IGR-4 Bahas Aksi Konkrit Penanggulangan Pencemaran Laut

NUSA DUA — Perwakilan dari 72 negara membahas aksi konkrit penanggulangan pencemaran laut berbasis darat dalam Pertemuan Intergovernmental Review (IGR) ke-4 dari “Global Program of Action” (GPA) untuk Perlindungan Lingkungan Laut dari Aktivitas-aktivitas Berbasis Lahan.

“Karena kita tuan rumah jadi kita sudah komunikasikan, untuk membahas aksi konkrit apa sih dari tiap negara, lalu perlunya apa (untuk penanggulangan pencemaran laut berbasis darat). Ini nanti dirumuskan dan disampaikan kepada GPA, selanjutnya nanti dibahas di `UN Environment Assembly’,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya di Nusa Dua, Bali, Rabu (31/10/2018).

Menurut Menteri, agenda utama dalam pertemuan IGR-4 adalah mengulas program aksi global dalam kaitan dengan polusi ekosistem laut untuk periode 2012-2017, selain juga membahas bagaimana GPA yang akan datang.

“Jadi kita akan tahu, bagaimana GPA berkoordinasi dengan UN Environment, ataupun melihat peran negara masing-masing itu akan seperti apa,” ujar dia.

Sedangkan isu utama yang ingin diatasi yakni yang berkaitan dengan sampah plastik di laut, polusi tanah yang berakhir ke perairan laut. “Misalnya tanah yang kelebihan nitrogen, fosfor yang artinya kebanyakan pupuk lalu kalau masuk ke air akan seperti apa,” katanya.

Menurut Menteri, pertemuan IGR-4 juga membahas tentang bagaimana rencana aksi di regional, dan bagaimana negara-negara di wilayahnya menjalankan rencana aksi tersebut. Selanjutnya adalah bagaimana pembangunan kapasitas pemangku kepentingan dan masyarakatnya. Kegiatan IGR-4 juga membahas agenda yang dilakukan sampai 2030.

“Yang kita diskusikan itu terkait dengan nutrien yang bisa mencemari laut, misalnya bagaimana sabun, detergen, sampo yang biasa kita pakai sehari-hari, atau dari ternak dan pertanian serta industri dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang jika masuk ke perairan akan menimbulkan `blooming’ tumbuhan yang akan merusak proses fotosintesis dan visibility air,” lanjutnya.

Ini, menurut dia, yang justru merusak siklus kehidupan. “Jadi kalau teman-teman mendengar ada Amdal dan KLHS maka ini yang paling gawat adalah kalau siklus kehidupan ini terganggu”. Ia mencontohkan, logam berat dari pencemaran bisa masuk ke tubuh ikan dan ikan itu dikonsumsi manusia sehingga membahayakan manusia yang memakannya. (Ant)

Lihat juga...