Mengenang Sejarah Kesultanan Buton di TMII
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
JAKARTA — Anjungan Sulawesi Tenggara Taman Mini Indonesia (TMII) menampilkan replika bangunan Istana Sultan Buton atau yang disebut Rumah Malige.
“Rumah Malige ini adalah Istana Kesultanan Buton di Kota Baubau. Istana ini merupakan peninggalan budaya bersejarah dan bangunannya masih ada di Pulau Buton,” kata Koordinator Anjungan Sulawesi Tenggara TMII, Andi Abdalia kepada Cendana News, Sabtu (27/11/2018).

Dia menjelaskan, bangunan istana ini bertingkat empat dan berbahan kayu wala, dengan topangan 40 buah tiang yang berjajar lima ke belakang. Sejumlah tiang yang sama juga digunakan untuk bangunan di tingkat atasnya yang kian menyempit. Terlihat jarak tiang yang satu dengan lainnya makin ke atas makin pendek.
Tiang tengah bangunan menjulang ke atas, dan merupakan tiang utama disebut Tutumbu. “Tutumbu artinya tumbuh terus,” ujarnya.
Meskipun bangunan ini didirikan hanya dengan saling mengkait tanpa tali pengikat atau paku, namun dapat berdiri kokoh dan megah di atas sandi yang menjadi landasan dasarnya.
Lantai pertama istana ini adalah tempat tinggal Sultan Buton beserta keluarganya. Lantai kedua sebagai kamar tamu dan kantor. Sedangkan lantai tiga untuk ruang keluarga dan lantai empat yakni tempat untuk berjemur.
Adapun keunikannya tersaji dua hiasan yaitu ukiran naga yang terdapat di atas bimbingan rumah. Ukiran nanas yang tergantung pada papan lis atap, serta di bawah kamar-kamar sisi depan.
Kedua ukiran tersebut mengandung makna. Yakni ukiran naga merupakan lambang kebesaran raja Buton. Sedangkan ukiran nanas, yang dalam tangkai itu hanya tumbuh sebuah nanas saja melambangkan bahwa hanya ada satu Sultan di dalam kerajaan Buton.
“Buah nanas bermahkota berarti yang berhak dipayungi dengan payung kerajaan hanya Sultan Buton saja,” ujarnya.
Nanas merupakan buah berbiji. Tetapi bibit nanas tidak tumbuh dari biji itu, melainkan dari rumpunnya yang timbul tunas baru. Kesultanan Buton bukan sebagai pusaka anak beranak yang dapat diwariskan kepada anaknya.
“Falsafah nanas ini dilambangkan sebagai Kesultanan Buton dan rumah Malige mirip rongga manusia,” ujarnya.
Di anjungan ini, rumah Malige digunakan untuk memperkenalkan budaya Sulawesi Tenggara. Ada banyak suku di Sulawesi Tenggara, seperti Buton, Tolaki, Mekongga, Muba dan Kaba Ena.
Di ruangan rumah tersebut dipamerkan pakaian raja Kendari dan pemansurinya. Juga pakaian sultan dan permaisuri kesultanan Buton, pakaian kebesaran raja Muna, pakaian panglima perang atau kapitalao.
Selain itu dipamerkan berbagai jenis kerajinan perak Kendari, kerajinan anyaman, asesoris, kain tenun khas Buton, benda-benda pusaka, guci, peralatan musik tradisional dan lainnya.
Disamping replika Rumah Malige, terdapat bangunan rumah mungkil berbahan kayu. Bangunan ini digunakan sebagai kantor pengelola Anjungan Sulawesi Tenggara TMII.
Tepat di sebelah kanan gerbang masuk Anjungan Sulawesi Tenggara, terdapat aula yang berfungsi untuk pagelaran acara. Seperti pentas seni budaya Sulawesi Tenggara, pertemuan komunitas masyarakat Sulawesi Tenggara yang ada di Jakarta, reuni atau acara perusahaan.

Halaman anjungan juga dihiasi dengan patung dua ekor kuda jantan yang sedang bertarung memperebutkan kuda betina. Adegan ini menggambarkan Pogerano Ajara, jenis aduan kuda khas Pulau Muna.
Anjungan Sulawesi Tenggara terletak di sebelah tenggara Danau Arsipel TMII, bersebelahan dengan Anjungan Sulawesi Selatan.
Anjungan Sulawesi Tenggara TMII dibangun 1973, dan diresmikan 1975 oleh Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto. Adapun pemakarsa pembangunan TMII adalah Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto.
“Ide cemerlang Ibu Tien Soeharto telah mempersatukan khazanah budaya bangsa. Kita jadi saling kenal antar anjungan, begitu sangat luas nusantara ini. Kalau orang mau ke Kendari, bisa datang ke Anjungan Sulawesi Tenggara dulu,” ujarnya.