen pada musim penghujan harga bisa hanya mencapai Rp22.000 hingga Rp24.000 per kilogram.

Harga kakao bahkan disebutnya bisa berbeda menyesuaikan dengan kualitas kakao yang dijemur. Sejumlah perantara jual beli kakao (cengkau) yang bekerjasama dengan pengepul bahkan bisa membeli lebih mahal atau murah, menyesuaikan kondisi biji kakao yang dijual.

Proses pengeringan saat kondisi panas disebutnya bisa dilakukan selama dua hari mencapai kering sempurna. Tetapi saat musim hujan butuh waktu empat hingga lima hari untuk bisa kering sempurna.

“Pengepul dan pemilik kebun sama-sama sudah paham jika musim hujan kadar air masih tinggi. Namun petani terpaksa menjual kakao karena kebutuhan,” beber Hasanah.

Hasanah juga memastikan, berbeda dengan komoditas pertanian dan perkebunan lain, hasil panen melimpah justru harga kakao meningkat. Sebaliknya, saat hasil panen sedikit harga komoditas kakao ikut turun.

Kondisi tersebut berbeda dengan komoditas kopi dan cengkeh, saat panen raya harga anjlok dan saat panen sedikit harga melonjak. Berkurangnya hasil panen kakao pada musim panen bulan November disebut Hasanah tidak lantas membuat ia menyimpan buah kakao tersebut.

Pamungkas, warga Penengahan memperlihatkan kakao siap panen dengan ciri kulit mulai menguning – Foto Henk Widi

Pilihan tidak menyimpan kakao meski harga anjlok disebut Hasanah karena ia tidak memiliki alat pengeringan dan penyimpanan.

Bagi pemilik mesin pengeringan dan penyimpanan dilengkapi dengan alat pengukur kadar air kakao bisa disimpan lebih lama.

Selain keterbatasan alat, kakao yang dijual disebutnya menyesuaikan kebutuhan. Sekali menjual kakao ia kerap menjual 20 hingga 50 kilogram dan saat panen raya bisa menjual hingga ratusan kilogram kakao kering.

Selain komoditas perkebunan kakao yang terimbas musim hujan, petani pemilik tanaman pinang juga terimbas.

Warni, pemilik tanaman pinang di Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan, menyebut saat musim hujan proses penjemuran pinang lebih lama dibandingkan saat kemarau. Tanaman yang berbuah sepanjang tahun tersebut, diakuinya menghasilkan 5-10 kilogram sekali panen. Harga pinang masih berkisar Rp4.000 hingga Rp6.000 dalam kondisi kering.

“Proses pengeringan buah pinang menjadi lebih lama dan harganya juga anjlok karena kualitas pinang memiliki kadar air tinggi,” beber Warni.

Hasil panen buah pinang menurut Warni masih bisa disimpan dalam kurun waktu lama dengan kantong plastik kedap udara. Penjualan buah pinang kering kerap dilakukan saat buah terkumpul mencapai lebih dari 50 kilogram.

Buah yang terus menghasilkan setiap pekan tersebut membuat ia bisa memanen secara berkelanjutan meski proses pengeringan terhambat akibat hujan.

Komoditas perkebunan jenis kakao, pinang, disebut Warni masih menjadi penyokong ekonomi masyarakat setempat. Tibanya musim penghujan diakuinya menghambat proses penjemuran hasil panen kakao serta pinang.

Meski demikian tibanya musim penghujan membuat petani bisa memanfaatkan lahan untuk menanam jagung. Penanaman jagung tersebut bisa dilakukan sebagai selingan memanfaatkan lahan yang ada.

Lihat juga...