Distan Sikka Dapat Bantuan Benih Tanaman

Editor: Mahadeva WS

MAUMERE – Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, mendapat bantuan benih padi dari Kementrian Pertanian. Benih yang diterima dapat untuk ditanam di sawah seluas 2.790 hektare (Ha).

“Bantuan padi Inbrida, untuk lahan seluas 400 hektare, yang ada di empat kecamatan yakni Paga, Mego, Magepanda dan Talibura. Sementara padi Gogo, untuk lahan seluas 2.390 hektare,” ungkap, Inocensius Siga, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Senin (19/11/2018).

Bantuan yang bersumber dana APBN 2018 tersebut, juga diperuntukan bagi padi inbrida sawah Refocusing, seluas 1.918 Ha. Selain itu juga ada bantuan benih bawang putih untuk lahan seluas 55 Ha. Ada juga bantuan pengembangan bawang merah untuk lahan seluas 15 Ha untuk 8 desa di 5 kecamatan serta bantuan bibit cabai untuk lahan seluas10 Ha. “Semua bantuan dananya langsung ditransfer ke rekening kelompok tani,” tambahnya.

Bantuan juga berasal dari dana APBD II, Kabupaten Sikka, berupa rambutan biji sebanyak 110 anakan. Bibit tersebut, diperuntukan bagi lahan seluas 10 Ha, kentang tiga Ha dengan jumlah 865 kilogram, wortel tiga Ha dan jahe seluas satu Ha. Kemudian, ada bantuan jagung Kommposit dengan sumber dana APBN, untuk lahan seluas 2.000 Ha, serta jagung Hibrida untul lahan seluas 1.435 Ha. Kacang hijau untul lahan seluas 500 Ha. Bantuan tersebut untuk 3.847 petani di 10 kecamatan dan 47 desa.

Kemudian bantuan perbanyakan benih padi seluas 20 Ha, serta jagung seluas 90 Ha. Juga intensifikasi padi seluas 100 Ha dan jagung seluas 500 Ha yang bersumber dana APBD I provinsi NTT. Bantuan yang bersumber dana APBD Kabupaten Sikka, diperuntukan bagi lahan padi sawah seluas 80 Ha, jagung 75 ha, kacang tanah 20 Ha dan kacang hijau 25 Ha.

“Untuk penanaman jagung hibrida, bantuan yang diberikan berupa benih jagung hibrida sebanyak 25 kilogram per hektare, serta pupuk urea sebanyak 100 kilogram per hektare. Bantuan sarana dan pra sarana pertanian juga sudah diberikan sebelumnya,” ungkapnya.

Ignatius Iking, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) swadaya desa Langir kecamatan Kangae kabupaten Sikka yang juga petani jagung.Foto : Ebed de Rosary

Ignatius Iking, penangkar benih jagung dan penyuluh swadaya pertanian Desa Langir, Kecamatan Kangae, mengatakan, pihaknya mengimbau petani untuk menanam jagung Hibrida, Lamurui atau Komposit. Jenis tersebut memiliki hasil produksi lebih bagus. Jagung Hibrida jika proses penanaman dan perawatan benar, bisa menghasilkan 10 sampai 11 ton per hektare. “Petani di Kecamatan Kangae, termasuk Desa Langir, banyak yang ragu menanam jagung Hibrida,” ungkapnya.

Petani lebih memilih menanam jagun varietas lokal, sebab bisa lebih tahan lama disimpan. Hal tersebut, berbeda dengan jagung hibrida, yang tidak tahan lama saat disimpan. Dan ada metode penyimpangan jagung Hibrida agar bisa bertahan hingga setahun. “Banyak petani di Kanage, termasuk anggota Gapoktan Wa Wua, yang sudah terbiasa menanam jagung Hibrida dan Lamuru. Kalau jagung Hibrida, biasanya untuk konsumsi dan dijual, tidak bisa dibuat benih. Di 2017 lalu, ada juga anggota kelompok yang menjual jagung Hibrida ke luar daerah,” pungkasnya.

Lihat juga...