Hujan, Kualitas GKP Petani di Lampung Selatan Menurun
Editor: Mahadeva WS
LAMPUNG – Hujan yang terus turun di sejumlah wilayah di Lampung Selatan, membuat kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di daerah tersebut turun.
Herman, salah satu petani di Desa Kelau, Kecamatan Penengahan, menyebut, hujan membuat kadar air GKP petani tinggi. Imbasnya harga jual GKP menurun, bila dibandingkan dengan hasil panen sebelumnya. Masa panen yang terlambat, dan bertepatan dengan turunnya hujan, memicu sulitnya proses penjemuran.
Sebelumnya, harga GKP di petani mencapai Rp4.900 perkilogram. Namun, pada masa panen musim tanam ketiga kali ini, harganya hanya Rp4.700 perkilogram. Tingginya kadar air mempengaruhi harga jualnya. Padi yang memiliki kadar air tinggi, dan terkena hama wereng, memiliki kualitas warna kulit yang suram dan beras kehitaman.
Herman menanam padi Ciherang di lahan seluas setengah hektare, biasanya panen gabah hingga tiga ton. Namun, akibat hama, produksinya hanya menghasilkan 2,5 ton GKP. Padi Ciherang yang umumnya dipanen usia 90 hari, terpaksa dipanen usia 110 hari menunggu kondisi cuaca terang. Herman memilih menjual dalam bentuk GKP, dibanding membawa pulang untuk dijemur. Musim hujan, proses penjemuran menjadi terhambat.

Petani lain, Saminah, mengungkapkan, memilih menjual sebagian dari hasil panen padinya. Di lahan seluas seperempat hektare, Saminah menghasilkan GKP satu ton, dan separuh dijual, karena sulitnya menjemur gabah. 500 kilogram GKP dijual Saminah dengan harga Rp4.700 perkilogram. Meski anjlok, Saminah mengaku, cara tersebut dilakukan untuk mengurangi kerugian. Jika dibawa pulang seluruh hasil panen, dalam kondisi cuaca dominan hujan berpotensi gabah sulit dijemur.
Pengepul gabah petani, Ngadiman, menyebut, harga GKP di petani sedang turun. Penurunan terjadi, menyesuaikan estimasi penyusutan saat gabah dijemur hingga menjadi beras. Harga GKP dari petani sudah memperhitungkan biaya operasional, penyusutan serta biaya produksi. Gabah dari petani, masih harus disetorkan ke pengepul besar, untuk dijemur dan dijual dalam kondisi Gabah Kering Giling (GKG) lalu digiling dan dijual dalam bentuk beras.