Puncak Panen Alpukat di Lamsel, Kualitas Buah Cukup Baik

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Bulan Oktober menjadi bulan puncak masa panen buah alpukat di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) dengan kualitas buah yang cukup baik. Kondisi tersebut dibenarkan oleh Syahbana, pemilik ratusan pohon buah alpukat di Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan.

Ia menyebut, musim kemarau selama masa pembungaan alpukat berdampak positif minimnya bunga dan buah yang rontok. Hasilnya buah di setiap pohon alpukat cukup melimpah dibandingkan pembungaan saat musim hujan mengakibatkan kerontokan bunga.

Syahbana menyebut, selain memiliki kebun sendiri ia juga membeli buah alpukat dari petani di sejumlah kecamatan. Selanjutnya, buah alpukat tersebut disortir berdasarkan ukuran (grade) berdasarkan isi per kilogram.

Grade satu disebutnya berisi 4 buah alpukat dengan berat per kilogram kerap dijual di pasar swalayan, grade dua berisi 6 buah alpukat per kilogram dijual di pasar tradisional dan grade tiga berisi 8 buah alpukat per kilogram dijual di sejumlah pemilik usaha jus dan es buah.

“Buah alpukat bisa dipanen secara bertahap sejak pertengahan Oktober ini hingga Februari mendatang, sehingga petani bisa mendapatkan hasil setiap buah dipanen, dan sudah ada pedagang penampung,” terang Syahbana, salah satu petani sekaligus pengepul hasil pertanian buah alpukat, saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (29/10/2018).

Pohon alpukat di wilayah Bakauheni, disebut Syahbana, sebagian merupakan hasil proses pencangkokan, penyambungan serta biji. Ia bahkan terus melakukan upaya perbanyakan pohon alpukat untuk mendapatkan hasil buah maksimal.

Proses pemilahan buah alpukat berdasarkan grade untuk dijual ke pasar modern dan pasar tradisional – Foto Henk Widi

Selain ditanam di kebun miliknya, sebagian bibit alpukat dibagikan kepada petani agar permintaan akan buah alpukat bisa dipenuhi oleh petani. Permintaan akan buah alpukat, disebut Syahbana, dalam satu bulan bisa mencapai lima ton dan dikirim ke wilayah Cilegon, Tangerang, Provinsi Banten, dan Jakarta.

Keberadaan pengepul hasil pertanian berupa buah alpukat, nangka, pisang, kelapa serta buah segar lain, disebut Syahbana, menjadi solusi pendistribusian. Petani di sejumlah wilayah bahkan akan menjual buah alpukat dengan proses pemetikan yang dilakukan oleh Syahbana.

Pasalnya, penanganan saat panen dan pasca-panen buah alpukat menjadi kunci keberhasilan bagi petani. Proses pemetikan buah alpukat harus dilakukan oleh petani yang sudah memahami karakter buah alpukat.

“Buah alpukat harus dipanen tidak terlalu muda serta jangan terlalu tua karena akan mengurangi kualitas buah,” beber Syahbana.

Proses pemetikan buah alpukat tidak bisa dilakukan sembarangan karena buah tidak boleh terjatuh. Terjatuhnya buah alpukat bisa berimbas retaknya buah mempercepat pembusukan.

Syahbana bahkan mempergunakan alat pemetik buah dari kawat diberi kantung kain agar buah tidak jatuh. Cara tersebut efektif mempertahankan kualitas buah alpukat yang kerap dipergunakan sebagai jus dan es buah tersebut.

Perhitungan proses pengemasan dan pendistribusian hingga buah siap dijual, disebut Syahbana, menghindari kerusakan buah tersebut.

Pasca-dipanen, buah alpukat akan dipilah atau disortir berdasarkan ukuran. Buah tersebut akan dimasukkan dalam kotak-kotak khusus menghindari benturan agar tidak mudah pecah.

Sejumlah buah yang retak diakuinya bisa diminimalisir proses pembusukannya dengan mempergunakan tisu khusus. Buah tersebut akan dikirimkan ke sejumlah pemilik usaha pembuatan jus dan es buah.

Masa puncak panen buah alpukat disebutnya tidak berpengaruh pada harga karena alpukat terbilang buah yang cukup tinggi permintaannya. Satu kilogram buah alpukat di tingkat petani dibeli dengan harga Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

Harga di tingkat pengecer bisa mencapai Rp9.000 hingga Rp11.000 dan di tingkat konsumen bisa mencapai Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Ukuran buah bisa mempengaruhi harga jual buah alpukat.

“Butuh kehati-hatian dalam penanganan buah alpukat sejak panen, pasca-panen hingga pendistribusian karena kesalahan sedikit bisa merugikan,” terang Syahbana.

Ia menyebut, pernah mengirimkan buah alpukat melalui jalur ekspedisi. Namun akibat penanganan kurang baik berimbas buah alpukat miliknya mengalami keretakan, dampak ditumpuk dengan barang lain.

Semenjak itu Syahbana mengirimkan buah alpukat ke pelanggan di Banten, Tangerang dan Jakarta mempergunakan kendaraan miliknya, mengurangi resiko kerugian. Mengirim rata-rata lima kuintal per pekan saat musim buah alpukat, ia bisa memperoleh omzet Rp5 juta.

Musim buah alpukat juga memberi dampak positif bagi pemilik usaha pembuatan jus buah serta es buah alpukat.

Hena Juanda, salah satu penjual jus buah. Salah satunya jus alpukat, menyiapkan jus pesanan pelanggan – Foto Henk Widi

Hena Juanda, pemilik usaha pembuatan jus dan es buah menyebut, pasokan lancar buah dari para petani lokal Lampung Selatan membuat kebutuhan buah bisa terpenuhi. Sehari ia menyebut, bisa menjual sekitar 500 hingga 700 cup jus dan es buah mangga, buah naga dan alpukat dengan harga per cup Rp5.000.

Musim buah alpukat membuat dirinya tidak perlu membeli di pasar karena petani pengepul akan mengirim buah alpukat sehari rata-rata 50 kilogram. Wanita yang berjualan di depan menara Siger tersebut bahkan mengaku hasil pertanian buah di Lamsel ikut membantu usaha kecil yang ditekuninya.

Selain buah alpukat, saat ini musim buah durian dari Bengkulu juga membanjir sehingga bahan baku jus dan es buah tersedia dalam kondisi segar setiap saat.

Lihat juga...