Pemandu Anjungan Kalimantan Timur TMII, Yosef Petrus. -Foto: Sri Sugiarti
JAKARTA – Pemandu Anjungan Kalimantan Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Yosef Petrus, mengaku bangga dengan ide cemerlang Ibu Negara Siti Hartinah (Tien) Soeharto, dalam mempersatukan khazanah budaya Indonesia dalam miniatur Indonesia bernama TMII.
“Sosok Ibu Tien Soeharto sangat luar biasa, idenya cemerlang mempersatukan kebhinekaan dalam miniatur Indonesia, TMII ini,” kata Yosef, kepada Cendana News, Jumat (19/10/2018).
Dia menyebutkan, Indonesia ini sangat luas dengan ribuan pulau yang tersebar. Sehingga melalui Yayasan Harapan Kita (YHK) yang didirikannya, kemudian Ibu Tien Soeharto dengan ide cemerlangnya membuat miniatur TMII sebagai wahana pelestarian dan pengembangan seni budaya bangsa.
Sehingga, sebutnya, misalkan orang ingin ke Bali, tapi karena terkendala waktu, orang tersebut bisa datang ke Anjungan Bali TMII. Atau ingin tahu budaya suku Dayak, bisa berkunjung ke Anjungan Kalimantan Timur TMII.
Menurutnya, TMII adalah wahana edukasi bagi pengunjung atau masyarakat luas untuk belajar ragam budaya seluruh provinsi di Indonesia. Edukasi pelestarian budaya bangsa ini terukir berkat ide mulia Ibu Tien yang ingin mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.
“Ibu Tien Soeharto itu pelopor pelestarian seni budaya bangsa. Bahkan, melalui YHK, hingga kini terus melestarikan dan mengembangkan budaya di TMII,” ujarnya.
Dulu, sebut dia, baru 27 anjungan provinsi yang tampil dan kini sudah ada 34 anjungan yang memperkenalkan budaya daerahnya masing-masing kepada masyarakat dan juga wisatawan asing.
Dalam pelestarian budaya Kaltim, khususnya suku Dayak, Yosef berusaha untuk memberikan edukasi kepada pengunjung.
“Ya, meskipun sekarang ragam budaya suku Dayak setiap kabupaten kota yang dipamerkan di Rumah Adat Lamin di anjungan ini disekat kaca. Tapi, saya berusaha untuk terus mengedukasi wisatawan,” tukasnya.
Menurutnya, sebelum disekat kaca, wisatawan bisa masuk leluasa ke dalam ruang pameran ragam budaya di Rumah Adat Lamin. Namun setelah disekat, hanya bisa melihatnya dari luar kaca.
“Meskipun ini kendala, tapi saya tetap semangat untuk memberikan penjelasan kepada mereka terkait budaya suku Dayak, juga filosofi rumah adat yang unik dengan ragam ukiran,” ujarnya.
Yosef mengaku, tahun depan dirinya akan pensiun. Dia pun berharap, agar khazanah budaya suku Dayak Kaltim tetap dijaga pestariannya oleh petugas lainnya di anjungan ini.
“Kita boleh berimprovisasi karakter seni budaya dengan kolaborasi, tapi jangan sampai menghilangkan keaslian budaya daerah tersebut. Sekarang ini zaman modern, kita ikuti perubahan itu. Tapi kita tetap jaga keaslian budaya kita, jangan dibuang karena tergerus zaman,” tukasnya.
Menurutnya, agar khazanah budaya bangsa tetap terjaga keasliannya, diperlukan pembinaan kesenian bagi pegawai anjungan. Karena sebagai bangsa, harus terus menjaga budaya Indonesia.
“Ibu Tien dengan ide cemerlangnya mempersatukan bangsa melalui pelestarian budaya daerah di TMII ini. Kita harus menjaga keaslian budaya kita,” tandasnya.
Maka itu, lanjut dia, dalam upaya meningkatkan pengunjung ke anjungan Kaltim ini, pihaknya kerap mengadakan pameran budaya suku Dayak di luar TMII, seperti di Karawang, Jawa Barat, Solo, Jawa Tengah, dan daerah lainnya, juga di mal-mal.
Bahkan, program Goes to School juga terus digalakkan oleh anjungan Kaltim. “Kita jemput bola dengan program Goes to School atau pameran budaya di luar kota. Puji Tuhan, ada peningkatan pengunjung 20 persen yang datang ke anjungan ini,” ujarnya.
Tercatat setiap bulannya, 600 lebih wisatawan datang ke anjungan Kaltim TMII untuk melihat keunikan budaya suku dayak. Yosef pun merasa bersyukur dan berharap, agar budaya suku Dayak Kaltim ini semakin dikenal masyarakat luas dan dunia.
Pria kelahiran Jakarta 57 tahun ini menegaskan, sebagai bangsa kita tidak boleh melupakan sejarah budaya dan berupaya untuk terus melestarikannya, seperti yang telah ditorehkan Ibu Tien dalam miniatur Indonesia ini.
Sejak 1990, Yosef telah bekerja di Anjungan Kaltim. Ia mengaku sering melihat Ibu Tien berkunjung ke TMII, tapi dari kejauhan, tidak dari dekat. “Melihat Ibu Tien dari jauh saja sudah senang, ya. Ingin lebih dekat, tapi kan penjagaannya ketat. Ketika Ibu Tien wafat, saya merasa kehilangan, dan doa terbaik untuk Beliau semoga ditempatkan di Surga,” pungkasnya.