Pemda Ende Diharap Bantu Bangun Rumah Adat di Nggela

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

ENDE — Pemerintah Daerah (Pemda) kabupaten Ende diminta untuk membantu biaya pembangunan kembali 32 rumah adat di kampung adat Nggela kecamatan Wolojita kabupaten Ende yang ludes dilahap api pada 29 Oktober 2018 lalu.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga yang membawahi wilayah Flores dan Lembata, Philipus Kami. Foto : Ebed de Rosary

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Philipus Kami menyebutkan, Pemda Ende diharap membantu biaya pembangunan kembali rumah adat di perkampungan adat Nggela.

“Perkampungan adat Nggela merupakan salah satu kampung adat yang masih mempertahankan tradisinya,” sebutnya di Ende, Minggu (4/11/2018).

Dikatakan Lipus, sapaannya, rumah adat yang terbakar tersebut rata-rata berusia puluhan tahun dan untuk membangunnya kembali tentu membutuhkan biaya yang sangat besar.

“Kalau hanya mengharapkan masyarakat adat saja tentu sangat sulit, sebab kemampuan keuangan warga yang mayoritas petani sangat terbatas. Material untuk pembangunannya sulit dicari dan harus dibeli dari luar daerah,” sebutnya.

Untuk membangunnya, jelas Lipus, selain membutuhkan alang-alang dan ijuk, juga aneka kayu yang saat ini sulit sekali diperoleh dan harganya pun mahal. Material yang dibutuhkan pun pastinya sangat banyak.

“Untuk itu kami telah meminta agar pemerintah daerah turun tangan membantu biaya pembangunan kembali rumah adat (Keda). Apalagi dalam membangunnya pun harus dilakukan ritual adat yang juga membutuhkan penyembelihan hewan,” ungkapnya.

Gabriel Manek, salah satu tokoh adat (Mosalaki) kampung adat Nggela menyebutkan, total rumah yang terbakar sebanyak 32 rumah dimana 22 rumah adat sementara 10 rumah lainnya merupakan rumah warga.

“Kami tidak bisa memastikan berapa kerugian yang diderita. Namun bila melihat bahan bangunan yang dipergunakan, kami taksir kerugiannya bisa mencapai angka Rp5 miliar,” ujarnya.

Menurut Gabriel, dalam ingatan dirinya kasus kebakaran yang menimpa Kampung Adat Nggela kali ini bukan kejadian yang pertama namun sudah 4 kali. Sebelumnya pernah terjadi kebakaran juga tahun 1969.

Namun kebakaran sebelumnya kata Gabriel, hanya menimpa satu atau dua rumah saja sementara saat ini semua rumah adat ludes dilahap si jago merah. Warga berusaha memadamkan, namun angin kencang membuat api merambat dengan cepat.

“Warga sudah berusaha memadamkan api namun tiupan angin sangat kencang sehingga usaha warga sia-sia. Kami tidak bisa berbuat banyak dan hanya pasrah saja menyaksikan rumah adat terbakar semua,” tuturnya.

Para tetua adat ungkap Gabriel, sedang merundingkan bagaimana upaya untuk membangun kembali puluhan rumah adat ini. Warga yang rumahnya terbakar sementara di tampiung di rumah warga lainnya dan di loas pasar Nggela untuk sementara waktu.

Lihat juga...