Mengenal Salah Satu Jenis Penyakit Langka, Diabetes Insipidus
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
JAKARTA — Diabetes dikenal masyarakat sebagai penyakit yang berkaitan dengan tingginya kandungan gula dalam darah. Tapi ada jenis yang merupakan suatu gangguan hormon antidiuretik (ADH) atau Argenin Vasopresin yang disebut Diabetes Insipidus.
Diabetes Insipidus ini ditandai dengan sulitnya pasien untuk mengontrol pengeluaran urine dan disertai rasa haus secara terus menerus. Bahkan yang dikeluarkan bisa mencapai 12 liter.
“Karena terjadi secara terus menerus dan dalam jumlah banyak, kondisi ini memiliki potensi untuk menimbulkan dehidrasi dan syok pada pasien. Bahkan pada beberapa kasus bisa menimbulkan koma,” kata dr. Shandy Perkasa, SpPD.
Dokter muda yang bertugas di RS Cendana Jakarta ini menjelaskan, hormon ADH yang dihasilkan oleh kelenjar kecil dalam otak memiliki fungsi untuk mengurangi jumlah cairan yang terbuang melalui ginjal dalam bentuk urine.
“Penyakit ini biasa terjadi pada pasien yang mengalami trauma akibat kecelakaan, operasi tumor, penyempitan pembuluh darah, leukemia, radiasi dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu secara berlebihan. Ada juga yang dikarenakan oleh faktor genetika,” papar dr. Shandy lebih lanjut.
Dokter Shandy mengklaim, kasus Diabetes Insipidus ini di Indonesia belum banyak. Namun, bukan berarti masyarakat tidak perlu tahu terkait gejala penyakit ini.
“Persentase-nya sendiri saya tidak tahu tapi sangat penting bagi masyarakat dan juga tenaga medis untuk mengenal gejala penyakit DI ini. Supaya jangan sampai mendiagnosa gejala DI dengan Diabetes Melitus ataupun gangguan prostat,” ujarnya.
Secara umum, pengobatan Diabetes Insipidus dapat dilakukan dengan cara menggunakan obat-obatan.
“Pengobatan yang kita gunakan bergantung pada penyebabnya. Ada central DI dan Nephrogenic DI. Tapi semuanya bisa dengan obat-obatan,” ucap dr. Shandy.
Diterangkan, yang dimaksud Central DI merupakan Diabetes Insipidus yang berkaitan dengan gangguan pada hormon ADH di otak. Sementara Nephrogenic Diabetes Insipidus berkaitan dengan kondisi patologi ginjal.
Bagi pasien DI yang kronis dan akut, terapi dilakukan dengan memberikan hormon buatan yang berfungsi untuk menggantikan peran ADH dalam mengontrol pengeluaran urine.
“Pemberian hormon ini dilakukan dengan disuntik atau dihirup,” katanya.