Permintaan Ekspor Minyak Pala Aceh Lesu
BANDA ACEH – Permintaan ekspor minyak pala dari Provinsi Aceh lesu. Semakin menurunnya permintaan tersebut, karena produsen yang menggunakan bahan baku minyak pala, mengurangi pemakaian minyak asiri tersebut.
“Pasar ekspor minyak pala semakin lesu. Lesunya pasar ekspor, karena produsen berbahan baku minyak pala mengurangi pemakaiannya,” kata Ketua Forum Pala Aceh, Mustafril, Kamis (15/11/2018).
Berkurangnya permintaan ekspor, menyebabkan merosotnya harga minyak pala. Saat ini, harga minyak pala di tingkat petani berada di kisaran Rp700 ribu. “Produsen tidak membeli langsung minyak pala yang disuling petani. Membeli sesuai kebutuhan, misalnya, mereka minta minyak pala bebas saprol, maupun unsur lainnya,” jelasnya.
Menurut Mustafril, alat pemisah tersebut tidak ada di petani. Sedangkan di Indonesia, alat pemisah unsur minyak pala hanya ada satu, sehingga petani Aceh hanya menjual minyak pala secara umum. Mengenai kenaikan nilai tukar dolar, Mustafril menyebut, tidak ikut pula menaikkan harga minyak pala di tingkat petani. Kenaikan harga dipengaruhi tinggi rendahnya permintaan ekspor minyak pala.
Sekarang ini, permintaan minyak pala di pasar ekspor terus berkurang, karena perusahaan minyak wangi, minuman bersoda, dan produk lainnya, mengurangi pemakaian unsur yang ada di minyak pala. “Pengurangan tersebut berdampak pada permintaan minyak pala. Pengurangan ini juga mengurangi cita rasa produk yang dihasilkan. Apalagi sebelumnya harga minyak pala dianggap terlalu tinggi, sehingga perusahaan tersebut tidak membelinya saat ini,” pungkas Mustafril. (Ant)