Palu, Ayo Kembali Sekolah

Ilustrasi -Dok: CDN

PALU – Para pelajar di Sulawesi Tengah di dorong untuk kembali bersekolah. Bencana yang dialami diharapkan tidak menghentikan usaha mereka untuk mendapatkan ilmu.

“Yang terdampak (gempa, tsunami, likuifaksi), tetap harus menatap ke depan, membangun kembali baik fisik maupun mental,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, di hadapan para penyelenggara pendidikan Sulawesi Tengah, di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sulawesi Tengah.

Peserta didik harus dibangkitkan untuk kembali belajar. Para pelajar tersebut tumpuan pembangunan Palu di masa depan. Sesuai dengan permintaan Presiden Joko Widodo, saat ini yang dibutuhkan adalah, cara agar anak-anak memulai lagi proses belajar. Dikhawatirkan, jika terlalu lama siswa meninggalkan bangku sekolah, akan kesulitan untuk memulai kembali proses belajar. “Apapun kondisinya, kita mulai,” ujar Muhadjir sekali lagi memberikan semangat di hadapan pejabat dinas pendidikan setempat dan para kepala sekolah.

Memulihkan mental setiap Aparatur Sipil Negeri (ASN) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tengah menjadi penting. Selanjutnya, mereka yang hadir dalam pertemuan tersebut, diminta membantu menguatkan mental para guru, agar bisa mengajak peserta didik cepat kembali belajar.

Ia meminta dinas terkait segera mendata siswa, mencari tahu posisinya di mana dan mencatat apa saja kebutuhan darurat yang sangat diperlukan agar bisa segera menjalankan proses belajar dan mengajar.

Kelas serba darurat untuk masa awal pemulihan, menjadi kewenangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk penyediaanya. Namun untuk berjaga-jaga, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan mengirimkan terpal dan bantuan untuk pendirian kelas darurat.

Seperti beberapa tenda yang juga sudah didirikan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), satu tenda bisa digunakan setidaknya untuk enam kelas. Tenda seharga Rp30 juta tersebut, bisa bertahan digunakan selama satu tahun, sebelum akhirnya dibangun sekolah darurat yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Tapi kan Kementerian PUPR pekerjaannya juga banyak. Untuk jaga-jaga lagi, sekolah darurat kita juga bisa dirikan, tapi ini harus ada bantuan dari bapak dan ibu guru juga untuk mendirikannya,” tandas Muhadjir.

Kepala sekolah diminta bisa menggiatkan kerja bakti, untuk membangun tenda sebagai kelas darurat. Namun, dirinya meminta, hal itu tidak perlu ada paksaan. Terlebih untuk guru yang belum mau melakukan kegiatan mengajar, karena masih dalam kondisi terguncang. Dalam dua tahun, baru akan dibangun sekolah-sekolah permanen baru, yang proses pembangunannya nanti akan mengikuti sistem zonasi. Untuk sementara, tidak perlu ada pembeda jenjang pendidikan di dalam kelas darurat. Yang terpenting semua murid mau kembali belajar. “Syukur-syukur kalau bisa sekalian sarapan pagi bersama atau makan siang bersama,” tandasnya.

Ditemui di tenda kelas darurat di Petobo, Palu, Syakira, murid PAUD dan kawannya Shifa, murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Palu, sama-sama sedang asyik menggambar. Mereka tampak begitu antusias mengikuti kegiatan belajar. Meski belum sampai 20 anak yang hadir mengikuti penyembuhan trauma di kelas darurat tersebut, Kepala SD Inpres Petobo, Andriani (41) meyakini, anak-anak yang bergabung akan bertambah nantinya.

Tenda darurat berwarna putih milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tersebut, sudah didirikan tiga hari pascagempa dan tsunami terjadi di Palu, Sigi dan Donggala. Ada dua petugas konselor dari Kemdikbud yang hadir, membawa alat-alat menggambar untuk anak-anak, yang dilengkapi papan-papan menggambar, buku gambar, dan pensil warna.

Guru SDN 7 Palu Hariani (49), yang ditemui di pengungsian Dusun Ranoropa, Desa Loru, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengaku belum pernah melihat lagi sekolah tempatnya mengajar, pascagempa besar 7,4 Skala Richter (SR) mengguncang Palu dan sekitarnya.

