Bupati: Potensi Tanah Bergerak di Pesisir Selatan Cukup Besar
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PESISIR SELATAN — Munculnya bencana alam yang menimbulkan permukaan tanah jadi retak dan bergerak, turut mengancam sejumlah daerah di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni mengatakan, daerah Pesisir Selatan yang berada di kawasan perbukitan dan juga di bagian pantai, memiliki potensi tanah bergerak. Hal tersebut dapat mengancam masyarakat hingga lahan pertanian di wilayah setempat.
“Akhir-akhir ini, potensi gerakan tanah makin besar seiring musim hujan yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia, terutama Pulau Sumatera, dan juga di Kabupaten Pesisir Selatan. Kita minta kepada masyarakat untuk waspada,” katanya, Minggu (4/11/2018).
Ia menjelaskan di daerah Pesisir Selatan potensi bahaya tersebut sangat besar. Hal ini dikarenakan kondisi geomorfologi yang berbukit dan bergunung, serta curah hujan yang tinggi pada Bulan September hingga Desember mendatang.
Jenis tanah podsolik merah kuning atau latosol yang banyak terdapat di daerah Pesisir Selatan merupakan jenis yang jika musim panas merekah. Sebab, ketika hujan datang rekah rekahan itu akan diisi oleh air, sehingga mempermudah terjadinya gerakan tanah.
Kondisi demikian akan semakin mengkhawatirkan, apabila kemiringannya yang relatif tajam. Pada beberapa tempat terdapat tanah grumusol yang memiliki granular dan tekstur gembur, juga menjadi salah satu terjadinya gerakan tanah atau longsor jika terjadi hujan di atas normal.
Menyikapi hal tersebut, Pemkab Pesisir Selatan merilis potensi gerakan tanah kepada kecamatan dan walinagari, berdasarkan data data yang dikeluarkan oleh Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, yang dikeluarkan setiap periode tertentu.
“Data data itu dipetakan pada sebuah peta yang disebut Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi gerakan Tanah/longsor. Peta ini merupakan hasil overlapping atau tumpang tindih antara peta zona kerentanan gerakan tanah dengan peta prakiraan curah hujan,” ucapnya.
Ia memaparkan, peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah/longsor tersebut dapat menjadi rujukan peringatan dini bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi terjadinya gerakan tanah pada saat curah hujan di atas normal, seperti beberapa hari ini.
“Melihat ke bencana yang terjadi. Dua hari yang lalu terjadi banjir di Ranah Empat Hulu Tapan, Basa Empat Balai Tapan, dan Lunang, bisa juga dapat menyebabkan longsor. Ancaman seperti ini yang perlu diantisipasi,” ujarnya.
Peta prakiraan ini, katanya, dibagi dalam tiga kategori utama jika terjadi hujan, yaitu Potensi terjadi gerakan tanah rendah (PGTR), potensi terjadi gerakan tanah menengah (PGTM), dan potensi gerakan tanah tinggi (PGTT).
Potensi kategori PGTR umumnya di daerah Lunang dan Silaut, di sepanjang pesisir daerah pantai di Linggosari Baganti, Tapan, Lengayang, sebagian Bayang, IV Jurai dan Sutera. Pada daerah ini jarang terjadinya bahaya longsor walau sekalipun hujan sangat besar.
“Bahaya utama di daerah ini justru terjadinya banjir ketika hujan lebat dan genangan akibat naiknya air laut pada saat banjir. Daerah-daerah ini merupakan bantaran sungai dan tempat terjadinya pengendapan alluvial dan pendangkalan muara sungai,” tegasnya.
Ia menyebutkan wilayah kategori PGTM, akan terjadi skala longsor yang sedang jika terjadi hujan lebat di sebagian besar Kecamatan Lengayang, Ranah Pesisir, Surera, IV Jurai, Bayang dan Batangkapas. Pada daerah PGTM pergerakan tanah terjadi jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.
“Misalnya, terjadi eksploitasi atau perusakan lahan lahan yang memiliki kemiringan,” jelasnya.
Wilayah potensi yang sangat tinggi terjadinya longsor yakni kategori PGTT banyak terdapat di hampir semua pinggiran bukit barisan. Daerah yang paling berpotensi terjadinya PGTT adalah di kecamatan Koto XI Tarusan, IV Nagari Bayang Utara, Sutera bagian utara, Linggosaribaganti dekat pinggiran bukit barisan, Tapan, dan Ranah IV Hulu tapan.