Pelaku Usaha Pembuatan Gamelan di Bantul Butuh Perhatian

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Sejumlah pelaku usaha pembuatan gamelan di Kabupaten Bantul, masih mengandalkan cara tradisional dalam menjalankan proses produksinya. Keterbatasan modal menjadi masalah utama para pembuat alat musik gamelan seperti gong, gender, bonang, saron, demung, kenong, dan sebagainya, ini.
“Terus terang kita kesulitan modal, sehingga semua proses masih dilakukan manual dengan cara dilas dan ditempa memakai tangan. Sebenarnya alat produksi gamelan sudah ada, yakni secara hidrolis. Namun harganya mahal, mencapai Rp20 juta, kita tidak mampu menjangkau,” ujar salah seorang pelaku usaha pembuatan gamelan, di Desa Palbapang, Bantul, Arya Sungkowo Aji, Selasa (23/10/2018).
Dengan proses produksi yang masih manual, Arya dibantu empat orang tenaga, mengaku hanya mempu membuat sekitar 1-2 set alat gamelan atau satu jenis alat gamelan per hari. Padahal, jika dikerjakan dengan mesin, tiga jenis alat gamelan dapat selesai dikerjakan dalam satu hari.
“Modal kita semuanya swadaya. Tidak ada bantuan dari pemerintah. Sebenarnya dulu saya pernah mencari bantuan dengan mengajukan proposal ke pemerintah. Namun, kurang direspons. Sejak saat itu, saya tidak mau lagi mengajukan permohonan bantuan ke pemerintah. Paling hanya memanfaatkan pinjaman KUR,” ujarnya.
Di Bantul, tak banyak perajin usaha gamelan bisa ditemukan. Hal itu tak lepas dari proses pembuatan alat musik gamelan yang cukup sulit, karena membutuhkan kemampuan seni. Yakni dalam menentukan tinggi-rendah nada sebuah alat sebagaimana alat musik lainnya.
“Ketebalan bahan akan berpengaruh pada suara yang dihasilkan. Semakin tebal bahan logam, maka suara akan semakin tinggi. Begitu juga ukuran tinggi sisinya, akan mempengaruhi tinggi rendah nada,” jelasnya.
Arya menjelaskan, tahapan pembuatan alat musik gamelan seperti gong, dimulai dari pemilihan bahan, pemotongan, penempaan, pengelasan hingga penglarasan serta finishing.
Proses nglaras ini menjadi tahapan yang paling sulit, karena menjadi penentu berfungsi atau tidaknya sebuah alat musik gamelan.
“Meski alat dari sisi bentuk dan ukuran itu sudah jadi, tapi itu belum selesai, karena belum bisa bunyi. Masih harus ada proses penentuan nada atau nglaras. Ini yang paling sulit. Bagian ini saya sendiri yang mengerjakan. Karyawan tidak ada yang bisa. Caranya yang ditempa pakai palu, sampai nada yang diinginkan sesuai,” katanya.
Selain akses modal, kemampuan SDM atau tenaga kerja juga dikatakan menjadi persoalan para pelaku usaha pembuatan alat musik gamelan. Arya sendiri mengaku harus mendidik satu persatu karyawannya mulai dari nol hingga mampu membuat alat gemelan. Itu pun belum termasuk proses nglaras sebagai bagian paling penting dan tersulit.
“Karena tidak semua orang bisa nglaras. Harus ada kepekaan seni, yakni mendengar nada suara,” ungkapnya.
Memasarkan produknya secara online, Arya berharap agar pemerintah dapat memberikan perhatian lebih pada pelaku usaha gamelan seperti dirinya. Pasalnya, jika dibiarkan berjalan sendiri, bukan tidak mungkin para pelaku gamelan akan semakin tersisihkan dan hilang ditelan zaman.
Lihat juga...