Meski demikian, bersama beberapa guru lain yang ada di pengungsian yang sama, mereka sudah sempat melakukan konseling, mengajak anak-anak menggambar dan bermain. “Kami di sini juga sudah mulai bermain, menggambar. Ada yang datang kemarin, bawa alat-alat menggambar, ada pensil warna, buku gambar, tapi tidak tahu dari mana. Tapi yang jelas anak-anak sudah bermain,” lanjut Hariani yang rumahnya ikut hilang terbenam lumpur hitam di Petobo.

Hariani bersama warga Petobo yang selamat, mengungsi ke atas, ke Dusun Ranoropa di Kabupaten Sigi, yang datarannya lebih tinggi dari Kota Palu. Puluhan warga mengungsi di lokasi tersebut, mendirikan tenda seadanya dari terpal, di bawah pohon-pohon kakao atau coklat. Beruntung lokasi pengungsian mereka dekat dengan aliran irigasi yang airnya melimpah dan jernih. Anak-anak pun seakan lupa dengan peristiwa kelam Jumat (28/9/2018), saat gempa meluluhlantakkan Palu, Sigi dan Donggala.

Instruksi Gubernur Sulawesi Tengah, memasuki hari ke-10 pascagempa dan tsunami, Kota Palu mulai bergeliat. Listrik 90 persen menuju normal, supermarket besar di tengah kota kembali beroperasi, antrian panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sudah berkurang.

Surat Instruksi tertanggal 5 Oktober 2018, tentang keaktifan melaksanakan tugas PNS Sulawesi Tengah, yang mewajibkan seluruh PNS kembali hadir dan aktif bekerja di 8 Oktober 2018. Diinstruksikan pula kepada Kepala Perangkat Daerah Lingkup Sulawesi Tengah, termasuk pejabat struktural, untuk ikut memantau kehadiran PNS. Pejabat pengelola kepegawaian juga diminta untuk mendata PNS dan atau tenaga kontrak pada masing-masing perangkat daerah.

Berbekal instruksi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Irwan Lahace, meminta seluruh ASN di jajarannya mulai aktif bekerja pada Senin (8/10/2018), sekalipun nantinya, kegiatan hanya akan dilaksanakan di halaman saja. Permintaan ini sekaligus ditujukan pada para guru yang ada di Palu, Sigi dan Donggala, agar mereka dapat segera kembali mengajar.

Guru SMKN 4 Palu, Patrini Hadjli (43), yang juga berada di pengungsian di Dusun Ranoropa, Desa Loru, mengatakan, dirinya siap untuk kembali mengajar. Termasuk jika proses belajar mengajar nantinya hanya dimulai di kelas-kelas darurat di bawah tenda.

amun hingga saat ini ia mengaku belum mendapatkan informasi dari pihak sekolah maupun dinas terkait, kapan aktivitas belajar-mengajar di Kota Palu akan kembali mulai berjalan. “Saya belum dapat informasi apa-apa, karena telepon genggam saya juga terjatuh waktu menyelamatkan diri dari lumpur. Hanya memang saya tahu kepala sekolah sempat bertanya pada kakak saya apakah saya selamat dari bencana, itu saja, tapi tidak memberi informasi kapan aktivitas sekolah berjalan lagi. Sekarang saya tidak bisa menghubungi dia, dia pun sebaliknya,” katanya.

Hingga hari ke-10 pascabencana Patrini mengaku belum sekalipun keluar dari pengungsian dan melihat kondisi sekolah tempatnya mengajar. “Saya ingin sekali liat sekolah, tapi jaraknya cukup jauh dari pengungsian, sementara motor sudah tidak ada (tertimbun lumpur di Petobo),” tandasnya.

Kendala-kendala dari para guru tentu beragam untuk kembali mengajar, selain juga rasa trauma tentunya. Dengan hanya pakaian yang melekat di tubuh, tentu akan juga sulit bagi guru-guru lain untuk bisa hadir, memulai proses belajar dan mengajar. Namun demikian, semua harus sepakat untuk memulai lagi dari titik nol. Apapun kondisinya, semua perlu sepakat untuk berjuang bersama membangun kembali apa yang sempat berdiri. (Ant)

Lihat juga...