Petani Garam di Probolinggo, Panen Dini

Tambak garam. -Dok: CDN
PROBOLINGGO – Garam di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dipanen dini atau dipercepat, karena cuaca sering mendung menjelang musim hujan di wilayah setempat.
“Memasuki musim peralihan dari kemarau ke musim hujan, cukup membuat petani garam khawatir karena biasanya hujan turun sore hari,” kata petani garam, Hamzah, di Kabupaten Probolinggo, Sabtu (24/11/2018).
Menurutnya, para petani garam tidak mau ambil risiko, sehingga memilih panen garam lebih dini.
“Biasanya, saya memanen garam ketika berusia 7-10 hari di meja kristalisasi garam, dan paling sering umur delapan hari dipanen,” katanya.
Namun saat ini, lanjut dia, cuaca sering mendung dan garam umur lima hari terpaksa dipanen, daripada gagal panen, meskipun panen dini berdampak pada kualitas dan kuantitas garam yang dihasilkan.
“Garam yang dipanen dini memiliki kadar air yang lebih tinggi. Di sisi lain, jumlah garam yang dipanen lebih sedikit dibandingkan garam yang dipanen dalam waktu normal,” ujarnya.
Ia mengatakan, produksi garam yang dipanen lebih dini memang lebih sedikit dan selisihnya hampir setengah.
Dengan lahan panjang 46 x 7,6 meter, petani garam asal Kraksaan itu bisa memanen 36 karung garam, dengan berat rata-rata 80-85 kilogram per karung, jika masa panen 8 hari.
“Kalau panen lima hari, dapatnya sekitar 20 karung,” katanya.
Ketua Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Kabupaten Probolinggo, Buhar, mengakui masih banyak petani yang memproduksi garam, kendati sudah beberapa wilayah diguyur hujan.
“Petani masih produksi garam, karena hujannya turun kadang-kadang dan tidak setiap hari,” tuturnya.
Selama masih ada terik matahari, lanjut dia, lahan garam bisa dimanfaatkan dan bisa menghasilkan uang. Petani garam diprediksi benar-benar berhenti memproduksi garam, jika hujan mengguyur di Probolinggo setiap hari. (Ant)
Lihat juga...